Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, bahwa tidak seorang pun boleh berbicara di dalam buaian kecuali tiga orang, di antaranya adalah Isa bin Maryam dan bayi yang terkait dalam kisah Juraij.
Juraij adalah seorang ahli ibadah pada masa Bani Israel dari golongan umat Nabi Isa a.s. Dia begitu tekun dalam beribadah sehingga sebuah tempat ibadah didirikan khusus untuknya. Juraij memilih untuk menjauh dan hidup terasing di tempat tersebut.
Suatu hari, ibu Juraij datang mencarinya di tempat ibadah ketika dia sedang dalam keadaan shalat. Ibu Juraij memanggil, "Juraij!" Namun Juraij hanya berdoa dalam hati, "Ya Allah, ibuku memanggil padahal aku sedang shalat." Dan dia memutuskan untuk meneruskan shalatnya hingga ibunya pergi.
Keesokan harinya, ibunya kembali lagi saat Juraij sedang shalat. Ibu Juraij memanggilnya, "Juraij!" Namun Juraij tetap fokus dalam shalatnya, sambil berdoa dalam hati, "Ya Allah, ibuku memanggil padahal aku sedang shalat." Dan kembali Juraij memilih untuk melanjutkan shalatnya hingga ibunya pergi.
Pada hari ketiga, ibunya kembali lagi saat Juraij tengah dalam shalat. Ibu Juraij memanggil, "Juraij!" Juraij sekali lagi berdoa dalam hati, "Ya Allah, ibuku memanggil padahal aku sedang shalat." Meskipun ibunya agak kecewa dengan sikap Juraij, namun Juraij tetap melanjutkan shalatnya.
Akhirnya, ibu Juraij merasa begitu kecewa hingga akhirnya dia berdoa, "Ya Allah, janganlah Engkau ambil nyawa Juraij kecuali setelah dia diuji dengan fitnah dari wanita pelacur!"
Sejak itu, masyarakat mulai mengisahkan kisah Juraij dan ibadahnya. Pada suatu waktu, ada seorang wanita pelacur yang sangat cantik dan menarik di antara mereka. Dia berkata, "Ayo, biarkan aku goda Juraij untuk kalian." Wanita itu kemudian menawarkan dirinya kepada Juraij, namun Juraij sama sekali tidak peduli. Akhirnya, wanita itu mendekati seorang penggembala kambing yang berada di dekat tempat ibadah Juraij. Mereka berdua terlibat dalam hubungan yang tidak benar.
Beberapa bulan kemudian, wanita pelacur itu hamil. Setelah bayi lahir, wanita tersebut dengan bangga mengumumkan kepada masyarakat bahwa bayi itu adalah hasil dari hubungan zina dengan Juraij. Masyarakat pun langsung menyalahkan dan menghukum Juraij tanpa bukti yang jelas.
Meskipun disiksa, diejek, dan dihina, Juraij dengan tenang bertanya mengapa mereka begitu yakin tanpa bukti yang kuat. Juraij kemudian meminta bayi itu dibawa kepadanya. Sebelum memberikan penjelasan, Juraij meminta izin untuk menunaikan salat terlebih dahulu. Kemudian, dia bertanya kepada bayi itu siapa ayahnya.
Tiba-tiba, bayi kecil itu menjawab bahwa ayahnya adalah penggembala kambing. Masyarakat terkejut mendengar jawaban itu dan memohon maaf kepada Juraij atas tuduhan yang salah. Mereka bersedia membangun kembali tempat ibadahnya yang telah dirobohkan, namun Juraij menolak dan meminta agar dibangun kembali dengan tanah seperti semula.
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah pentingnya taat kepada orang tua untuk menghindari musibah, serta bagaimana seorang yang baik akan melindungi dirinya dengan salat dan kesabaran ketika dihadapi dengan cobaan dan fitnah.





0 comments:
Posting Komentar