Kamis, 13 November 2025

Pengetahuan

Posted By: Aa channel media - November 13, 2025

Pengetahuan merupakan pemahaman akan fakta, keakraban dengan pribadi dan peristiwa, serta keterampilan praktis. Pengetahuan tentang fakta, yang disebut juga sebagai pengetahuan proposisional, sering dianggap sebagai kebenaran yang diyakini, dan dibedakan dari sekadar opini atau dugaan melalui pembenaran. Para filsuf umumnya setuju bahwa pengetahuan proposisional adalah bentuk keyakinan yang benar, tetapi perdebatan panjang berkisar pada syarat pembenaran itu sendiri: bagaimana cara memahaminya, apakah itu benar-benar diperlukan, atau apakah ada hal lain yang harus ditambahkan. Kontroversi semakin meningkat pada paruh kedua abad ke-20, terutama setelah serangkaian eksperimen pemikiran yang dikenal sebagai Kasus Gettier, yang menantang definisi klasik dan menghasilkan interpretasi baru.

Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber. Sumber utama pengetahuan empiris adalah persepsi, yaitu penggunaan indra untuk memahami dunia luar. Introspeksi memungkinkan manusia untuk memahami keadaan mental dan proses batinnya sendiri. Sumber lain meliputi ingatan, intuisi rasional, inferensi, dan kesaksian. Menurut fondasionalisme, beberapa sumber ini bersifat dasar, yang artinya dapat membenarkan keyakinan tanpa harus bergantung pada keadaan mental lain. Sementara itu, para koherenitis menolak pandangan ini dan menekankan bahwa pengetahuan memerlukan koherensi yang memadai di antara seluruh keadaan mental subjek. Di sisi lain, infinitisme berpendapat bahwa rantai keyakinan yang tak berujunglah yang diperlukan.

Epistemologi adalah disiplin utama yang mempelajari pengetahuan, mengeksplorasi apa yang manusia ketahui, bagaimana cara ia mengetahuinya, dan apa arti dari "mengetahui". Bidang ini juga membahas nilai pengetahuan serta skeptisisme filosofis yang meragukan kemungkinan pengetahuan. Pengetahuan terkait erat dengan berbagai bidang, seperti sains yang berusaha mencapainya melalui metode ilmiah dengan eksperimen berulang, observasi, dan pengukuran. Berbagai tradisi agama menekankan pentingnya manusia untuk mencari pengetahuan, dan bahwa Tuhan atau yang ilahi adalah sumber segala pengetahuan. Antropologi pengetahuan mempelajari bagaimana pengetahuan diperoleh, disimpan, dipanggil kembali, dan dikomunikasikan dalam berbagai budaya. Sosiologi pengetahuan mengkaji dalam konteks sosiohistoris bagaimana pengetahuan muncul dan apa konsekuensi sosiologisnya. Sejarah pengetahuan melacak perkembangan dan perubahan pengetahuan dalam berbagai bidang sepanjang sejarah.

Pengetahuan adalah bentuk keakraban, kesadaran, pemahaman, atau pergaulan akrab. Biasanya melibatkan kepemilikan informasi yang didapat dari pengalaman dan bisa dianggap sebagai pencapaian kognitif atau hubungan epistemik dengan realitas, seperti dalam proses penemuan. Banyak definisi ilmiah berkaitan dengan pengetahuan proposisional yang berupa keyakinan terhadap fakta tertentu, contohnya "Saya tahu bahwa Dave berada di rumah." Ada juga jenis pengetahuan lain seperti pengetahuan-bagaimana dalam bentuk kompetensi praktis, contohnya "dia tahu cara berenang", dan pengetahuan melalui perkenalan langsung yang melibatkan pengalaman langsung sebelumnya, seperti mengenal seseorang secara pribadi.

Pengetahuan seringkali dianggap sebagai keadaan individu, namun juga bisa merujuk pada suatu ciri kelompok, seperti pengetahuan kelompok, pengetahuan sosial, atau pengetahuan kolektif. Beberapa ilmu sosial memandang pengetahuan sebagai fenomena sosial yang luas, sejajar dengan kebudayaan. Selain itu, pengetahuan juga bisa merujuk pada informasi yang tersimpan dalam dokumen, contohnya "pengetahuan yang terdapat di perpustakaan" atau basis pengetahuan dalam sistem pakar. Pengetahuan berkaitan erat dengan kecerdasan, namun kecerdasan lebih menekankan kemampuan untuk memperoleh, mengolah, dan menerapkan informasi, sementara pengetahuan berfokus pada informasi dan keterampilan yang dimiliki seseorang.

Kata "pengetahuan" berasal dari bahasa Inggris Kuno pada abad ke-12, cnawan, yang berasal dari bahasa Jerman Hulu kuno gecnawan. Dalam bahasa Yunani Kuno, terdapat empat istilah penting untuk menggambarkan pengetahuan: epistēmē (pengetahuan teoretis yang tak berubah), technē (pengetahuan teknis yang ahli), mētis (pengetahuan strategis), dan gnōsis (pengetahuan intelektual yang bersifat pribadi). Bidang studi yang mempelajari pengetahuan dikenal sebagai epistemologi atau teori pengetahuan, yang mempertanyakan hakikat pengetahuan, cara pengetahuan lahir, serta nilai yang terkandung dalam pengetahuan tersebut.

Meskipun terdapat kesepakatan tentang ciri-ciri umum pengetahuan, definisi yang tepat masih menjadi perdebatan. Ada pendekatan yang menyoroti aspek-aspek penting dari pengetahuan untuk memberikan karakterisasi yang praktis. Ada juga pendekatan analisis pengetahuan yang berusaha memberikan definisi teoretis yang presisi dengan menetapkan syarat-syarat yang diperlukan secara individual dan bersama-sama, mirip dengan cara ahli kimia menganalisis sampel dengan mengidentifikasi unsur-unsur penyusunnya. Terdapat juga pendapat yang menganggap pengetahuan sebagai keadaan unik yang tidak dapat dianalisis dalam kerangka lain. Ada pula pandangan yang mendasarkan definisi pada intuisi abstrak, fokus pada kasus konkret, atau berlandaskan penggunaan istilah tersebut dalam bahasa sehari-hari. Terdapat perbedaan pendapat apakah pengetahuan merupakan fenomena langka yang membutuhkan standar tinggi ataukah fenomena umum yang hadir dalam banyak situasi sehari-hari.

Analisis tentang pengetahuan
Salah satu definisi yang sering dibicarakan menggambarkan pengetahuan sebagai kepercayaan benar yang dibenarkan. Definisi ini mencakup tiga karakteristik penting: kepercayaan harus (1) benar dan (2) dibenarkan. Kebenaran adalah hal yang sangat penting dalam konsep pengetahuan. Ini menegaskan bahwa seseorang tidak bisa mengetahui sesuatu yang salah, meskipun ia mungkin mempercayai hal tersebut. Fakta bahwa pengetahuan merupakan bentuk dari kepercayaan juga berarti bahwa seseorang tidak bisa memiliki pengetahuan tanpa adanya kepercayaan. Meskipun beberapa ungkapan sehari-hari terdengar bertentangan dengan prinsip ini, seperti "Saya tidak percaya, saya tahu itu!", sebenarnya maksud dari ungkapan semacam itu adalah untuk menegaskan keyakinan, bukan untuk menyangkal adanya unsur kepercayaan.

Perdebatan terbesar seputar definisi ini berkaitan dengan ciri ketiganya: pembenaran. Hal ini sering kali menjadi topik perdebatan karena beberapa kepercayaan benar tidak selalu dianggap sebagai pengetahuan, seperti kepercayaan yang berdasarkan pada tebakan, takhayul, atau penalaran yang salah. Beberapa filsuf berpendapat bahwa kepercayaan harus memiliki pembenaran, entah itu berdasarkan bukti atau proses andal, agar bisa dianggap sebagai pengetahuan. Definisi pengetahuan sebagai kepercayaan benar yang dibenarkan mulai dipertanyakan pada abad ke-20, ketika Edmund Gettier memperkenalkan sejumlah contoh yang menunjukkan kegagalan definisi tersebut.

Beberapa pendekatan lain mengusulkan definisi pengetahuan yang berbeda, termasuk pengetahuan sebagai manifestasi dari keandalan atau kebajikan kognitif, serta pengetahuan sebagai hal yang memberikan alasan untuk berpikir atau bertindak. Meskipun masih terdapat perdebatan di kalangan akademisi mengenai definisi pengetahuan yang tepat, sejumlah definisi alternatif terus diajukan dalam wacana ilmiah.

Pembedaan umum dalam jenis pengetahuan adalah antara pengetahuan proposisional, atau pengetahuan-bahwa, dan pengetahuan non-proposisional dalam bentuk keterampilan praktis atau perkenalan langsung. Pembedaan lainnya berfokus pada bagaimana pengetahuan diperoleh dan pada isi dari informasi yang diketahui.

Proposisional
Pengetahuan proposisional, yang juga disebut pengetahuan deklaratif dan deskriptif, adalah bentuk pengetahuan teoretis tentang fakta, seperti mengetahui bahwa "2 + 2 = 4". Ia merupakan jenis pengetahuan yang paradigmatik dalam filsafat analitik. Pengetahuan proposisional disebut proposisional karena melibatkan relasi terhadap sebuah proposisi. Karena proposisi sering diungkapkan melalui klausa-bahwa, ia juga disebut pengetahuan-bahwa, seperti dalam "Akari tahu bahwa kanguru melompat". Dalam kasus ini, Akari berada dalam relasi mengetahui terhadap proposisi "kanguru melompat". Jenis pengetahuan yang terkait erat adalah tahu-siapa, misalnya, mengetahui siapa yang datang makan malam dan mengetahui mengapa mereka datang. Ungkapan-ungkapan ini biasanya dipahami sebagai jenis pengetahuan proposisional karena dapat diparafrasekan menggunakan klausa-bahwa.

Pengetahuan proposisional berbentuk representasi mental yang melibatkan konsep, gagasan, teori, dan aturan umum. Representasi ini menghubungkan subjek yang mengetahui dengan bagian tertentu dari realitas dengan menunjukkan seperti apa adanya. Ia sering bersifat independen dari konteks, artinya tidak terbatas pada penggunaan atau tujuan tertentu. Pengetahuan proposisional mencakup baik pengetahuan tentang fakta spesifik, seperti bahwa massa atom emas adalah 196,97 u, maupun generalisasi, seperti bahwa warna daun beberapa pohon berubah di musim gugur. Karena bergantung pada representasi mental, sering dikatakan bahwa kapasitas untuk pengetahuan proposisional eksklusif bagi makhluk yang relatif canggih, seperti manusia. Hal ini didasarkan pada klaim bahwa kemampuan intelektual yang maju dibutuhkan untuk memercayai sebuah proposisi yang mengekspresikan seperti apa dunia ini.

Non-proposisional

Pengetahuan non-proposisional adalah pengetahuan yang tidak melibatkan relasi esensial terhadap proposisi. Dua bentuk yang paling dikenal adalah pengetahuan-bagaimana (know-how atau Pengetahuan prosedural) dan pengetahuan melalui perkenalan langsung. Memiliki pengetahuan-bagaimana berarti memiliki suatu bentuk Kemampuan praktis, keterampilan, atau kompetensi, seperti mengetahui cara mengendarai sepeda atau mengetahui cara berenang. Beberapa kemampuan yang mendasari pengetahuan-bagaimana melibatkan bentuk pengetahuan-bahwa, seperti mengetahui cara membuktikan sebuah teorema matematika, namun hal ini tidak selalu demikian. Beberapa jenis pengetahuan-bagaimana tidak memerlukan pikiran yang sangat berkembang, berbeda dengan pengetahuan proposisional, dan lebih umum dijumpai di dunia hewan. Misalnya, seekor semut tahu bagaimana cara berjalan meskipun kemungkinan besar ia tidak memiliki pikiran yang cukup berkembang untuk merepresentasikan proposisi yang bersangkutan.

Pengetahuan melalui perkenalan adalah keakraban dengan sesuatu yang diperoleh dari kontak pengalaman langsung. Objek pengetahuan dapat berupa seseorang, suatu benda, atau sebuah tempat. Misalnya, dengan memakan cokelat, seseorang menjadi akrab dengan rasa cokelat, dan dengan mengunjungi Danau Taupō, seseorang membentuk pengetahuan melalui perkenalan tentang Danau Taupō. Dalam kasus-kasus ini, seseorang membentuk pengetahuan non-inferensial berdasarkan pengalaman langsung tanpa harus memperoleh informasi faktual tentang objek tersebut. Sebaliknya, juga dimungkinkan untuk secara tidak langsung mempelajari banyak pengetahuan proposisional tentang cokelat atau Danau Taupō dengan membaca buku tanpa memiliki kontak pengalaman langsung yang dibutuhkan untuk pengetahuan melalui perkenalan. Konsep pengetahuan melalui perkenalan pertama kali diperkenalkan oleh Bertrand Russell. Ia berpendapat bahwa pengetahuan melalui perkenalan lebih mendasar daripada pengetahuan proposisional, sebab untuk memahami suatu proposisi, seseorang harus terlebih dahulu akrab dengan unsur-unsurnya.

Perbedaan antara pengetahuan a priori dan a posteriori tergantung pada peran pengalaman dalam proses pembentukan dan pembenaran. Mengetahui sesuatu secara a posteriori berarti mengetahuinya berdasarkan pengalaman. Contohnya, melihat hujan di luar atau mendengar bayi menangis, seseorang memperoleh pengetahuan a posteriori tentang kenyataan tersebut. Di sisi lain, pengetahuan a priori dapat diperoleh tanpa memerlukan pengalaman untuk mendukung proposisi yang diketahui. Contoh pengetahuan a priori adalah pengetahuan matematis, seperti bahwa 2 + 2 = 4, yang tidak memerlukan penyelidikan empiris untuk membuktikan kebenarannya.

Pengalaman yang relevan di sini umumnya merujuk pada pengalaman indrawi, meskipun beberapa pengalaman non-indrawi seperti ingatan dan introspeksi juga dianggap. Namun, fenomena sadar tertentu seperti wawasan rasional dikecualikan dari pengalaman yang dimaksud. Sebagai contoh, proses berpikir sadar mungkin diperlukan untuk mencapai pengetahuan a priori tentang solusi persoalan matematis, seperti saat melakukan aritmetika mental. Hal yang sama berlaku untuk pengalaman yang diperlukan dalam memahami kata-kata dalam suatu klaim.

Pengertian tentang bagaimana pengetahuan a priori dimungkinkan seringkali sulit dijelaskan, dan sebagian kalangan empiris menolak keberadaannya. Meskipun tidak dipertanyakan bahwa seseorang dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, namun masih belum jelas bagaimana pengetahuan dapat ada tanpa pengalaman. Salah satu penjelasan awal berasal dari Plato, yang berpendapat bahwa jiwa sudah memiliki pengetahuan tersebut dan hanya perlu diingat kembali untuk mengaksesnya. Ada juga pendekatan lain yang menganggap bahwa terdapat fakultas mental khusus yang bertanggung jawab atas jenis pengetahuan ini, sering disebut sebagai intuisi rasional atau wawasan rasional.

Pengetahuan merupakan hal yang sangat luas dan beragam dalam literatur akademis. Dalam dunia filsafat, konsep "pengetahuan-diri" mengacu pada pemahaman seseorang terhadap sensasi, pikiran, keyakinan, dan kondisi mentalnya sendiri. Umumnya dipercayai bahwa pengetahuan-diri lebih langsung daripada pengetahuan tentang dunia luar, yang bergantung pada interpretasi data indrawi. Namun, ada pandangan alternatif yang menyatakan bahwa pengetahuan-diri juga dapat salah karena tergantung pada interpretasi yang mungkin keliru.

Metapengetahuan adalah pengetahuan tentang pengetahuan itu sendiri, termasuk pengetahuan tentang pengetahuan orang lain atau informasi yang terkandung dalam artikel ilmiah. Pengetahuan umum adalah pengetahuan yang diketahui dan dibagikan oleh sebagian besar individu dalam suatu komunitas, membangun dasar bersama untuk komunikasi dan kerja sama. Pengetahuan terletak adalah pengetahuan yang spesifik pada situasi tertentu dan terkait erat dengan pengetahuan praktis yang diterapkan dalam keadaan tertentu.

Sementara itu, pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang dapat dirumuskan dan dijelaskan sepenuhnya, berbeda dengan pengetahuan implisit yang sulit untuk dijelaskan kepada orang lain. Ada juga perbedaan antara pengetahuan biologis primer dan sekunder, serta antara pengetahuan aktual dan disposisional. Tradisi kerohanian dan agama Timur sering membedakan antara pengetahuan tinggi dan rendah, dengan pengetahuan tinggi merujuk pada pemahaman tentang realitas tertinggi atau Tuhan.

Begitu banyak aspek pengetahuan yang dapat dieksplorasi, dan penting untuk terus memperdalam pemahaman kita tentang konsep ini.

Sumber pengetahuan adalah cara bagi manusia untuk mengenali dan memahami sesuatu. Ini adalah kemampuan kognitif yang bekerja saat seseorang memperoleh pengetahuan baru. Berbagai sumber pengetahuan banyak dibahas dalam literatur akademis, sering kali dilihat melalui proses mental yang melahirkan pengetahuan tersebut. Persepsi, introspeksi, ingatan, penalaran, dan kesaksian adalah beberapa contoh sumber pengetahuan yang penting.

Persepsi, atau pengamatan menggunakan indra, dianggap sebagai sumber pengetahuan empiris yang paling penting. Introspeksi, di sisi lain, melibatkan pengamatan terhadap keadaan mental internal. Ingatan memainkan peran penting dalam menjaga pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya. Pengetahuan yang muncul dari persepsi, introspeksi, dan ingatan dapat berkembang menjadi pengetahuan inferensial, di mana penalaran digunakan untuk menarik kesimpulan dari fakta yang diketahui.

Kesaksian juga dianggap sebagai sumber pengetahuan tambahan, di mana seseorang dapat mengetahui suatu fakta karena diberitahukan oleh orang lain. Namun, keandalan sumber kesaksian harus dipertimbangkan untuk memastikan kebenaran pengetahuan yang diperoleh. Dalam konteks pengetahuan, semua sumber tersebut saling melengkapi untuk membantu manusia memahami dunia di sekitar mereka.

Batasan dalam pengetahuan melibatkan pertanyaan tentang fakta-fakta yang tidak diketahui. Batasan-batasan ini menciptakan bentuk ketidaktahuan yang tidak dapat dihindari, yang dapat melibatkan apa yang manusia tahu tentang dunia luar, diri mereka sendiri, dan konsep kebaikan. Beberapa batasan pengetahuan hanya berlaku untuk individu tertentu dalam situasi khusus, sementara yang lain berlaku untuk manusia secara keseluruhan. Sebuah fakta dianggap tidak diketahui oleh seseorang jika mereka tidak memiliki akses ke informasi yang relevan, seperti peristiwa masa lalu yang tidak meninggalkan jejak yang jelas. Misalnya, saat ini tidak mungkin bagi kita untuk mengetahui apa yang dimakan Caesar saat dia dibunuh, meskipun informasi itu mungkin diketahui olehnya atau orang lain pada zamannya. Batasan lainnya muncul dari keterbatasan kognitif manusia, di mana beberapa orang mungkin tidak dapat memahami konsep matematika yang sangat abstrak atau fakta yang melebihi kapasitas pemikiran manusia. Selain itu, batasan pengetahuan juga dapat muncul dari paradoks logis tertentu.

Debat mengenai apa yang mungkin atau tidak mungkin diketahui terjadi dalam berbagai bidang. Skeptisisme agama berpendapat bahwa keyakinan tentang Tuhan atau aspek keagamaan tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan. Skeptisisme moral juga mengemukakan pandangan yang berbeda, termasuk pendapat bahwa pengetahuan moral tidak mungkin, bahwa seseorang tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang benar-benar baik atau apakah suatu tindakan adalah benar secara moral. Immanuel Kant mengajukan teori tentang batasan pengetahuan dalam metafisika, di mana ia berpendapat bahwa pengetahuan terbatas pada penampakan dan tidak dapat mencapai esensi benda itu sendiri.

Dalam ilmu pengetahuan empiris, terdapat batasan seperti prinsip ketidakpastian yang menyatakan bahwa tidak mungkin untuk mengetahui secara tepat dua besaran fisik tertentu pada saat yang sama. Contoh lain adalah sistem fisik yang dipelajari dalam teori chaos, di mana perilakunya tidak dapat diprediksi secara pasti karena sensitif terhadap kondisi awal; sedikit perbedaan saja dapat menghasilkan hasil yang berbeda.

Pandangan skeptisisme radikal menyatakan bahwa manusia sama sekali tidak memiliki pengetahuan atau bahwa pengetahuan itu tidak mungkin. Ada juga pandangan falibilis yang menyatakan bahwa kemungkinan kesalahan tidak dapat sepenuhnya dihilangkan. Beberapa falibilis menyimpulkan bahwa pengetahuan sejati tidak ada, sementara yang lain berpendapat bahwa meskipun pengetahuan ada, tetapi mungkin keliru. Kesimpulan pragmatis dari falibilisme adalah bahwa penyelidikan sebaiknya tidak mencari kebenaran mutlak, melainkan keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan, namun tetap terbuka untuk direvisi di masa depan.

Struktur pengetahuan melibatkan hubungan antara keadaan mental seseorang agar pengetahuan dapat terbentuk. Konsep umum menyatakan bahwa seseorang harus memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankan keyakinannya agar diakui sebagai pengetahuan. Ketika keyakinan dipertanyakan, orang tersebut bisa mempertahankannya dengan merujuk pada alasan yang mendasarinya. Namun, seringkali alasan tersebut bergantung pada keyakinan lain yang juga bisa dipertanyakan. Misalnya, jika seseorang percaya bahwa mobil Ford lebih murah daripada BMW, mereka mungkin menjelaskan bahwa informasi tersebut berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Namun, pembenaran ini bergantung pada kepercayaan bahwa sumber tersebut memang dapat dipercaya, yang pada akhirnya juga dapat dipertanyakan.

Ada tiga teori tradisional tentang struktur pengetahuan: fondasionalisme, koherensisme, dan infinitisme. Fondasionalisme dan koherensisme menolak ide regresi tak berhingga, berbeda dengan infinitisme. Fondasionalis berpendapat bahwa terdapat alasan dasar yang memiliki status epistemik secara independen, tanpa bergantung pada alasan lain. Beberapa fondasionalis berpendapat bahwa sumber pengetahuan seperti persepsi memberikan alasan dasar, sementara pandangan lain menyatakan bahwa kebenaran yang tidak diragukan, seperti pengetahuan tentang diri sendiri, dapat menjadi alasan dasar. Namun, ide tentang keberadaan alasan dasar ini tidak selalu diterima secara universal.

Koherensisme dan infinitisme menghindari masalah ini dengan menolak perbedaan antara alasan dasar dan non-dasar. Koherensisme berpendapat bahwa sejumlah alasan terbatas yang saling mendukung dan membenarkan satu sama lain. Sementara itu, infinitisme menganggap bahwa jumlah alasan tidak terbatas, dengan setiap alasan bergantung pada alasan lain. Namun, tantangan terbesar bagi infinitisme adalah keterbatasan pikiran manusia dalam menampung jumlah alasan yang tak terbatas ini. Jadi, pertanyaannya adalah: apakah pengetahuan manusia benar-benar ada menurut pandangan infinitisme?

Pengetahuan memiliki nilai karena dua alasan: ia bisa berguna, atau ia bernilai pada dirinya sendiri. Pengetahuan menjadi berguna ketika ia menolong seseorang meraih tujuannya. Misalnya, mengetahui jawaban ujian memungkinkan seseorang lulus, atau mengetahui kuda mana yang tercepat memberi peluang memenangkan taruhan. Dalam kasus semacam ini, pengetahuan memiliki nilai instrumental. Namun, tidak semua pengetahuan membawa manfaat. Banyak keyakinan tentang hal-hal remeh sama sekali tidak memiliki nilai instrumental, seperti mengetahui jumlah butir pasir di sebuah pantai tertentu atau menghafal nomor telepon yang tidak pernah akan dipanggil. Dalam keadaan tertentu, pengetahuan bahkan dapat bernilai negatif. Jika keselamatan hidup seseorang bergantung pada keberanian melompat melewati jurang, maka pengetahuan yang benar tentang bahaya yang mengintai justru dapat melemahkan tekadnya.

Selain nilai instrumental, pengetahuan juga dapat memiliki nilai intrinsik. Artinya, ada bentuk-bentuk pengetahuan yang baik pada dirinya sendiri, meski tidak membawa keuntungan praktis. Filsuf Duncan Pritchard berpendapat bahwa hal ini berlaku bagi pengetahuan yang terkait dengan kebijaksanaan. Namun, terdapat perdebatan apakah semua pengetahuan memiliki nilai intrinsik, termasuk pengetahuan tentang fakta-fakta sepele, misalnya mengetahui apakah pohon apel terbesar kemarin pagi memiliki jumlah daun genap. Salah satu pandangan yang membela nilai intrinsik pengetahuan menyatakan bahwa tidak memiliki keyakinan tentang suatu hal adalah keadaan netral, dan pengetahuan selalu lebih baik daripada keadaan netral ini, meskipun selisih nilainya sangat tipis.

Salah satu persoalan khas dalam epistemologi adalah apakah, dan mengapa, pengetahuan lebih bernilai daripada sekadar keyakinan benar. Secara umum diakui bahwa pengetahuan itu baik dalam suatu pengertian, tetapi gagasan bahwa ia lebih berharga daripada keyakinan benar masih diperdebatkan. Diskusi awal persoalan ini ditemukan dalam dialog Plato, Meno, terkait klaim bahwa baik pengetahuan maupun keyakinan benar sama-sama dapat menuntun tindakan secara efektif, sehingga tampaknya memiliki nilai yang setara. Misalnya, keyakinan benar saja tampak cukup memadai untuk menemukan jalan menuju Larissa. Menurut Plato, pengetahuan lebih unggul karena ia lebih mantap dan stabil. Pandangan lain menyatakan bahwa nilai tambahan pengetahuan terletak pada pembenarannya. Namun, sulit dijelaskan apa nilai tambahan itu, sebab meskipun pembenaran membuat suatu keyakinan lebih mungkin benar, tidak jelas apa yang membedakan nilainya dari keyakinan yang benar tetapi tidak dibenarkan.

Persoalan nilai pengetahuan kerap dibahas dalam kaitannya dengan reliabilisme dan epistemologi kebajikan. Reliabilisme berpendapat bahwa pengetahuan adalah keyakinan benar yang terbentuk melalui cara yang andal. Namun, pandangan ini sulit menjelaskan mengapa pengetahuan bernilai, atau bagaimana proses pembentukan keyakinan yang andal memberi nilai tambahan. Filsuf Linda Zagzebski mengajukan analogi: secangkir kopi dari mesin kopi yang andal tidak lebih bernilai daripada kopi sama baiknya yang dibuat mesin yang tak andal. Kesulitan inilah yang kerap dijadikan alasan untuk menolak reliabilisme. Sebaliknya, epistemologi kebajikan menawarkan jawaban yang khas. Para penganutnya memandang pengetahuan sebagai manifestasi dari kebajikan kognitif, dan nilai tambah pengetahuan lahir dari keterkaitannya dengan kebajikan. Gagasan ini berpijak pada pandangan bahwa keberhasilan kognitif yang muncul dari kebajikan itu sendiri sudah bernilai, terlepas dari manfaat instrumental yang mungkin dihasilkan.

Memperoleh dan mewariskan pengetahuan kerap menuntut biaya: sumber daya material untuk menggali informasi baru, juga waktu dan tenaga untuk memahaminya. Karena itu, kesadaran akan nilai pengetahuan amat penting di berbagai bidang yang harus menentukan apakah suatu pengetahuan layak dicari. Dalam ranah politik, hal ini menyangkut keputusan memilih program riset yang paling menjanjikan untuk didanai. Pertimbangan serupa berlaku di dunia bisnis, ketika pemangku kepentingan harus menilai apakah biaya memperoleh pengetahuan sepadan dengan keuntungan ekonominya; begitu pula di ranah militer, yang mengandalkan intelijen militer untuk mengenali dan mencegah ancaman. Dalam pendidikan, pemahaman tentang nilai pengetahuan digunakan untuk menentukan pengetahuan apa yang layak diwariskan kepada peserta didik.

Sejarah pengetahuan adalah bidang studi yang mengkaji bagaimana pengetahuan berkembang dan berubah sepanjang sejarah. Disiplin ini tidak hanya melibatkan Sejarah ilmu pengetahuan, tetapi juga mencakup beragam bidang seperti filsafat, matematika, sastra, seni, dan agama. Sejarah pengetahuan juga mencakup pengetahuan praktis dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari kerajinan hingga pengobatan.

Sebelum zaman peradaban kuno, pengetahuan ditularkan secara lisan dan melalui tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada zaman kuno, peradaban besar muncul di Mesopotamia, Mesir, India, dan Tiongkok sekitar 3000 SM. Penemuan sistem tulisan pada masa ini menjadi titik balik penting dalam penyimpanan dan penyebaran pengetahuan.

Di Abad Pertengahan, pengetahuan religius mendominasi, dengan lembaga keagamaan seperti Gereja Katolik di Eropa yang memegang peranan penting dalam kehidupan intelektual. Di dunia Islam, madrasah menjadi pusat pendidikan utama yang menekankan pada Hukum Islam dan Filsafat Islam. Pada Zaman Keemasan Islam, beberapa pusat keilmuan ternama didirikan dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

Masuk ke era Renaisans, perhatian manusia bergeser kembali ke studi humaniora dan ilmu pengetahuan. Penemuan mesin cetak pada abad ke-15 membantu meningkatkan akses terhadap bahan bacaan yang kemudian membawa pada Revolusi Ilmiah di Abad Pencerahan. Revolusi ini membawa ledakan pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang kemudian membuka jalan bagi Revolusi Industri pada abad ke-18 dan ke-19.

Pada abad ke-20, kemajuan teknologi seperti komputer dan Internet telah merevolusi cara pengetahuan disimpan, dibagikan, dan diciptakan, sehingga meluaskan cakrawala pengetahuan manusia secara signifikan.

Dalam berbagai disiplin

Agama 

Desakralisasi pengetahuan dan Resakralisasi pengetahuan
Pengetahuan memiliki peran yang sangat penting dalam banyak agama. Hampir di setiap budaya, terdapat klaim pengetahuan tentang keberadaan Tuhan dan ajaran agama mengenai cara manusia menjalani hidupnya. Namun, klaim semacam ini sering menimbulkan kontroversi dan seringkali ditolak oleh skeptis agama dan para ateis. Epistemologi agama adalah bidang studi yang meneliti apakah iman kepada Tuhan dan doktrin-doktrin agama lainnya dapat dianggap sebagai pengetahuan yang rasional dan pantas.

Salah satu pandangan penting adalah evidensialisme, yang mengatakan bahwa keyakinan religius hanya benar jika didukung oleh bukti yang memadai. Salah satu contoh bukti yang sering disebut adalah pengalaman religius: pertemuan langsung dengan Yang Ilahi atau pengalaman batin saat mendengar suara Tuhan. Kaum evidensialis sering menolak klaim bahwa doktrin agama bisa dianggap sebagai pengetahuan, dengan alasan bahwa buktinya tidak memadai. Bertrand Russell pernah mengatakan bahwa "Bukti tidak cukup, Tuhan! Bukti tidak cukup" ketika ditanya bagaimana ia akan membela ketidakpercayaannya di hadapan Tuhan.

Namun, tidak semua ajaran agama memandang klaim tentang keberadaan dan hakikat Tuhan sebagai pengetahuan. Sebagian meyakini bahwa sikap yang benar terhadap doktrin-doktrin tersebut adalah iman, bukan pengetahuan. Mereka meyakini bahwa doktrin tersebut benar, namun tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh akal atau diverifikasi secara rasional. Oleh karena itu, doktrin tersebut harus diterima meskipun tidak dianggap sebagai pengetahuan. Pandangan ini sejalan dengan ungkapan terkenal Immanuel Kant, yang mengatakan bahwa dia harus "menolak pengetahuan untuk memberi ruang bagi iman".

Agama-agama yang berbeda memiliki pandangan yang berbeda mengenai doktrin-doktrin mereka dan peran pengetahuan dalam kehidupan religius. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, pengetahuan memainkan peran penting dalam kisah kejatuhan manusia, ketika Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden karena melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah dari pohon pengetahuan. Dalam literatur Kristen, pengetahuan bahkan disebut sebagai salah satu dari tujuh karunia Roh Kudus.

Dalam Islam, pengetahuan adalah salah satu sifat Allah Yang Maha Mengetahui, dan Al-Qur'an menekankan pentingnya mencari ilmu dalam ajaran Nabi Muhammad. Dalam Buddhisme, pengetahuan yang membawa pada pembebasan disebut vijjā, sementara ketidaktahuan dianggap sebagai akar dari penderitaan. Dalam Hindu klasik, pengetahuan memainkan peran sentral melalui jalan jñāna yoga atau "jalan pengetahuan" yang membawa pada kesatuan dengan Yang Ilahi.

Antropologi pengetahuan adalah bidang studi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Fokus utamanya adalah bagaimana pengetahuan diperoleh, disimpan, diingat, dan disampaikan. Penelitian ini menyoroti bagaimana pengetahuan direproduksi dan berubah sesuai dengan kondisi sosial dan budaya. Dalam konteks ini, pengetahuan didefinisikan secara luas, sejalan dengan pemahaman dan budaya. Antropologi pengetahuan tidak hanya mempertimbangkan kebenaran pengetahuan, tetapi juga bagaimana manusia memberikan nilai pada makna tertentu, bahkan jika klaim tersebut keliru. Pengetahuan juga melibatkan aspek praktis, digunakan untuk menafsirkan dan bertindak di dunia, serta membantu manusia mempersiapkan diri dan merespons situasi dengan tepat.

Proses reproduksi dan transformasi pengetahuan terjadi melalui berbagai bentuk komunikasi, seperti percakapan langsung, komunikasi online, seminar, dan ritual. Di dunia akademis, lembaga seperti departemen universitas dan jurnal ilmiah memainkan peran penting dalam hal ini. Antropolog pengetahuan tertarik pada cara tradisi dipertahankan dan dimodifikasi melalui interaksi antar masyarakat. Identitas sosial memainkan peran kunci dalam cara individu memahami dan mengorganisasi pengetahuan mereka, tergantung pada identitas usia, profesi, agama, atau etnis. Identitas ini mempengaruhi cara individu melihat diri sendiri dan bagaimana orang lain melihatnya, serta harapan yang melekat pada dirinya.

Sosiologi pengetahuan merupakan bagian penting dari ilmu sosiologi yang mengkaji hubungan antara pikiran dan masyarakat. Bidang ini tidak hanya memperhatikan pengetahuan dalam arti luas, melainkan juga menyelidiki asal-usul, konsekuensi, dan ketergantungan pengetahuan pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya. Misalnya, Karl Marx berpendapat bahwa ideologi masyarakat dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi yang ada dan akan berubah seiring perubahan kondisi tersebut. Selain itu, kajian dekolonial juga menyoroti bagaimana kekuatan kolonial mempengaruhi hegemoni pengetahuan Barat, dan perlunya dekolonisasi pengetahuan untuk mengatasi dominasi tersebut.

Sosiologi pengetahuan juga mencakup sosiologi pengetahuan ilmiah, yang mengkaji faktor-faktor sosial dalam proses lahirnya dan diakuiinya pengetahuan ilmiah. Hal ini termasuk distribusi sumber daya, mekanisme seleksi, dan nilai-nilai yang dianut dalam dunia akademik. Misalnya, bagaimana jurnal akademik memilih artikel yang akan diterbitkan, atau bagaimana institusi akademik merekrut peneliti. Selain itu, sosiologi pengetahuan juga menyelidiki kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan, seperti yang ditunjukkan oleh Michel Foucault dalam konsep biopower, di mana lembaga-lembaga dan pengetahuan yang dihasilkannya dapat mengendalikan masyarakat melalui norma, nilai, dan mekanisme pengaturan tertentu.

Epistemologi formal adalah bidang kajian yang meneliti pengetahuan menggunakan alat formal yang ditemukan dalam matematika dan logika. Salah satu isu penting dalam bidang ini adalah prinsip-prinsip epistemik pengetahuan, yaitu aturan yang mengatur bagaimana pengetahuan dan keadaan terkait berfungsi dan berkaitan satu sama lain. Prinsip keterbukaan, juga dikenal sebagai luminositas pengetahuan, menyatakan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui sesuatu tanpa mengetahui bahwa ia mengetahuinya. Prinsip konjungsi menyatakan bahwa jika seseorang memiliki keyakinan yang terjustifikasi tentang dua proposisi terpisah, maka ia juga dapat meyakini konjungsi dari keduanya. Prinsip lain yang sering dibahas meliputi prinsip penutupan dan prinsip transfer evidensi.

Manajemen pengetahuan adalah proses menciptakan, mengumpulkan, menyimpan, dan membagikan pengetahuan. Proses ini melibatkan pengelolaan aset informasi berupa dokumen, basis data, kebijakan, dan prosedur. Manajemen pengetahuan sangat penting dalam dunia bisnis dan pengembangan organisasi karena memengaruhi pengambilan keputusan dan perencanaan strategis. Upaya manajemen pengetahuan dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional guna memperoleh keunggulan kompetitif. Proses utama dalam manajemen pengetahuan mencakup penciptaan, penyimpanan, berbagi pengetahuan, dan penerapannya.

Representasi pengetahuan adalah proses penyimpanan informasi yang terorganisir melalui berbagai bentuk media dan dalam ingatan manusia. Konsep ini penting dalam bidang kecerdasan buatan, di mana sistem komputer merepresentasikan informasi secara efisien. Studi ini berfokus pada bagaimana struktur data dan prosedur interpretatif dapat dikombinasikan untuk mencapai tujuan tersebut. Representasi pengetahuan berkaitan erat dengan penalaran otomatis untuk membangun basis pengetahuan dari mana inferensi dapat ditarik. Bentuk formal basis pengetahuan yang berpengaruh meliputi sistem berbasis logika, sistem berbasis aturan, jaringan semantik, dan kerangka.

Pedagogi adalah studi tentang metode pengajaran atau seni mengajar. Ia meneliti bagaimana pembelajaran berlangsung dan teknik pengajaran yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan pengetahuan kepada murid dan meningkatkan pengalaman belajar mereka sekaligus menjaga motivasi. Terdapat beragam metode pengajaran yang efektivitasnya ditentukan oleh faktor seperti materi pelajaran, usia, dan tingkat kemahiran murid. Dalam pendidikan yang berpusat pada guru, guru berperan sebagai otoritas yang menyampaikan informasi dan mengarahkan proses belajar. Sebaliknya, pendekatan berpusat pada murid memberi peran lebih aktif kepada siswa, dengan guru bertindak sebagai pembimbing yang memfasilitasi proses tersebut. Pertimbangan metodologis lainnya mencakup perbedaan antara kerja kelompok dan pembelajaran individual, serta pemanfaatan media instruksional dan teknologi pendidikan lainnya. 



0 comments:

Posting Komentar