Kamis, 04 Desember 2025

Candi Prambanan

Posted By: Aa channel media - Desember 04, 2025

Candi Prambanan atau juga dikenal dengan sebutan Rara Jonggrang merupakan bangunan candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi. Candi ini didedikasikan untuk Trimurti, yaitu tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha, yang berarti 'Rumah Siwa' dalam bahasa Sanskerta. Di ruang utama candi ini, terdapat arca Siwa Mahadewa yang setinggi tiga meter, menunjukkan pengutamaan pemujaan dewa Siwa dalam aliran Syaiwa.

Kompleks candi Prambanan terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, namun pintu administrasinya berada di Jawa Tengah. Candi Prambanan terletak di dua lokasi, yaitu di Desa Bokoharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan di Tlogo, Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini terletak sekitar 17 kilometer timur laut dari Kota Yogyakarta, 50 kilometer barat daya dari Kota Surakarta, dan 120 kilometer selatan dari Kota Semarang, tepat di perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Candi yang termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO ini adalah candi Hindu terbesar di Indonesia dan juga salah satu candi tercantik di Asia Tenggara. Bangunan ini memiliki arsitektur yang tinggi dan ramping, sesuai dengan gaya arsitektur Hindu pada umumnya. Candi utama, yaitu candi Siwa, memiliki tinggi mencapai 47 meter dan menjulang di tengah kompleks candi-candi kecil lainnya. Sebagai salah satu candi terindah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi tujuan wisata yang menarik bagi pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Berdasarkan prasasti Siwagrha, pembangunan candi ini dimulai sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan, kemudian terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu pada masa Kerajaan Medang Mataram.

Etimologi nama Prambanan berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri. Diduga nama ini merupakan perubahan dari istilah dalam bahasa Jawa, yaitu "Para Brahman" yang berarti "Brahman Agung", merujuk pada realitas abadi tertinggi dalam agama Hindu. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa nama tersebut bisa merujuk pada masa jaya candi ini yang dipenuhi oleh para brahmana. Selain itu, ada anggapan bahwa "Prambanan" berasal dari kata "mban" dalam Bahasa Jawa yang artinya "menanggung tugas", mengacu pada para dewa Hindu yang bertugas menjaga keselarasan jagat.

Nama lain dari Prambanan diartikan sebagai "5 gunung", yang dalam bahasa Khmer/Kamboja adalah "Pram banam", menggambarkan 5 puncak gunung Himalaya di India. Ada cerita bahwa Bangsa Jawa pernah menjajah Khmer selama 200 tahun dan pahlawan Jayawarman ke 2 yang membebaskan Khmer dari dominasi Jawa.

Nama asli kompleks candi Hindu ini dalam Bahasa Sanskerta adalah Siwagrha (Rumah Siwa) atau Siwalaya (Alam Siwa), seperti yang tertulis dalam Prasasti Siwagrha tahun 778 Saka (856 Masehi). Trimurti dipuja dalam candi ini dengan tiga candi utama yang masing-masing menghormati Brahma, Siwa, dan Wisnu. Namun, Siwa Mahadewa adalah dewa yang paling dihormati dalam kompleks candi ini.

Menurut J. Gronemen (1887), nama "Prambanan" berasal dari kata "ramban" yang berarti mengumpulkan dedaunan untuk keperluan rumah tangga atau obat-obatan. Penjelasan ini mengenai asal usul nama candi Prambanan disajikan secara sederhana dan alamiah, tanpa perlu mencari penjelasan yang lain.

Sejarah Pembangunan Candi Prambanan di antara kabut pagi begitu memukau. Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa kuno. Pembangunan candi ini dimulai oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan sebagai saingan dari candi Buddha Borobudur dan candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan. Dengan dibangunnya candi agung Hindu ini, keluarga Sanjaya kembali berkuasa di Jawa, menandai dukungan Hinduisme aliran Saiwa dari keluarga kerajaan. Candi ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan terus disempurnakan oleh raja-raja berikutnya seperti Raja Lokapala dan Raja Sri Maharaja Dyah Balitung Maha Sambu.

Bangunan suci ini dipersembahkan untuk memuliakan dewa Siwa dan dikenal dengan nama Siwagrha atau Siwalaya. Selama pembangunan, dilakukan juga perubahan tata air untuk memindahkan aliran sungai Opak yang terlalu dekat dengan kompleks candi. Proyek tata air dilakukan dengan membuat sodetan sungai baru untuk melindungi konstruksi candi. Beberapa arkeolog menduga bahwa arca Siwa di dalam candi merupakan perwujudan raja Balitung. Candi ini berfungsi sebagai candi agung Kerajaan Mataram dan tempat digelarnya berbagai upacara penting kerajaan.

Kompleks bangunan ini terus disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya, seperti raja Sri Maharaja Dyah Daksa dan Sri Maharaja Dyah Tulodong, dengan membangun ratusan candi tambahan di sekitar candi utama. Pada masa kejayaannya, ratusan pendeta brahmana dan murid-muridnya berkumpul dan menghuni pelataran luar candi ini untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan berbagai ritual Hindu. Keraton Kerajaan Mataram diduga terletak di dekat Prambanan di Dataran Kewu.

Pada sekitar tahun 930-an, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Jawa Timur oleh Sri Maharaja Mpu Sindok, yang mendirikan Wangsa Dinasti Isyana. Alasan di balik pemindahan pusat kekuasaan ini tidak dapat dipastikan. Namun, kemungkinan besar disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang kuat, yang terletak sekitar 20 kilometer di utara candi Prambanan. Kemungkinan lainnya adalah konflik dan persaingan kekuasaan. Setelah ibu kota dipindahkan, candi Prambanan mulai ditinggalkan dan tidak terawat, sehingga lambat laun candi ini mulai rusak dan runtuh.

Bangunan candi ini diyakini benar-benar hancur akibat gempa bumi hebat pada abad ke-16. Meskipun tidak lagi menjadi tempat pemujaan dan ibadah umat Hindu, candi ini masih dikenal dan diakui keberadaannya oleh penduduk Jawa yang tinggal di sekitar desa. Candi-candi dan arca Durga di dalam bangunan utama candi ini menjadi inspirasi bagi cerita rakyat Jawa, yaitu legenda Rara Jonggrang. Sejak pecahnya Kesultanan Mataram pada tahun 1755, reruntuhan candi dan Sungai Opak di dekatnya menjadi pembatas antara wilayah Kesultanan Yogyakarta (Jogja) dan Kasunanan Surakarta (Solo).

Penemuan kembali
Masyarakat sekitar candi sudah mengetahui keberadaan candi ini. Namun, mereka tidak memahami latar belakang sejarah sebenarnya, atau siapa raja dan kerajaan yang membangun monumen ini. Sebagai hasil dari imajinasi, penduduk setempat menciptakan cerita rakyat atau legenda lokal untuk menjelaskan asal-usul candi ini; dengan kisah-kisah fantastis tentang raja raksasa, ribuan candi yang dibangun oleh makhluk halus seperti jin dan dedemit dalam waktu semalam, serta putri cantik yang dikutuk menjadi arca. Legenda tentang candi Prambanan dikenal sebagai kisah Rara Jonggrang.

Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons, seorang Belanda. Candi ini menarik perhatian dunia selama masa pendudukan Britania di Jawa. Colin Mackenzie, seorang surveyor bawahan Sir Thomas Stamford Raffles, menemukan candi ini. Meskipun Sir Thomas kemudian memerintahkan penyelidikan lebih lanjut, reruntuhan candi ini tetap terbengkalai selama beberapa puluh tahun. Penggalian yang tidak serius dilakukan pada tahun 1880-an malah memicu praktik penjarahan ukiran dan batu candi. Pada tahun 1855, Jan Willem IJzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. Beberapa waktu kemudian, IsaƤc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran, dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Arca-arca dan relief candi diambil oleh warga Belanda untuk dijadikan hiasan taman, sementara warga pribumi menggunakan batu candi untuk bangunan dan fondasi rumah.

Pemugaran
Pemugaran dimulai pada tahun 1918, tetapi upaya serius sebenarnya dimulai pada tahun 1930-an. Pada tahun 1902-1903, Theodoor van Erp memperbaiki bagian-bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin melanjutkan pemugaran dengan cara yang lebih sistematis sesuai kaidah arkeologi. Sebagaimana pendahulunya, melakukan pemindahan dan pembongkaran batu secara sembarangan tanpa pemikiran tentang pemugaran kembali. Pada tahun 1926, De Haan melanjutkan pekerjaan hingga meninggal pada tahun 1930. Pada tahun 1931, Ir. V.R. van Romondt mengambil alih hingga 1942, kemudian kepemimpinan renovasi diserahkan kepada putra Indonesia, terus berlanjut hingga tahun 1993.

Restorasi terus dilakukan hingga saat ini. Pemugaran candi Siwa, candi utama dalam kompleks ini, selesai pada tahun 1953 dan diresmikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno. Beberapa bagian candi direstorasi menggunakan batu baru karena banyak batu asli yang dicuri atau dipakai ulang. Sebuah candi hanya akan direstorasi jika setidaknya 75% batu aslinya masih ada. Oleh karena itu, banyak candi kecil yang tidak dibangun kembali dan hanya fondasinya yang terlihat. Saat ini, candi ini termasuk dalam Situs Warisan Dunia yang dilindungi UNESCO, status ini diberikan pada tahun 1991. Beberapa bagian candi Prambanan sedang direstorasi untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa Yogyakarta 2006, yang merusak sejumlah bangunan dan patung.

Pada awal tahun 1990-an, pemerintah memindahkan pasar dan kampung yang berdiri di sekitar candi secara liar. Mereka menggusur kawasan perkampungan dan sawah di sekitar candi, kemudian mengubahnya menjadi taman purbakala. Kawasan taman purbakala ini termasuk seluruh kompleks candi Prambanan, seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Sewu. Pada tahun 1992, Pemerintah Indonesia membentuk PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko untuk mengelola taman wisata purbakala di daerah tersebut.

Di seberang sungai Opak, dibangun kompleks panggung dan gedung pertunjukan Trimurti yang secara rutin menggelar pertunjukan Sendratari Ramayana. Panggung terbuka Trimurti ini menjadi daya tarik wisata budaya utama di Indonesia, terutama pada musim kemarau. Setelah pemugaran besar-besaran pada tahun 1990-an, Prambanan kembali menjadi pusat ibadah agama Hindu di Jawa.

Namun, pada 27 Mei 2006, gempa bumi mengguncang daerah Bantul dan sekitarnya, termasuk Prambanan. Gempa ini menyebabkan kerusakan hebat pada banyak bangunan, termasuk kompleks Candi Prambanan. Meskipun kerusakan signifikan terjadi pada Candi Brahma, situs ini kembali dibuka untuk kunjungan wisatawan setelah beberapa minggu. Pada tahun 2008, Prambanan dikunjungi oleh ribuan wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Dengan adanya kebangkitan nilai keagamaan, Prambanan kembali menjadi tempat ibadah bagi masyarakat Hindu di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tiap tahun, warga Hindu berkumpul di candi ini untuk menggelar upacara pada hari-hari suci mereka. Pada tahun 2009, pemugaran candi Nandi selesai dilakukan, sementara ruang dalam candi utama ditutup dari kunjungan demi alasan keamanan.

Pintu masuk ke kompleks bangunan ini terletak di keempat penjuru mata angin, namun arah hadap bangunan adalah ke arah timur, sehingga gerbang timur menjadi pintu masuk utama ke candi ini. Kompleks Candi Prambanan terdiri dari berbagai bagian, termasuk 3 Candi Trimurti yang didedikasikan untuk Siwa, Wisnu, dan Brahma, 3 Candi Wahana untuk Nandi, Garuda, dan Angsa, serta 2 Candi Apit yang berada di antara Candi Trimurti dan Wahana di sisi utara dan selatan.

Selain itu, ada juga 4 Candi Kelir yang terletak di keempat penjuru mata angin di zona inti, serta 4 Candi Patok yang berada di empat sudut zona inti. Ada juga 224 Candi Perwara yang tersusun dalam empat barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68, sehingga total terdapat 240 candi di kompleks Prambanan.

Meskipun aslinya terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan, saat ini hanya tersisa 18 candi, termasuk 8 candi utama, 8 candi kecil di zona inti, dan 2 candi perwara. Kompleks candi ini terbagi menjadi tiga zona: zona luar, zona tengah yang berisi ratusan candi, dan zona dalam yang merupakan tempat delapan candi utama dan delapan kuil kecil.

Denah kompleks candi Prambanan berbasis lahan bujur sangkar dengan tiga zona yang masing-masing dibatasi tembok batu andesit. Zona terluar memiliki pagar bujur sangkar dengan panjang 390 meter di setiap sisinya, berorientasi Timur Laut - Barat Daya. Meskipun masih banyak yang hilang, zona luar ini kemungkinan berfungsi sebagai taman suci atau asrama Brahmana dan murid-muridnya.

Candi Prambanan merupakan salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, selain Angkor Wat. Trimurti yang dipersembahkan kepada Siwa, Wisnu, dan Brahma sangat dihormati di kompleks candi ini, dengan Candi Siwa sebagai bangunan utama yang tertinggi dan menjulang setinggi 47 meter.

Candi Siwa, sebagai candi utama di kompleks candi Prambanan yang didedikasikan untuk dewa Siwa, merupakan bangunan terbesar dan tertinggi di kompleks candi Rara Jonggrang. Candi ini memiliki delapan candi utama di dalam halaman yang suci, termasuk tiga candi Trimurti yang masing-masing dipersembahkan untuk Brahma Sang Pencipta, Wishnu Sang Pemelihara, dan Siwa Sang Pemusnah.

Candi Siwa memiliki puncak yang dihiasi dengan wajra yang melambangkan intan atau halilintar, yang merupakan simbol Hindu yang mirip dengan stupa. Relief di dinding candi ini menggambarkan kisah Ramayana dan pengunjung dapat mengikuti kisah ini dengan berputar mengelilingi candi sesuai arah jarum jam. Di dalam candi, terdapat lima ruangan yang masing-masing menyimpan arca-arca yang berkaitan dengan Siwa, termasuk arca Siwa Mahadewa yang tinggi tiga meter.

Arca Siwa Mahadewa ini dianggap sebagai perwujudan raja Balitung sebagai dewa Siwa, dan ketika raja ini wafat, arwahnya dianggap bersatu kembali dengan dewa penitisnya yaitu Siwa. Arca ini digambarkan dengan simbol-simbol Siwa, seperti chandrakapala, jatamakuta, dan trinetra. Selain itu, terdapat arca-arca lain di ruangan yang lebih kecil yang berkaitan dengan Siwa, seperti Resi Agastya dan Durga Mahisasuramardini.

Nama kompleks candi Prambanan juga dikenal dengan nama lain, yaitu Loro Jonggrang atau Gadis Semampai, yang merupakan tokoh utama dalam cerita rakyat Jawa. Namun, dalam buku Thomas Raffles, kompleks candi ini disebut sebagai "candi induk di Jongrangan". Nama-nama ini mencerminkan keindahan dan keagungan kompleks candi Prambanan yang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang patut dilestarikan.

Candi Brahma dan Candi Wisnu adalah dua candi yang dipersembahkan kepada Dewa Wisnu dan Dewa Brahma. Kedua candi ini terletak di sisi utara dan selatan, menghadap ke timur, dan berukuran sama besar, dengan tinggi 33 meter dan lebar 20 meter. Candi Brahma menyimpan arca Brahma, sedangkan Candi Wisnu menyimpan arca Wisnu yang tingginya hampir mencapai 3 meter.

Di depan candi Trimurti, terdapat tiga candi lebih kecil yang dipersembahkan kepada kendaraan dewa-dewa: Nandi untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Candi-candi ini terletak tepat di depan dewa yang mereka persembahkan. Di antara keenam candi utama ini terletak Candi Apit, yang memiliki ukuran hampir sama dengan candi perwara. Selain itu, terdapat juga candi kecil seperti Candi Kelir dan Candi Patok, serta 224 Candi Perwara yang berfungsi sebagai pengawal atau pelengkap.

Candi Perwara disusun dalam empat baris konsentris, dengan total 224 candi. Setiap candi perwara memiliki tinggi 14 meter dan tapak denah 6 x 6 meter. Atap candi perwara berbentuk ratna, melambangkan permata. Dibangun dengan desain seragam, candi perwara mungkin merupakan persembahan dari penguasa daerah kepada raja, atau mewakili empat kasta dengan barisan candi untuk brahmana, ksatriya, waisya, dan sudra. Hingga kini, sebagian candi perwara telah dipugar untuk dilestarikan.

Arsitektur candi Prambanan mengikuti tradisi arsitektur Hindu yang terinspirasi dari Kitab Wastu Sastra/Kitab Silpastra. Denah candi ini mengikuti pola mandala dan bentuknya yang tinggi menjulang mencerminkan ciri khas candi Hindu. Candi Prambanan, yang juga dikenal sebagai Siwagrha, dirancang menyerupai rumah Siwa yang mengikuti bentuk gunung suci Mahameru tempat para dewa bersemayam. Seluruh kompleks candi ini mengikuti konsep alam semesta dalam kosmologi Hindu, terbagi menjadi beberapa lapisan ranah atau Loka.

Seperti Borobudur, Prambanan juga memiliki zona-zona candi mulai dari yang kurang suci hingga yang paling suci. Meskipun memiliki nama yang berbeda, konsep Hindu dan Buddha dalam candi ini pada dasarnya hampir sama. Baik secara horisontal maupun vertikal, lahan denahnya terbagi menjadi tiga zona:

1. Bhurloka (Kamadhatu dalam Buddhisme): ranah terendah dimana makhluk fana seperti manusia, hewan, hantu, dan iblis tinggal. Di ranah ini, manusia masih terikat pada nafsu, hasrat, dan kehidupan yang kurang suci. Halaman terlar dan kaki candi melambangkan ranah Bhurloka.

2. Bwahloka (Rupadhatu dalam Buddhisme): alam tengah dimana orang suci, resi, pertapa, dan dewata rendahan tinggal. Di alam ini, manusia mulai melihat cahaya kebenaran. Halaman tengah dan tubuh candi melambangkan ranah Bwahloka.

3. Swahloka (Arupadhatu dalam Buddhisme): ranah tertinggi dan tersuci dimana para dewa dan bidadari bersemayam, juga dikenal sebagai Swargaloka. Halaman dalam dan atap candi melambangkan ranah Swahloka. Atap candi di Prambanan dihiasi dengan kemuncak mastaka berupa ratna yang merupakan simbol intan atau halilintar.

Selama proses pemugaran, ditemukan sumur di bawah arca Siwa dengan pripih (kotak batu) di dasarnya. Sumur ini berisi pripih yang berisi benda-benda suci seperti lembaran emas dengan aksara Baruna dan Parwata, serta benda-benda berharga lainnya seperti uang kuno, permata, kaca, emas, perak, dan cangkang kerang.

Relief Ramayana dan Krishnayana
Candi ini dihiasi dengan relief naratif yang menceritakan epos Hindu; Ramayana dan Krishnayana. Relief ini menghiasi dinding sebelah dalam pagar langkan sepanjang lorong galeri yang mengelilingi tiga candi utama. Cerita yang terukir dalam relief ini dibaca dari kanan ke kiri dengan gerakan searah jarum jam mengitari candi, sesuai dengan ritual pradaksina yang dilakukan oleh peziarah. Kisah Ramayana dimulai di sisi timur candi Siwa dan berlanjut ke candi Brahma, sementara cerita Krishnayana terdapat di pagar langkan candi Wisnu yang mengisahkan kehidupan Krishna sebagai salah satu awatara Wishnu.

Relief Ramayana menggambarkan penculikan Shinta, istri Rama, oleh Rahwana dan peran Hanuman dalam membantu Rama mencari Shinta. Kisah ini juga dipentaskan dalam Sendratari Ramayana, pertunjukan wayang orang Jawa yang rutin digelar di panggung terbuka Trimurti setiap malam bulan purnama dengan latar belakang tiga candi utama yang dipancarkan cahaya lampu.

Lokapala, Brahmana, dan Dewata

Di seberang panel naratif relief, di atas tembok tubuh candi di sepanjang galeri, terdapat arca-arca dan relief yang menggambarkan para dewata dan resi brahmana. Arca dewa-dewa lokapala, penjaga penjuru mata angin, dapat ditemukan di candi Siwa, sementara arca para brahmana penyusun kitab Weda terletak di candi Brahma. Di candi Wishnu, terdapat arca dewata yang diapit oleh dua apsara atau bidadari kahyangan.

Panil Prambanan: Singa dan Kalpataru
Di dinding luar candi, terdapat barisan relung yang menyimpan arca singa diapit oleh dua panil yang menggambarkan pohon hayat kalpataru. Pohon suci ini dianggap dalam mitologi Hindu-Buddha sebagai pohon yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan manusia. Di sekitar pohon Kalpataru, terdapat pasangan kinnara-kinnari atau pasangan hewan lainnya seperti burung, kijang, domba, monyet, kuda, gajah, dan lainnya. Pola singa diapit kalpataru ini merupakan pola khas yang hanya ditemukan di Prambanan, dikenal sebagai "Panel Prambanan".

Museum Prambanan Jawa Tengah

Di dalam kompleks taman purbakala candi Prambanan terdapat museum yang menyimpan berbagai temuan benda bersejarah purbakala. Museum ini terletak di sisi utara Candi Prambanan, antara candi Prambanan dan candi Lumbung, dengan arsitektur tradisional Jawa. Koleksi museum ini mencakup berbagai batu candi, arca, dan temuan lainnya di sekitar candi Prambanan seperti arca lembu Nandi, resi Agastya, Siwa, Wishnu, Garuda, dan arca Durga Mahisasuramardini serta batu Lingga Siwa. Replika harta karun emas temuan Wonoboyo, mangkuk berukir Ramayana, gayung, tas, uang, dan perhiasan emas juga dipamerkan di sini. Temuan asli Wonoboyo disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Museum ini juga memajang replika arsitektur candi seperti Prambanan, Borobudur, dan Plaosan. Pengunjung taman purbakala Prambanan dapat masuk ke museum ini tanpa biaya tambahan karena tiket masuk taman wisata sudah termasuk akses ke museum. Museum ini juga menampilkan pertunjukan audio visual mengenai candi Prambanan.

Candi dan situs purbakala di sekitar Dataran Kewu

Candi Sewu, candi Buddha yang terletak dalam kompleks Taman Purbalaka Prambanan, terhubung dengan legenda Rara Jonggrang.

Dataran Kewu atau dataran Prambanan adalah daerah subur yang terbentang antara lereng selatan gunung Merapi di utara dan pegunungan kapur Sewu di selatan, dekat perbatasan Sleman dan Klaten. Selain candi Prambanan, lembah dan dataran sekitar Prambanan kaya akan peninggalan arkeologi candi Buddha dan candi Hindu tertua di Indonesia. Candi Prambanan dikelilingi oleh candi Buddha. Di dekat candi Prambanan, terdapat reruntuhan candi Lumbung dan candi Bubrah. Sedikit lebih utara, terdapat candi Sewu, candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur. Lebih jauh ke utara terdapat candi Plaosan. Di arah barat Prambanan terdapat candi Kalasan dan candi Sari. Sementara di selatan terdapat candi Sojiwan, Situs Ratu Baka yang terletak di bukit, serta candi Banyunibo, candi Barong, dan candi Ijo.

Dengan ditemukannya banyak peninggalan sejarah seperti candi-candi yang berdekatan, ini menunjukkan bahwa kawasan sekitar Prambanan sangat penting pada masa lampau. Kawasan ini memiliki nilai keagamaan, politik, ekonomi, dan kebudayaan yang tinggi. Letak candi Hindu dan Buddha yang saling berdekatan menunjukkan adanya toleransi beragama sejak zaman dulu, menjadi simbol kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.

Diperkirakan bahwa pusat kerajaan Medang Mataram berada di daerah ini. Keberagaman situs arkeologi dan keindahan candi-candinya menjadikan Dataran Prambanan sama pentingnya dengan kawasan bersejarah terkenal lain di Asia Tenggara seperti Angkor, Bagan, dan Ayutthaya.

0 comments:

Posting Komentar