Senin, 23 Februari 2026

Bersikap sopan kepada Tuhan, jangan biadab kepada sesama manusia

Posted By: Aa channel media - Februari 23, 2026


Bismillahirrahmanirrahim.. Assalamualaikum wr. wb. kepada semua pembaca. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah dan salam sejahtera untuk Nabi Muhammad s.a.w. Pada hari yang berkat ini, tanggal 12 Februari 2026, saya ingin berbagi artikel yang berjudul Menjaga Sikap Santun dengan Allah dan Sesama Manusia.

Menjaga hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan juga menjaga hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas) merupakan suatu keharusan bagi hamba Allah yang ingin meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Namun, seringkali terjadi di masyarakat saat ini bahwa ada orang yang mampu membangun hubungan yang baik dengan Allah, namun tidak mampu melanjutkan kebaikan tersebut ketika berhubungan dengan sesama manusia.

Perintah Allah dalam hal ini sangat jelas, sebagaimana firman Allah yang artinya: "Mereka akan ditimpa kehinaan di mana saja berada, kecuali jika mereka berpegang pada 'tali' Allah (agama Allah) dan 'tali' dari manusia (menjaga janji dengan manusia)." (Surah Ali Imran 3:112)

Kita harus menjalani kehidupan ini dengan seimbang. Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu bersama manusia daripada bersama Allah, namun jangan juga mengabaikan hak-hak sesama manusia.

Hak Sesama Muslim
Setiap individu memiliki hak terhadap individu lain. Hak anak terhadap ibu dan ayah, guru terhadap murid, istri terhadap suami, tetangga terhadap tetangga, dan sebagainya. Oleh karena itu, kita harus memenuhi tanggung jawab dengan memenuhi hak-hak mereka. Misalnya, terhadap tetangga, kita harus menjaga adab terhadap mereka dan menghindari menyakiti mereka dengan cara apapun.

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah ditanya: "Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang melakukan shalat malam dan puasa siang, namun dia mengatakan bahwa dia telah menyakiti tetangganya." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Tidak ada kebaikan sedikit pun dalam perbuatannya, dan dia akan masuk neraka." (Hadis riwayat al-Hakim dalam al-Murtadrak).

Seringkali kita memilih jalan yang mudah dalam membangun hubungan untuk memuaskan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kita menginginkan hati kita dijaga, namun tidak memedulikan hati orang lain. Sebenarnya, kewajiban kita adalah memenuhi tanggung jawab terhadap mereka yang berhak.

Manusia Hipokrasi
Mari kita lihat suasana di dalam masjid di mana umat Muslim berkumpul dengan tertib dan sopan santun. Panggilan untuk solat dari bilal disambut dengan antusias, dengan jemaah sibuk menyusun barisan dan meminta jemaah lain untuk merapatkan saf.

Namun, di luar masjid, keadaannya berbeda. Mobil para jemaah diparkir dengan sembarangan di pinggir jalan tanpa keteraturan. Beberapa mobil bahkan menghalangi akses jalan, diparkir di depan pintu rumah orang lain, atau bahkan diparkir di tengah jalan sehingga mengganggu kendaraan orang lain. Alasannya? Mereka ingin segera sampai ke masjid. Setelah selesai solat, mereka sibuk berzikir hingga melupakan mobil mereka yang menghalangi jalan.

Sama halnya ketika bertemu di masjid, kita saling menyapa dengan salam. Namun sayangnya, ketika bertemu sesama Muslim di luar, misalnya di toko, pasar malam, atau di tempat lain, kita seringkali tidak mengucapkan salam terlebih dahulu kepada sesama Muslim yang kita temui. Berbeda dengan Barat yang memiliki budaya salam sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Rasulullah s.a.w. sendiri telah mengajarkan tentang kasih sayang dan cinta sesama makhluk Allah. Ketika kembali dari perang Tabuk ke Madinah, Beliau menunjuk ke arah gunung Uhud dan bersabda, bahwa ini adalah Thabah dan ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya.

Ingatlah, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita selama kita bertaubat dengan tulus. Namun, kita tidak akan mendapatkan pengampunan dari manusia jika kita berbuat salah kepada mereka, kecuali jika kita meminta maaf dan mereka mengampuni kita. Jaga hubungan sesama manusia karena kita mungkin tidak akan mendapat pengampunan meskipun meminta dengan sungguh-sungguh.


 

0 comments:

Posting Komentar