Kamis, 04 Desember 2025

Borobudur

Posted By: Aa channel media - Desember 04, 2025

Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi megah ini merupakan salah satu candi terbesar di dunia dan monumen Buddha terbesar di dunia. Dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh penganut agama Buddha Mahayana dari wangsa Syailendra.

Borobudur terdiri dari enam teras berbentuk bujur sangkar dengan tiga pelataran melingkar di atasnya. Dinding candi dihiasi dengan 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Buddha. Stupa utama terbesar terletak di tengah, dikelilingi oleh 72 stupa berlubang yang berisi arca Buddha.

Monumen ini merupakan representasi alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk menghormati Buddha serta sebagai tempat ziarah untuk memandu umat manusia menuju pencerahan sesuai ajaran Buddha. Peziarah memulai perjalanan mereka dari sisi timur candi, melingkari bangunan ini searah jarum jam sambil naik ke tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha: Kāmadhātu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

Borobudur menampilkan koleksi relief Buddha terbanyak dan terlengkap di dunia. Dengan keindahan relief yang terukir di dinding dan pagar langkan, tempat suci ini menjadi destinasi spiritual yang memukau bagi para pengunjung yang mencari kedamaian dan kebijaksanaan.

Menurut catatan sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 ketika pusat Kerajaan Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok. Penemuan Borobudur pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, membuat dunia mulai memperhatikan keberadaan bangunan ini. Sejak saat itu, Borobudur telah mengalami berbagai upaya restorasi dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar dilakukan pada periode 1975 hingga 1982 oleh Pemerintah Indonesia dan UNESCO, sehingga situs bersejarah ini kemudian diakui sebagai Situs Warisan Dunia.

Borobudur saat ini masih menjadi tempat ziarah keagamaan, di mana setiap tahun umat Buddha dari dalam dan luar negeri berkumpul di sana untuk merayakan Trisuci Waisak. Sebagai objek wisata, Borobudur menjadi tujuan wisata yang paling populer di Indonesia, dikunjungi oleh banyak turis setiap tahun.

Pada 11 Februari 2022, pemerintah secara resmi mempersembahkan kembali status Candi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha di Indonesia dan di seluruh dunia.

Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, seperti gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali dicatat dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Stamford Raffles. Raffles menulis tentang monumen bernama Borobudur, tetapi tidak ada catatan yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberikan petunjuk tentang adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.

Asal usul nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis Borobudur, mungkin diciptakan oleh Raffles dalam bahasa Inggris untuk merujuk kepada desa terdekat di mana candi itu berada, yaitu desa Bore (Boro). Raffles juga mengusulkan bahwa istilah 'Budur' mungkin terkait dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba" - sehingga bermakna, "Boro purba". Namun, arkeolog lain berpendapat bahwa nama Budur mungkin berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.

Terdapat banyak teori yang mencoba menjelaskan asal nama candi ini. Salah satunya menyebut bahwa nama ini mungkin berasal dari kata Sambharabhudhara, yang berarti "gunung" di mana terdapat teras-teras. Ada juga etimologi rakyat lain, seperti ucapan "Para Buddha" yang berubah menjadi borobudur. Dalam penjelasan lain, Borobudur dapat berasal dari kata "bara" dan "beduhur", di mana bara konon berasal dari kata vihara. Ada juga yang mengatakan bahwa bara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kompleks candi atau biara, sedangkan beduhur berarti "tinggi" atau "di atas". Sehingga, nama Borobudur dapat diartikan sebagai sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Poerbatjaraka berpendapat bahwa boro berarti "biara", tetapi pendapat ini dibantah oleh Krom yang menyatakan bahwa Borobudur sebenarnya adalah stupa, bukan biara. Menurut Krom, stupa biasanya tidak berdiri sendiri di India, melainkan memiliki biara di sekitarnya untuk para biksu yang bertanggung jawab atas pemeliharaan tempat suci tersebut. Casparis berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan, dengan pendiri yang diperkirakan adalah raja Mataram ke-2, Rakai Panangkaran pada tahun 770 M, dan dilanjutkan oleh wangsa Syailendra sekitar tahun 824 M. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah disebutkan tentang penganugerahan tanah sima oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis menganggap Bhūmi Sambhāra Bhudhāra, yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa" dalam bahasa Sanskerta, sebagai nama asli Borobudur.

Lingkungan sekitar
Terletak sekitar 40 kilometer barat laut dari Kota Yogyakarta, Borobudur dikelilingi oleh dua pasang gunung kembar; Gunung Sindoro-Sumbing di sebelah barat laut dan Merbabu-Merapi di sebelah timur laut, serta Bukit Tidar di sebelah utara dan jajaran perbukitan Menoreh di sebelah selatan. Candi ini juga berada dekat pertemuan Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur. Daerah ini, dikenal sebagai Dataran Kedu, dianggap suci dalam kepercayaan Jawa dan dijuluki sebagai 'Taman Pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya.

Selain Borobudur, terdapat beberapa candi Buddha dan Hindu di sekitar kawasan ini, seperti Candi Mendut dan Candi Pawon. Menurut dongeng penduduk setempat, ketiga candi ini dulunya terhubung oleh jalan berlapis batu yang dipagari pagar langkan. Meskipun tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal ini, para pakar menduga adanya kesatuan simbolis antara ketiga candi tersebut. Keterkaitan ritual antar ketiga candi ini masih menjadi misteri.

Di sekitar Borobudur, ditemukan berbagai temuan purbakala seperti tembikar dan peninggalan hunian kuno. Museum Karmawibhangga di sebelah utara Candi Borobudur menyimpan temuan-temuan purbakala tersebut. Tidak jauh dari Candi Pawon, terdapat reruntuhan candi Hindu yang disebut Candi Banon, tempat ditemukannya arca-arca dewa Hindu. Meskipun reruntuhan ini tidak dapat direkonstruksi, arca-arca Banon kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Danau purba di sekitar Borobudur telah menjadi misteri yang menarik bagi para arkeolog. Beberapa ahli percaya bahwa Borobudur dibangun di tepi atau tengah danau purba yang telah mengering. Teori ini diusulkan pertama kali oleh W.O.J. Nieuwenkamp pada tahun 1931, yang mengatakan bahwa Dataran Kedu dulunya adalah danau yang luas, dan Borobudur dibangun seperti bunga teratai yang melayang di atas permukaan air.

Meskipun teori ini menarik, banyak arkeolog membantahnya. Namun, pakar geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menemukan bukti endapan sedimen lumpur di sekitar situs. Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa permukaan danau purba di sekitar Borobudur naik-turun dari waktu ke waktu, bahkan pada abad ke-13 dan ke-14, bukit dekat Borobudur bisa kembali terendam air.

Aktivitas alam seperti aliran sungai dan letusan gunung berapi, terutama Gunung Merapi yang aktif, diyakini telah berkontribusi dalam perubahan lingkungan sekitar Borobudur dan danau purba. Meskipun masih banyak perdebatan tentang keberadaan danau purba ini, kehadiran endapan sedimen dan analisis sampel serbuk sari mendukung gagasan bahwa Borobudur mungkin dibangun di sekitar danau purba yang kini telah mengering.

Sejarah Pembangunan
Tidak ada catatan tertulis yang menjelaskan siapa yang membangun Borobudur dan apa fungsinya. Waktu pembangunannya diperkirakan berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi. Kurun waktu ini sesuai dengan masa antara 760 dan 830 M, saat puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang pada saat itu menguasai tahta Kerajaan Medang. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar selesai pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.

Terdapat ketidakjelasan mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa saat itu beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra dikenal sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat, meskipun temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada masa itu, berbagai candi Hindu dan Buddha dibangun di Dataran Kedu. Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang berlokasi di perbukitan Gunung Wukir, hanya 10 km sebelah timur dari Borobudur. Candi Buddha Borobudur dibangun hampir bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan. Meskipun demikian, Borobudur diperkirakan selesai sekitar tahun 825 M, dua puluh lima tahun sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan sekitar tahun 850 M.

Pembangunan candi-candi Buddha, termasuk Borobudur, saat itu dimungkinan karena Rakai Panangkaran, pewaris Sanjaya, memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi. Panangkaran bahkan memberikan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha) untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, seperti yang tercantum dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi. Para arkeolog memahami bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang memicu konflik, dengan contoh raja penganut agama Hindu mendukung dan mendanai pembangunan candi Buddha, begitu pula sebaliknya. Terdapat dugaan persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa  yang akhirnya wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga muncul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan, candi megah yang diduga dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, walaupun banyak yang percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini, yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan. 

Borobudur dibiarkan tersembunyi dan terlantar selama berabad-abad, tertutup oleh lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga Borobudur tampak seperti sebuah bukit. Alasan sebenarnya mengapa Borobudur ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui. Tidak jelas kapan tepatnya tempat suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Pada tahun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi; meskipun tidak pasti apakah ini yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, beberapa teori mengatakan bahwa Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini. Bangunan suci ini disebutkan secara samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskah Nagarakretagama yang ditulis pada masa Majapahit. Ia menyebutkan "Wihara di Budur". Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Borobudur mulai ditinggalkan ketika penduduk sekitar beralih ke Islam pada abad ke-15. Meskipun Borobudur tidak sepenuhnya dilupakan, dongeng rakyat membuatnya menjadi kisah yang penuh dengan kesialan dan penderitaan. Babad Jawa dari abad ke-18 mencatat nasib buruk yang terkait dengan monumen ini, menggambarkan Borobudur sebagai faktor fatal dalam beberapa kejadian tragis. Meskipun tabu melarang kunjungan ke monumen ini, orang-orang terus membicarakannya sebagai tempat yang angker dan penuh dengan kesialan. Meskipun diduga bahwa reruntuhan candi menjadi tempat berkembangnya penyakit, Borobudur tetap menjadi saksi bisu dari masa lalu yang penuh misteri.

Penemuan kembali
Setelah Perang Inggris-Belanda dalam memperebutkan pulau Jawa, Jawa berada di bawah pemerintahan Britania (Inggris) dari tahun 1811 hingga 1816. Thomas Stamford Raffles diangkat sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki ketertarikan khusus terhadap sejarah Jawa. Ia mengumpulkan artefak-arteak seni kuno Jawa dan mencatat sejarah dan budaya Jawa yang ia kumpulkan dari pertemuan dengan penduduk setempat selama perjalanan keliling Jawa. Pada kunjungan inspeksi ke Semarang pada tahun 1814, ia diberitahu tentang adanya sebuah monumen besar di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Namun, karena keterbatasan waktu dan tugasnya sebagai Gubernur Jenderal, ia tidak bisa pergi sendiri untuk menemukan bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar tersebut. Dalam waktu dua bulan, Cornelius bersama 200 bawahannya membersihkan pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang menutupi candi ini. Namun, karena ada risiko longsor, mereka tidak bisa menggali dan membersihkan seluruh lorong. Cornelius melaporkan penemuannya kepada Raffles dan menyerahkan berbagai gambar sketsa Candi Borobudur. Meskipun laporan ini singkat, Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen ini dan menarik perhatian dunia akan keberadaan monumen yang sebelumnya hilang.

Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu, melanjutkan pekerjaan Cornelius dan akhirnya pada tahun 1835 seluruh bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugasnya. Hartmann tidak membuat laporan tentang kegiatannya; dikabarkan bahwa ia menemukan arca Buddha besar di stupa utama pada tahun 1842, meskipun apa yang ditemukannya tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa tersebut kosong.

Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, untuk mempelajari monumen ini dan membuat ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga ditugaskan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang monumen ini, yang diselesaikannya pada tahun 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi dengan sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama. Pemerintah kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, untuk menyusun monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada tahun 1873, monografi pertama dan penelitian lebih mendetail tentang Borobudur diterbitkan, diikuti dengan terjemahan dalam bahasa Prancis setahun setelahnya. Foto pertama monumen ini diambil pada tahun 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.

Penghargaan terhadap situs ini tumbuh perlahan. Borobudur telah lama menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan kolektor "pemburu artefak". Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling sering dicuri. Karena mencuri seluruh arca Buddha terlalu berat dan besar, arca tersebut disengaja dijatuhkan oleh pencuri agar kepala arca terlepas. Hal inilah yang menyebabkan banyak arca Buddha di Borobudur ditemukan tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah menjadi incaran kolektor barang antik dan museum di seluruh dunia. Pada tahun 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar sepenuhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum karena kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian, dan maraknya tindak pencurian di monumen tersebut. Akibatnya, pemerintah menugaskan Groenveldt, seorang arkeolog, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap situs ini dan menyimpulkan bahwa kekhawatiran tersebut berlebihan, dan menyarankan agar bangunan ini tidak dibongkar dan dipindahkan.

Bagian dari Candi Borobudur dicuri sebagai cenderamata, arca, dan ukirannya diburu oleh kolektor benda antik. Tindakan penjarahan situs bersejarah ini bahkan direstui oleh Pemerintah Kolonial. Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn, saat mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia), tertarik untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan memberikan delapan gerobak penuh dengan arca dan bagian bangunan Borobudur sebagai hadiah. Artefak yang dibawa ke Thailand termasuk lima arca Buddha beserta 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga, gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang sebelumnya berdiri di Bukit Dagi, beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak, seperti arca singa dan dwarapala, kini dipamerkan di Museum Nasional Bangkok.

Pemugaran Borobudur kembali menarik perhatian pada tahun 1885, ketika Jan Willem IJzerman, Ketua Masyarakat Arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki tersembunyi. Foto-foto yang menampilkan relief pada kaki tersembunyi dibuat pada periode 1890-1891. Penemuan ini mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini. Pada tahun 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri dari tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur dan anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan.

Pada tahun 1902, komisi ini menyusun proposal tiga langkah rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang mendesak harus segera diatasi dengan mengatur kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan batu yang membahayakan batu lain di sebelahnya, memperkuat pagar langkan pertama, dan memugar beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Kedua, memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan longgar harus dipindahkan, monumen ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada saat itu ditaksir sekitar 48.800 Gulden.

Pemugaran dilakukan pada periode 1907 dan 1911, menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin oleh Theodor van Erp. Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk menemukan kepala buddha yang hilang dan panel batu. Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak. Dalam prosesnya, Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; ia mengajukan proposal lain yang disetujui dengan anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, ia bahkan dengan teliti merekonstruksi chattra (payung batu susun tiga) yang memahkotai puncak Borobudur. Pada pandangan pertama, Borobudur telah pulih seperti pada masa kejayaannya. Akan tetapi rekonstruksi chattra hanya menggunakan sedikit batu asli dan hanya rekaan kira-kira. Karena dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, Van Erp membongkar sendiri bagian chattra. Kini mastaka atau kemuncak Borobudur chattra susun tiga tersimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur.

Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya memusatkan perhatian pada membersihkan patung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakan beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.

Pemugaran kecil-kecilan dilakukan sejak itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang utuh. Pada akhir 1960-an, Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan kepada masyarakat internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi monumen ini. Pada 1973, rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982. Proyek pemugaran ini dimulai sejak tahun 1969 dan merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA atau PELITA) dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 031b/1969 tertanggal 29 April 1969. Proyek pemugaran ini dipimpin oleh kepala proyek dan memiliki direktorium sebagai penghubung proyek dan kontraktor. Pada tahun 1969, proyek pemugaran dipimpin oleh Ir. Ars. S. Samingoen yang secara bersamaan merangkap sebagai bendaharawan proyek. Pada saat itu, S. Samingoen menjabat sebagai Kepala Dinas Pemeliharaan dan Pemugaran Direktorat Purbakala dan Sejarah sekaligus sebagai Pjs. Kepala Direktorat Purbakala dan Sejarah pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pada Oktober 1970, terjadi pergantian kepemimpinan proyek yang dipegang oleh Prof. Dr. Soekmono. Pemugaran candi mencakup 8 sektor yang dibagi menjadi 2 sifat teknis, yaitu Sektor Arkeo-Metrografi dan Sektor Tekno Arkeologi. Sektor Arkeo-Metrografi berfokus pada pengukuran dan penggambaran, sedangkan sektor Tekno Arkeologi berfokus pada penggalian, pemilihan batu, pencarian, dan penyesuaian jenis batu pada candi. Namun, pada tahun 1973, Sektor Arkeo-Metrografi dilebur ke dalam Sektor Tekno Arkeologi sehubungan pengukuran pada candi yang telah selesai.

Pondasi diperkuat dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. Setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991. Borobudur masuk dalam kriteria Budaya (i) "mewakili mahakarya kretivitas manusia yang jenius", (ii) "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap", dan (vi) "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".

Peristiwa kontemporer
Setelah dilakukan pemugaran besar-besaran pada tahun 1973 yang didukung oleh UNESCO, Borobudur kembali menjadi pusat keagamaan dan ziarah agama Buddha. Setiap tahun pada bulan purnama sekitar bulan Mei atau Juni, umat Buddha di Indonesia merayakan hari suci Waisak, yang mengenang kelahiran, wafat, dan pencerahan Siddhartha Gautama menjadi Buddha Shakyamuni. Hari Waisak merupakan hari libur nasional di Indonesia dan upacara peringatan dilakukan di tiga candi Buddha utama dengan prosesi dari Candi Mendut ke Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur.

Pada tanggal 21 Januari 1985, sembilan stupa mengalami kerusakan parah akibat bom. Pada tahun 1991, seorang penceramah Muslim ekstremis, Husein Ali Al Habsyie, dihukum penjara seumur hidup karena terlibat dalam serangkaian serangan bom pada 1980-an, termasuk serangan terhadap Candi Borobudur. Dua anggota kelompok ekstremis sayap kanan juga dijatuhi hukuman penjara.

Borobudur adalah objek wisata paling populer di Indonesia. Pada tahun 1974, 260.000 wisatawan, termasuk 36.000 wisatawan mancanegara, mengunjungi monumen ini. Jumlah pengunjung terus meningkat hingga mencapai 2,5 juta setiap tahunnya pada pertengahan 1990-an sebelum Krisis Finansial Asia 1997. Namun, pembangunan pariwisata di sekitar Borobudur sering menuai kritik karena tidak melibatkan masyarakat setempat, menyebabkan konflik lokal.

Pada tanggal 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 6,2 skala mengguncang Jawa Tengah, namun Borobudur tetap utuh. Pada 28 Agustus 2006, simposium Trail of Civilizations diadakan di Borobudur dengan partisipasi dari UNESCO dan negara-negara mayoritas Buddha di Asia Tenggara. Di sana juga dipentaskan sendratari "Mahakarya Borobudur" yang menceritakan sejarah pembangunan Candi Borobudur.

UNESCO mengidentifikasi beberapa masalah utama dalam upaya pelestarian Borobudur, termasuk vandalisme, erosi tanah, dan pemulihan bagian yang hilang. Perlu adanya langkah-langkah lebih lanjut untuk melindungi situs ini dari kerusakan lebih lanjut.

Pada 11 Februari 2022, pemerintah mengembalikan status Candi Borobudur sebagai tempat peribadatan umat Buddha. Bersama Candi Prambanan, keduanya diresmikan kembali sebagai tempat peribadatan umat Hindu dan Buddha. Langkah ini diambil untuk mengembalikan fungsi asli candi tersebut sebagai tempat peribadatan. Selain itu, Borobudur juga ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas untuk meningkatkan daya tarik wisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kawasan tersebut.

Borobudur mengalami dampak yang signifikan akibat letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober dan November 2010. Debu vulkanik dari Merapi menutupi kompleks candi yang berjarak 28 kilometer arah barat-barat daya dari kawah Merapi. Lapisan debu vulkanik mencapai ketebalan 2,5 sentimeter menutupi bangunan candi saat letusan terjadi pada 3-5 November 2010, dan debu tersebut juga merusak tanaman di sekitarnya. Para ahli mengkhawatirkan bahwa debu vulkanik yang bersifat asam dapat merusak batuan bangunan bersejarah ini. Sebagai langkah rehabilitasi, kompleks candi ditutup dari tanggal 5 hingga 9 November 2010 untuk membersihkan lapisan debu.

UNESCO turut berkontribusi dalam upaya rehabilitasi Borobudur setelah letusan Merapi 2010 dengan menyumbangkan dana sebesar 3 juta dollar AS. Proses pembersihan debu vulkanik dari candi diperkirakan akan memakan waktu minimal 6 bulan, diikuti dengan penghijauan dan penanaman kembali pohon di sekitar area untuk menjaga suhu, serta memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dipindahkan untuk memperbaiki sistem tata air dan drainase yang tersumbat oleh campuran debu vulkanik dan air hujan. Restorasi akhirnya selesai pada bulan November 2011, lebih cepat dari perkiraan semula.

Borobudur merupakan salah satu contoh keajaiban arsitektur dan seni Buddha di Indonesia, yang merupakan pencapaian tertinggi dalam harmoni teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Bangunan ini terinspirasi oleh konsep dharma dari India, seperti stupa dan mandala, namun juga mencerminkan unsur lokal seperti struktur megalitik punden berundak yang ditemukan dalam sejarah prasejarah Indonesia. Borobudur merupakan perpaduan antara kepercayaan asli Indonesia dan ajaran Buddha dalam upaya mencapai Nirwana.

Dalam konsep rancang bangunnya, Borobudur sebenarnya adalah sebuah stupa yang membentuk pola Mandala besar ketika dilihat dari atas. Mandala adalah pola kompleks yang melambangkan alam semesta dalam ajaran Buddha aliran Wajrayana-Mahayana. Sepuluh teras yang dimiliki Borobudur menggambarkan tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Dengan secara cerdik menggabungkan elemen-elemen ini, Borobudur menjadi simbol perjalanan spiritual yang mendalam bagi umat Buddha.

Struktur bangunan
Sebanyak 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini. Batu tersebut dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut ke situs, dan disatukan tanpa menggunakan semen. Borobudur dirancang tanpa menggunakan semen, namun menggunakan sistem interlock seperti balok-balok lego yang dapat menempel tanpa perekat. Batu-batu disatukan dengan tonjolan dan lubang yang pas satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief direkam di situs setelah struktur bangunan dan dinding rampung.

Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase yang baik untuk wilayah dengan curah hujan tinggi. Untuk mencegah genangan dan banjir, dipasang 100 pancuran di setiap sudut, masing-masing dengan desain unik berbentuk kepala raksasa kala atau makara.

Borobudur memiliki perbedaan dengan candi lainnya, karena tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya mirip dengan candi-candi lain di Jawa, namun Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lainnya. Terdapat lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit, dibatasi oleh dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum, rancangan Borobudur mirip dengan piramida berundak. Borobudur diduga berfungsi lebih sebagai stupa daripada kuil atau candi. Stupa adalah bangunan suci yang dipergunakan untuk memuliakan Buddha.

Legenda lokal mengatakan bahwa arsitek perancang Borobudur bernama Gunadharma. Namun, informasi mengenai arsitek tersebut masih minim dan lebih berkaitan dengan dongeng dan legenda Jawa. Rancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yang merupakan panjang wajah manusia atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking. Rasio 4:6:9 ditemukan dalam struktur bangunan ini, dan digunakan dalam perulangan geometri fractal rancangan Borobudur.

Struktur bangunan Borobudur terdiri dari dasar, tubuh, dan puncak. Dasar memiliki ukuran 123 x 123 meter dengan tinggi 4 meter. Tubuh Borobudur terdiri dari lima teras bujur sangkar yang makin mengecil ke atas. Bagian atas terdiri dari tiga teras melingkar dengan barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama terbesar di tengah, dengan ketinggian puncak mencapai 35 meter dari permukaan tanah. Tangga terletak di bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung naik menuju puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Pintu utama terletak di sisi timur, sebagai titik awal pembacaan relief. Tangga ini terhubung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran sekitarnya.

Pada dinding candi di setiap tingkatan  kecuali pada teras-teras Arupadhatu  terdapat panel-panel bas-relief yang dikerjakan dengan sangat teliti dan halus. Relief dan motif hias Borobudur memiliki gaya yang naturalis dengan proporsi yang sempurna dan selera estetika yang elegan. Relief-relief ini sangat memukau, bahkan dianggap sebagai yang paling anggun dan elegan dalam seni Buddha di seluruh dunia. Relief Borobudur juga mengikuti disiplin seni rupa India, dengan berbagai pose tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Gambar-gambar manusia mulia seperti pertapa, raja, dan wanita bangsawan, dewi atau makhluk yang mencapai tingkat kesucian seperti dewa, seperti tara dan boddhisatwa, sering digambarkan dalam pose tubuh tribhanga. Pose ini, yang dikenal sebagai "lekuk tiga", menunjukkan keanggunan, seperti figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan pose tribhanga sambil memegang teratai panjang.

Relief Borobudur menampilkan berbagai gambar; dari sosok-sosok manusia mulia hingga rakyat jelata, tumbuhan dan hewan, serta bangunan-bangunan tradisional Nusantara. Seperti sebuah kitab, Borobudur mencatat berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Para arkeolog mempelajari kehidupan masa lalu di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan memperhatikan ukiran relief Borobudur. Gambaran rumah panggung, lumbung, istana, candi, perhiasan, pakaian, senjata, tumbuhan, hewan, dan alat transportasi dapat ditemukan di relief ini. Salah satu relief terkenal menggambarkan Kapal Borobudur, sebuah kapal kayu khas Nusantara yang mencerminkan kehidupan maritim masa lampau. Replika kapal ini dapat dilihat di Museum Samudra Raksa di sebelah utara Borobudur.

Relief-relief ini dibaca searah jarum jam atau mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari Sanskerta daksina yang artinya timur. Cerita-cerita relief ini beragam, termasuk cerita-cerita jātaka. Pembacaan cerita-cerita relief dimulai dan berakhir di pintu gerbang sisi timur di setiap tingkat, dimulai dari sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang. Hal ini menunjukkan bahwa sisi timur adalah tangga naik utama yang menuju puncak candi, menandakan bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi lainnya serupa benar.

Karmawibhangga
Berdasarkan simbolisme pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung menggambarkan konsep karma. Karmawibhangga adalah kisah yang menggambarkan doktrin karma, yaitu hubungan sebab-akibat dari perbuatan baik dan buruk. Deretan relief ini bukan sekadar sebuah cerita berjenjang, namun setiap piguranya menggambarkan cerita yang saling terkait melalui sebab-akibat. Relief ini tidak hanya menunjukkan perbuatan tercela manusia beserta hukumannya, tetapi juga perbuatan baik manusia beserta pahalanya. Secara keseluruhan, relief ini menggambarkan kehidupan manusia dalam siklus lahir - hidup - mati (samsara) yang tak pernah berakhir, dan dalam agama Buddha, siklus ini akan diakhiri untuk mencapai kesempurnaan. Saat ini, hanya bagian tenggara yang terbuka dan bisa dilihat oleh pengunjung. Gambaran lengkap dari relief Karmawibhangga bisa disaksikan di Museum Karmawibhangga di sisi utara candi Borobudur.

Lalitawistara
Merupakan penggambaran perjalanan Sang Buddha melalui serangkaian relief (meskipun tidak lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tushita, hingga wejangan pertamanya di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berada di sisi selatan, setelah 27 pigura yang dimulai dari sisi timur. 27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di surga maupun di dunia, sebagai persiapan kedatangan Sang Bodhisattwa sebagai calon Buddha terakhir. Relief ini menggambarkan kelahiran Sang Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Terdapat 120 pigura dalam relief ini, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang melambangkan Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha yang disebut dharma yang artinya "hukum", dan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah kisah tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Ceritanya menonjolkan perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain. Beberapa kisah Jataka menampilkan fabel yang melibatkan tokoh satwa yang bertingkah laku seperti manusia. Pengumpulan jasa atau perbuatan baik adalah persiapan untuk mencapai ke-Buddha-an. Awadana, meskipun hampir sama dengan Jataka, melibatkan pelaku bukan Sang Bodhisattwa, dan ceritanya terdapat dalam kitab Diwyawadana dan Awadanasataka. Pada relief candi Borobudur, Jataka dan Awadana disatukan tanpa perbedaan.

Gandawyuha
Relief ini menghiasi dinding lorong ke-2 dan mengisahkan perjalanan Sudhana yang tak kenal lelah dalam pencarian Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati. Dengan 460 pigura yang didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana Gandawyuha, cerita ini mencapai puncaknya dengan kisah dari kitab Bhadracari.

Sebuah arca Buddha di dalam stupa berterawang
Selain wujud Buddha dalam kosmologi Buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca Buddha duduk bersila dalam posisi teratai serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Patung Buddha dengan tinggi 1,5 meter ini dipahat dari bahan batu andesit.

Patung Buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung, baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu. Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa. Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala Buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).

Secara sepintas semua arca Buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus di antaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, di mana masing-masing arca Buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca Buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.

Warisan Borobudur adalah bukti keagungan masa lalu Indonesia yang membangkitkan kebanggaan bangsa. Seperti Angkor Wat bagi Kamboja, Borobudur menjadi simbol Indonesia yang kuat, menegaskan kejayaan masa lalu. Peran Sukarno dalam mengajak tamu negara mengunjungi Borobudur, serta pemugaran yang tekun oleh pemerintahan Suharto dengan bantuan UNESCO, menunjukkan makna simbolis dan potensi ekonomi monumen ini. Borobudur telah menjadi ikon budaya klasik Jawa yang menginspirasi Indonesia.

Artefak dan replika Borobudur dipamerkan di museum di Indonesia dan mancanegara, menarik perhatian dunia pada peradaban Buddha Jawa Kuno. Penemuan kembali dan pemugaran Borobudur disambut baik oleh Umat Buddha Indonesia sebagai tanda kebangkitan ajaran Buddha di Indonesia. Setiap tahun, ribuan umat Buddha berkumpul di Borobudur untuk memperingati hari Trisuci Waisak.

Sebagai simbol Jawa Tengah dan Indonesia, Borobudur diabadikan dalam lambang provinsi dan kabupaten, serta menjadi nama institusi dan badan usaha. Candi ini menjadi atraksi wisata terkemuka di Indonesia, mendorong perekonomian lokal dan sekitarnya. Pameran di Museum Nasional tentang pemugaran Borobudur menunjukkan pentingnya melestarikan sejarah dan dokumentasi pemugaran.

Pada 11 Juni 1983, Borobudur digunakan untuk memantau gerhana matahari total, menunjukkan betapa pentingnya candi ini dalam konteks sejarah dan astronomi. Borobudur tetap menjadi salah satu keajaiban dunia yang menarik perhatian dan menginspirasi generasi masa kini dan mendatang.


 

0 comments:

Posting Komentar