Penguasa monarki adalah seseorang yang memegang jabatan kepala negara yang biasanya diwariskan dan memerintah seumur hidup atau sampai turun tahta. Negara yang dipimpin oleh seorang penguasa monarki disebut monarki. Asal-usul kata ini berasal dari bahasa Yunani, monos archein, yang berarti "satu pemerintah". Saat ini, gelar penguasa monarki di beberapa negara telah kehilangan makna politik karena negara tersebut telah berubah menjadi republik, namun tetap diwariskan.
Berbagai tingkatan gelar penguasa monarki dipengaruhi oleh adat dan tradisi setiap wilayah. Beberapa gelar penguasa monarki memiliki versi khusus untuk laki-laki dan perempuan di Eropa, sementara di Asia Timur, tidak membedakan jenis kelamin. Di Indonesia, banyak gelar penguasa monarki diadopsi dari berbagai budaya dan tradisi, seperti dari India, Islam, atau bahkan Eropa, masing-masing dengan makna yang unik.
Gelar penguasa monarki
Ada beberapa gelar yang digunakan di Indonesia untuk para penguasa monarki, seperti raja, kaisar, maharaja, paus, khalifah, dan sultan, meskipun tidak semuanya resmi digunakan oleh pemimpin monarki di Indonesia. Setiap gelar memiliki makna dan sejarahnya sendiri.
Kartu pos tahun 1908 menampilkan sembilan belas penguasa monarki dunia yang sedang berkuasa, termasuk Raja Siam, Raja Yunani, Tsar Bulgaria, Kaisar Austria-Hungaria, dan lain-lain.
Gelar raja adalah yang paling umum digunakan di Indonesia dan berasal dari bahasa Sansekerta राजा rājā-. Gelar ini mulai digunakan oleh penguasa monarki di Indonesia saat pengaruh Hindu Buddha dari India semakin kuat. Kerajaan adalah wilayah yang diperintah oleh seorang raja.
Gelar kaisar berasal dari Caesar, nama keluarga Julius Caesar, yang kemudian menjadi gelar bagi penguasa Romawi. Gelar kaisar setara dengan maharaja dan biasa digunakan dalam berbagai bahasa. Di Indonesia, gelar ini terkait dengan Majapahit.
Paus adalah gelar bagi pemimpin Gereja Katolik dunia dan berasal dari bahasa Yunani πάππας pappas, yang berarti Bapa. Gelar ini telah digunakan sejak zaman Rasul Petrus. Tidak ada gelar resmi setara untuk wanita dari paus.
Khalifah (bahasa Arab: خَليفة khalīfah) adalah gelar yang diberikan kepada penerus Nabi Muhammad dan pemimpin umat Islam di seluruh dunia. Gelar ini pertama kali digunakan oleh Abu Bakar pada tahun 632 M dan terakhir kali oleh Abdul Mejid II pada 3 Maret 1924 M. Wilayah kepemimpinan seorang khalifah disebut kekhalifahan atau khilafah. Pada awalnya, khalifah berperan sebagai kepala negara dan pemimpin bagi negara Islam yang luas, namun pada masa Dinasti Abbasiyah, khalifah lebih bermakna sebagai simbol pemersatu umat Islam dengan kekuatan politik yang terbatas setelah hancurnya Baghdad oleh Mongol pada tahun 1258 M.
Biasanya, hanya ada satu khalifah dalam satu masa, namun terkadang gelar ini diklaim oleh lebih dari satu pihak. Pada abad kesepuluh, gelar khalifah diklaim oleh tiga pihak berbeda: Dinasti Abbasiyah di Baghdad, Dinasti Fathimiyyah di Kairo, Mesir, dan Dinasti Umayyah di Kordoba, Spanyol. Sejak kejatuhan kekhalifahan pada tahun 1924, tidak ada khalifah yang diakui oleh dunia Islam, meskipun upaya untuk mengembalikan kekhalifahan terus dilakukan. Sultan Yogyakarta juga menggunakan gelar khalifah, tetapi dengan makna yang berbeda, sebagai pemimpin di tanah Jawa.
Sultan adalah gelar untuk penguasa monarki Islam yang memerintah sebuah kesultanan. Gelar ini berasal dari bahasa Arab سلطان, sulthaan yang artinya "penguasa" dan "kekuatan". Sultanah adalah gelar setara untuk wanita yang memimpin kesultanan, dan bisa juga digunakan untuk istri seorang sultan. Gelar sultan tidak terkait dengan tingkatan tertentu, kecuali jika berada di bawah khalifah. Kesultanan di Nusantara menggunakan gelar sultan untuk penguasa monarki Islam, sementara gelar sultanah digunakan untuk wanita yang memimpin atau istri sultan. Di Nusantara, gelar sultanah tidak digunakan untuk istri sultan, namun lebih umum digunakan untuk wanita yang memimpin kesultanan.
Di seluruh dunia, gelar-gelar kebangsawanan dan kepemimpinan monarki memiliki berbagai variasi yang unik, terutama di Benua Eropa, Asia Timur, dan Timur Tengah.
Di Benua Eropa, para raja dan ratu menggunakan berbagai gelar yang berasal dari bahasa yang berbeda. Contohnya, gelar "King" digunakan untuk Raja Inggris, sedangkan gelar "Rex" digunakan dalam bahasa Latin untuk raja. Begitu pula dengan gelar "Queen" untuk Ratu Inggris, dan "Regina" untuk bentuk wanitanya. Di sini, terdapat perbedaan antara gelar yang digunakan oleh penguasa monarki wanita dan gelar yang digunakan oleh istri penguasa monarki pria.
Di Asia Timur, gelar tertinggi yang pernah digunakan adalah "huangdi" dalam bahasa Cina, yang diterjemahkan sebagai kaisar. Gelar ini tidak membedakan jenis kelamin, sehingga baik pria maupun wanita yang duduk di tahta menyandang gelar tersebut. Di Jepang, pemimpin negara menggunakan gelar "tennō" yang setara dengan kaisar. Sedangkan di Korea, gelar "wang" digunakan untuk raja, baik pria maupun wanita yang naik tahta.
Di Timur Tengah, gelar-gelar seperti "Malik" digunakan untuk penguasa monarki setingkat raja di wilayah Arab, sementara di Persia gelar "Syah" digunakan untuk raja. Gelar "Amirul Mukminin" juga sering digunakan sebagai gelar pemimpin muslim. Di Ethiopia, gelar "Negus" digunakan untuk raja atau pemimpin tertinggi, dengan gelar kekaisarannya disebut "Nəgusä Nägäst".
Dari berbagai penjuru dunia, gelar-gelar ini mencerminkan sejarah dan budaya masing-masing wilayah, memberikan warna dan keunikan dalam struktur kebangsawanan dan kepemimpinan monarki.
Gelar ganda sering kali digunakan oleh para penguasa monarki untuk menunjukkan kedaulatan dan legitimasi mereka. Salah satu contohnya adalah Sultan Turki Utsmani yang menyandang beberapa gelar, seperti sultan, han, padishah, dan khalifah, masing-masing memiliki arti dan makna tersendiri. Di Eropa, beberapa penguasa juga memiliki gelar rangkap, seperti kaisar yang juga menjadi raja atau adipati di wilayah tertentu. Contoh lainnya adalah Ratu Inggris Raya yang juga merupakan Maharani India saat India menjadi wilayah kekuasaannya. Sebagai contoh lain, Ketua Agung Keluarga Pudda Puddy memiliki gelar ganda sebagai Kaiser Von Allen dan Maharaja Raden Palasara Diningrat. Namun, gelar monarki selanjutnya tidak menggunakan gelar rangkap berdasarkan peraturan yang berlaku.
Tinjauan
Beberapa gelar yang terkait dengan monarki adalah permaisuri dan ibu suri. Permaisuri bukanlah gelar untuk penguasa monarki, tetapi merupakan gelar bagi istri dari pemimpin monarki pria, seperti raja, kaisar, atau sultan. Asal usul gelar ini berasal dari bahasa Tamil பரமேஸ்வரி (paramēsvari), yang memiliki arti istri tertinggi, dan dari bahasa Sansekerta परमेश्वरी (parameśvarī). Sementara itu, ibu suri adalah gelar yang diberikan kepada ibunda dari penguasa monarki, dan kadang-kadang juga digunakan untuk permaisuri yang telah menjadi janda. Dalam konteks modern, ibu suri juga sering disebut sebagai ibu ratu, yang mungkin berasal dari istilah queen mother, yang merupakan gelar untuk ibu dari seorang ratu di Inggris.
Gelar untuk penguasa monarki wanita, seperti ratu dan maharani, sering kali digunakan juga untuk istri dari penguasa monarki pria, sehingga memiliki makna ganda, mirip dengan penggunaan gelar untuk wanita di Eropa. Penggunaan gelar permaisuri di sini dimaksudkan untuk menghindari kebingungan dalam penggunaan gelar. Di Indonesia, gelar untuk penguasa monarki juga memiliki versi untuk laki-laki dan perempuan.



0 comments:
Posting Komentar