Jejak para Imam Ahlus Sunnah sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan mengikuti Kitab dan Sunah dengan pemahaman Salafus Shalih. Namun, kita tidak akan dapat mendengar Sunnah dan pemahaman mereka kecuali melalui sanad (rantai para rawi). Sanad ini termasuk dalam agama (Dien).
Maka perhatikanlah dari siapa kita mengambil agama kita. Orang yang paling memahami tentang sanad adalah Ashabul Hadits. Dalam tulisan ini, kita akan melihat betapa tingginya kedudukan mereka. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengarkan hadits dariku, lalu menyampaikannya" (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ad Darimi, Imam Ibnu Abi Ashim, Ibnul Abdil Barr).
Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah mengatakan: "Hadits ini adalah Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ad Darimi, Imam Ibnu Abi Ashim, Ibnul Abdil Barr, lihat As Shahihah oleh Al 'Alamah Al Albani." Hadits ini juga dinukil olehnya dalam kitab "Makanatu Ahlil Hadits" yang merujuk pada kemuliaan dan ketinggian derajat Ahlul Hadits.
Dalam kitab tersebut, Imam Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khatib Al Baghdadi menjelaskan kemuliaan Ahlul Hadits serta jasa-jasa mereka dalam membela agama ini dan menjaganya dari bid'ah. Salah satu pujian beliau kepada mereka adalah: "Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan golongan Ahlul Hadits sebagai penjaga syariat. Melalui usaha mereka,".
Dia (Allah) menghapuskan segala bid'ah yang buruk. Mereka adalah kepercayaan Allah di antara makhluk-Nya, sebagai perantara antara Nabi dan umatnya. Mereka gigih dalam menjaga agama-Nya. Cahaya mereka bersinar terang, keutamaan mereka merata, tanda-tanda mereka jelas, madzhab mereka unggul, hujjah mereka tegas.
Setelah merujuk hadits di atas, Sufyan Bin Uyainah mengatakan bahwa seseorang yang mencari hadits hanya dengan wajah yang berseri karena ucapan Nabi. Kemudian, setelah meriwayatkan hadits tentang pentingnya memuliakan Ashabul Hadits, diikuti dengan hadits bahwa Islam akan kembali menjadi asing, dan mereka yang dianggap asing akan diberkati.
Ahlul Hadits adalah golongan yang selamat, mereka yang tegak dengan kebenaran dan selalu ditolong. Mereka adalah pembela As Sunnah, pemelihara agama, dan pewaris Nabi. Mereka adalah para ulama yang mencari, memahami, dan menyampaikan hadits. Mereka adalah orang-orang yang mencari kebenaran, mengikuti sunnah Rasul, dan menyebarkan ilmu.
Ashabul Hadits adalah orang-orang yang berusaha keras untuk memahami dan menyampaikan hadits dengan benar. Mereka adalah penjaga ajaran Islam dari berbagai bid'ah dan penyelewengan. Mereka adalah pembawa cahaya di tengah-tengah umat yang tercemar bid'ah. Mereka adalah pewaris para Nabi dan orang-orang pilihan.
Mereka adalah imam-imam yang memberikan petunjuk di saat perselisihan, dan menjadi pelita di saat fitnah. Mereka adalah pewaris ajaran yang suci, yang dilindungi Allah dari serangan musuh-musuh agama. Allah memilih mereka sebagai penjaga agama dan penjaga kebenaran. Mereka adalah cahaya di tengah kegelapan, dan sumber petunjuk bagi umat Muslim.
Imam Abu Muhammad Al Hasan Ibnu Abdurrahman bin Khalad Ar Ramhurmuzi (wafat 360 H) menyatakan bahwa Hadits dan para pemeluknya (Ahlul Hadits) diberkati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka ditinggikan kedudukannya di atas semua aliran lain dan dihormati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka diutamakan atas ilmu-ilmu lain dan para pembawa Hadits diangkat namanya. Mereka adalah inti agama dan menjadi hujjah yang bersinar.
Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Al Hakim An Nisaburi (wafat 405 H) meriwayatkan dua pernyataan tentang Ahlul Hadits. Umar bin Hafs bin Ghayyats menyebut mereka sebagai penduduk bumi terbaik, sementara Abu Bakar bin Ayyash berharap Ahli Hadits adalah manusia terbaik. Keduanya benar, karena mereka telah mengorbankan dunia demi menegakkan agama ini dan memperhatikan sunnah dengan penuh gairah.
Syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali mengatakan bahwa Ashabul Hadits adalah orang-orang yang mengikuti manhaj para sahabat dan tabi'in dengan setia. Mereka teguh dalam berpegang pada kitab dan sunnah dalam segala aspek kehidupan. Mereka adalah golongan yang selamat dan selalu ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Mereka, mulai dari sahabat Nabi, tabi'in, tabi'ut tabi'in, hingga ulama terkemuka seperti Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal, adalah penjaga agama ini dari penyelewengan dan bid'ah. Mereka menegakkan aqidah yang benar dan bersikap tegas terhadap segala bentuk penyimpangan dalam agama.
Mereka adalah pembela sunnah dan membela kebenaran dengan penuh semangat. Mereka menolak segala bentuk bid'ah dan menyatakan kekafiran terhadap siapa pun yang menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Mereka adalah penjaga agama yang selalu siap melawan segala bentuk penyimpangan yang muncul, demi menjaga kemurnian ajaran Rasulullah SAW.
Orang-orang tersebut diminta untuk bertaubat, jika tidak, mereka akan dipenggal kepala. Rabi' bin Sulaiman Al Muradi, sahabat Imam Syafi'i, pernah mengatakan bahwa ketika Haf Al Fardi berbicara dengan Imam Syafi'i dan mengatakan bahwa Al Qur'an adalah makhluk, Imam menjawab bahwa dia telah mengkafirkan Allah Yang Maha Agung. Imam Malik pernah ditanya tentang bagaimana Allah bersemayam di atas 'Arsy-Nya, dan dia menjawab bahwa cara bersemayam-Nya sudah diketahui, sedangkan caranya tidak diketahui. Pertanyaan tentang hal itu adalah bid'ah, dan dia tidak melihat orang itu kecuali sebagai Ahli Bid'ah. Seseorang bahkan dikeluarkan dari majelisnya karena menjadi seorang Murji'ah.
Said bin Amir mengatakan bahwa Al Jahmiyyah memiliki ucapan yang lebih buruk daripada Yahudi dan Nashrani, karena meskipun mereka sepakat bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy-Nya, mereka mengatakan bahwa tidak ada apa pun di atas 'Arsy. Ibnul Mubarak menyatakan bahwa mereka tidak setuju dengan ucapan Jahmiyyah bahwa Allah berada di bumi, melainkan bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy-Nya. Ketika ditanya bagaimana kita mengenal Tuhan kita, dia mengatakan bahwa Dia bersemayam di atas 'Arsy. Imam Bukhari bahkan mengatakan bahwa dia belum pernah melihat sesuatu yang lebih sesat dalam kekafiran selain Jahmiyyah.
Imam Syafi'i pernah mengatakan bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tidak dapat ditolak oleh siapapun. Barangsiapa yang menyangkalnya setelah hujjahnya tegak, dia telah kafir. Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi juga mengatakan bahwa tidak seorang pun dari Ahli Ilmu yang menyangkal hadits tentang sifat-sifat Allah, seperti turunnya Allah ke langit dunia setiap malam.
Para ulama Ashabul Hadits dianggap sebagai penjaga Dien dan sunnah Nabi, serta membela Dien dari penyelewengan dan kesesatan. Mereka membela dan menjaga Dien dari penyelewengan, kesesatan, dan kedustaan oleh orang-orang munafiqin dan Ahlul Bid'ah. Al-Khatib Al Baghdadi bahkan menyatakan bahwa pasukan inti dalam Dien ini adalah Ashabul Hadits.
Semoga Allah memberkahi para ulama Ashabul Hadits atas usaha mereka dalam membela aqidah dan pemahaman yang benar, serta menjaga sunnah Nabi. Akhirnya, marilah kita mendengarkan perkataan Imam Syafi'i bahwa jika kita melihat seseorang dari Ashabul Hadits, seolah-olah kita melihat Nabi hidup kembali. Semoga Allah mengampuni kita dan saudara-saudara kita yang lebih dulu beriman daripada kita, dan janganlah Dia menanamkan kebencian di hati kita terhadap mereka. Amien.





0 comments:
Posting Komentar