Jiwa (berasal dari bahasa Sanskerta: jiva yang berarti "benih kehidupan") Dalam berbagai agama dan filsafat, jiwa merupakan bagian yang tidak bersifat jasmani (imaterial) dari seseorang. Umumnya, jiwa diyakini mencakup pikiran dan kepribadian serta dianggap sinonim dengan roh, akal, atau identitas diri. Dalam teologi, jiwa dianggap memiliki kehidupan abadi setelah seseorang meninggal, dan beberapa agama mengajarkan bahwa Tuhan adalah pencipta jiwa. Beberapa budaya juga percaya bahwa benda mati memiliki jiwa, keyakinan ini dikenal sebagai animisme.
Penggunaan istilah jiwa dan roh sering kali dipertukarkan, meskipun kata pertama lebih sering terkait dengan dunia fisik daripada kata kedua. Jiwa dan psyche sering kali digunakan secara bersamaan, meskipun psyche cenderung lebih berhubungan dengan aspek fisik, sementara jiwa lebih terkait dengan aspek metafisik dan spiritual. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jiwa merujuk pada roh manusia yang hadir dalam tubuh dan memberikan kehidupan atau nyawa. Jiwa juga merujuk pada seluruh kehidupan batin manusia yang meliputi perasaan, pikiran, angan-angan, dan lainnya. Jiwa manusia berbeda dari jiwa makhluk lain seperti binatang atau pohon. Jiwa manusia seperti alam semesta, yang tersembunyi dalam tubuh manusia dan terus bergerak dan berputar.
Pandangan filsafat tentang jiwa pertama kali dikaji oleh Plato. Bagi Plato, jiwa diartikan sebagai sesuatu yang tak terlihat namun merupakan realitas yang tetap dan abadi. Jiwa dipandang sebagai entitas yang kekal dan tak berubah. Plato memandang tubuh dan jiwa sebagai dua hal yang berbeda, masing-masing memiliki peran penting dalam keberadaan manusia. Jiwa berfungsi sebagai pengatur tindakan rasional yang mengontrol hawa nafsu manusia.



0 comments:
Posting Komentar