Assalamualaikum kepada para pembaca. Selawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Praise be to Allah, saya masih diberi kesempatan untuk berbagi sesuatu dengan pembaca semua. Artikel kali ini tentang berkah kejujuran.
Imam al-Bukhari sangat memperhatikan kejujuran. Ada sebuah kisah terkenal yang terjadi dalam kehidupan Imam al-Bukhari ketika beliau pergi untuk mendapatkan hadis dari seorang guru. Saat bersama guru itu, beliau melihat kuda milik guru tiba-tiba enggan datang, sehingga guru tersebut mencoba untuk memikat kuda itu dengan selembar kain. Imam al-Bukhari melihat seolah-olah di dalamnya terdapat gandum.
Beliau ingin tahu, lalu bertanya: "Apakah kain itu mengandung gandum?" Lelaki itu menjawab: "Tidak. Aku hanya mencoba untuk memikatnya." Maka Imam al-Bukhari berkata: "Aku tidak akan mengambil hadis dari seseorang yang berbohong, bahkan kepada hewan."
Oleh karena itu, seperti yang kita ketahui, koleksi hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari menduduki tempat yang paling tinggi dalam bidang sahih dan sangat tepercaya. Beliau sangat memperhatikan kejujuran, baik dalam dirinya maupun orang lain.
Bersedekahlah kepada Allah, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadamu.
Syadad bin Hadi menceritakan bahwa ada seorang lelaki Badwi datang kepada Rasulullah s.a.w. Dia memeluk Islam dan mengikuti ajaran Baginda. Lelaki itu kemudian meminta izin kepada Nabi s.a.w. untuk bergabung dengannya. Nabi memberikan izin kepadanya untuk ikut serta dalam peperangan.
Setiap kali Nabi mendapatkan harta rampasan, beliau selalu mengatur pembagian harta tersebut. Saat lelaki Badwi tersebut mendapat bagian, dia menerima pemberian tersebut namun kemudian menyerahkannya kepada Nabi s.a.w.
Nabi bertanya, "Apa ini?"
Lelaki Badwi itu menjawab, "Bagian ini aku berikan kepadamu. Aku tidak mengikuti kamu untuk ini, tapi aku mengikuti kamu untuk mati syahid," katanya sembari menunjuk lehernya. Dari sikapnya tersebut, terlihat bahwa dia menginginkan syahid dan masuk surga.
Nabi bersabda, "Jika kamu jujur kepada Allah, maka Allah akan bersikap jujur kepadamu."
Beberapa waktu kemudian, lelaki Badwi itu dibawa ke hadapan Nabi karena terkena anak panah di lehernya. Nabi bertanya, "Apakah orang yang terkena anak panah itu dia?" Para sahabat menjawab, "Ya, wahai Nabi."
Nabi menjelaskan, "Dia telah jujur kepada Allah, maka Allah akan bersikap jujur kepadanya."
Nabi mengkafani jenazahnya dengan jubahnya sendiri, lalu mengerjakan salat jenazah. Nabi memohon dalam doanya, "Ya Allah, ini adalah hamba-Mu yang berhijrah untuk membela agama-Mu. Dia gugur sebagai syahid. Aku bersaksi atas kesyahidannya."
Semua orang pasti menginginkan mati syahid. Namun, Allah tidak akan memberikan ganjaran ini kepada seseorang kecuali jika dia memohon dengan tulus dan berusaha sungguh-sungguh untuk meraihnya.
Aku Menikahkan Kamu Karena Kejujuranmu
Muazin Rasulullah; Bilal bin Rabah al-Habashi memiliki seorang saudara yang berharap untuk menikahi seorang gadis dari bani Makhzum.
Bani Makhzum adalah sebuah kabilah yang dihormati karena kedudukan dan keturunan mereka. Bagi mereka, seseorang seperti Bilal dianggap tidak pantas untuk menjadi bagian dari keluarga gadis tersebut. Namun, ketika saudaranya meminta Bilal untuk melamar gadis itu untuknya, Bilal menerima tawaran tersebut.
Akhirnya, mereka berdua pergi menemui seorang tokoh terkemuka dari kabilah Makhzum. Bilal menjelaskan niat saudaranya untuk meminang salah satu dari putri mereka. Dia berkata, "Hormatilah suku Makhzum yang terhormat, kalian mengenal kami. Dahulu kami adalah keturunan hamba, tetapi Allah telah memerdekakan kami. Dahulu kami tersesat, tetapi Allah telah menunjukkan kebenaran kepada kami. Dahulu kami fakir, tetapi Allah telah memberi kami cukup. Saya datang untuk melamar putri kalian untuk saudaraku, segala puji bagi Allah. Jika kalian menolak lamaran kami, maka Allah akan memberkahi kami."
Mereka menyambut kedatangan Bilal dan saudaranya dengan hormat. Mereka berkata, "Selamat datang di rumah kami, wahai muazin Rasulullah." Mereka menerima lamaran saudara Bilal.
Setelah pulang, saudara Bilal mengatakan, "Bilal, beruntung kamu tidak mengungkapkan sikap kita terhadap Islam kepada mereka. Meskipun kita sudah lama berinteraksi dengan Rasulullah, iman kita belum dalam tingkat yang mereka kira."
"Biarlah. Aku membantu kamu melamar karena kejujuranmu," jawab Bilal.





0 comments:
Posting Komentar