Kognisi atau kemampuan berpikir adalah proses mental yang melibatkan aktivitas berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Proses ini melibatkan kegiatan mengingat, menganalisis, memahami, menilai, bernalar, membayangkan, dan berbahasa untuk memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan tersebut. Kapasitas kognisi sering dihubungkan dengan kecerdasan atau inteligensi seseorang. Berbagai bidang ilmu, seperti psikologi, filsafat, komunikasi, ilmu saraf, dan kecerdasan buatan, mempelajari tentang kognisi.
Keyakinan atau pengetahuan seseorang tentang sesuatu diyakini dapat memengaruhi sikap mereka, yang pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku atau tindakan mereka terhadap sesuatu. Mengubah pengetahuan seseorang tentang suatu hal diyakini dapat mengubah perilaku mereka.
Kata kognisi yang telah berkembang sejak abad ke-15 memiliki arti sebagai "pemikiran dan kesadaran". Asal usul kata ini berasal dari Bahasa Latin, cognitio, yang berarti "pemeriksaan," "belajar," atau "pengetahuan". Kata ini berasal dari kata kerja cognosco, yang terdiri dari con (dengan) dan gnōscō (tahu). Gnōscō sendiri terkait dengan kata kerja Yunani, gi(g)nόsko, yang artinya "Saya tahu," atau "persepsi".
Sejarah
Istilah kognitif berasal dari bahasa Latin cognoscere yang berarti mengetahui. Kognitif juga dapat diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan untuk memperoleh pengetahuan. Filsuf menggunakan istilah ini untuk mencari pemahaman terhadap cara manusia berpikir. Karya Plato dan Aristotle telah membahas topik kognitif karena salah satu tujuan filsafat adalah memahami gejala alam melalui pemahaman manusia.
Aristoteles fokus pada area kognitif yang terkait dengan memori, persepsi, dan citra mental. Dia menekankan bahwa studinya berdasarkan bukti empiris, yaitu informasi ilmiah yang dikumpulkan melalui pengamatan dan eksperimen yang teliti. Kognitif dipahami sebagai proses mental karena mencerminkan pemikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Kognitif tidak dapat diukur langsung, melainkan melalui perilaku yang dapat diamati. Sebagai contoh, kemampuan seorang anak mengingat angka dari 1 hingga 20, atau kemampuan menyelesaikan teka-teki.
Psikologi kognitif berkembang untuk menyelidiki proses berpikir manusia. Proses berpikir melibatkan otak dan saraf sebagai alat berpikir manusia, sehingga ilmu saraf kognitif berkembang untuk menyelidiki fungsi otak dalam berpikir. Ilmu saraf kognitif menghubungkan otak dengan pengolahan kognitif dan perilaku.
Proses kognitif menggabungkan informasi dari indra tubuh manusia dengan informasi yang tersimpan di ingatan jangka panjang. Informasi ini diolah di ingatan kerja sebagai tempat pemrosesan informasi. Proses ini dibatasi oleh kapasitas ingatan kerja dan faktor waktu. Proses selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan yang dipilih. Perkembangan kognitif seseorang dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan. Kognisi berkaitan dengan emosi seseorang. Reprentasi kognitif seperti pikiran dan citra dapat memengaruhi emosi. Terdapat hubungan timbal balik antara kognisi dan suasana hati.
Pendekatan kognitif tidak mengesampingkan pendekatan lain terhadap gangguan emosional seperti sosial atau biologis. Kemampuan kognitif tercermin dalam perilaku kognitif, yaitu bagaimana individu mengenali lingkungannya dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kognitif manusia meliputi pemikiran, perhatian, pengamatan, bayangan, perkiraan, dan penilaian terhadap lingkungan. Tahapan ini dimulai dari usia dini hingga tidak ada perkembangan lebih lanjut.
Fungsi-fungsi kognisi
Atensi dan kesadaran
Atensi merupakan kemampuan manusia untuk memproses informasi dari lingkungan sekitarnya dengan cermat dan sadar. Proses ini melibatkan pemilihan informasi yang relevan (atensi terpilih) dan kemampuan untuk membagi perhatian pada beberapa hal sekaligus (atensi terbagi). Kesadaran mencakup kesadaran diri dan kesadaran terhadap lingkungan sekitar, yang menjadi fokus dari proses atensi.
Persepsi
Persepsi melibatkan proses pengenalan, pengorganisasian, dan pemahaman sensasi yang diterima melalui indra kita dari lingkungan sekitar. Rangsangan visual memainkan peran penting dalam membentuk persepsi, karena memberikan data awal yang akan diolah oleh proses kognisi.
Ingatan
Ingatan memungkinkan manusia untuk menyimpan, mempertahankan, dan mengakses informasi dari pengalaman masa lalu. Ada dua jenis ingatan, yaitu ingatan implisit dan eksplisit. Proses mengingat melibatkan penyimpanan informasi, baik dalam ingatan jangka pendek maupun jangka panjang, untuk kemudian dipanggil kembali saat diperlukan.
Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi yang memungkinkan manusia untuk menyampaikan pikiran dan ide-ide abstrak. Dengan menggunakan kombinasi kata-kata, manusia dapat berkomunikasi dengan orang lain dan menyampaikan informasi yang tidak dapat diperoleh melalui indra.
Pemecahan masalah dan kreativitas
Pemecahan masalah melibatkan upaya untuk mengatasi hambatan dalam menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang orisinal dan berguna. Proses ini melibatkan kreativitas dalam menghasilkan solusi yang efektif.
Pengambilan keputusan dan penalaran
Dalam mengambil keputusan, manusia menggunakan penalaran untuk mengevaluasi pilihan yang tersedia berdasarkan prinsip-prinsip dan fakta yang ada. Penalaran dapat berupa deduktif atau induktif, tergantung pada cara manusia memproses informasi untuk membuat keputusan yang tepat.
Kognisi dalam ilmu psikologi melibatkan pemrosesan informasi dari fungsi psikologis individu dan rekayasa kognitif. Dalam studi kognisi sosial, istilah ini digunakan untuk menjelaskan sikap, atribusi, dan dinamika kelompok.
Kognisi manusia meliputi proses memori, asosiasi, pembentukan konsep, pengenalan pola, bahasa, perhatian, persepsi, tindakan, pemecahan masalah, dan citra mental. Emosi kini juga menjadi fokus penelitian dalam psikologi kognitif, bersama dengan metakognisi, yaitu kesadaran seseorang terhadap strategi dan metode kognitifnya sendiri.
Teori perkembangan kognitif Piaget merupakan kontribusi besar dalam memahami pemikiran manusia, dengan fokus pada tahap perkembangan anak-anak. Berbagai tes kognitif, seperti posisi serial, keunggulan kata, Brown-Peterson, rentang ingatan, dan pencarian visual, digunakan untuk mempelajari proses kognitif manusia.
Eksperimen posisi serial menguji teori memori dalam mengingat informasi serial, sementara eksperimen keunggulan kata fokus pada bahasa. Brown-Peterson dan rentang ingatan menguji memori jangka pendek manusia, sedangkan pencarian visual adalah paradigma dalam penelitian perhatian visual.
Jean Piaget, sebagai tokoh penting dalam psikologi perkembangan, memperkaya pemahaman kita tentang proses kognisi manusia. Berbagai tipe tes kognitif membantu ilmu psikologi untuk lebih memahami bagaimana manusia berpikir dan memproses informasi.
Metakognisi telah menjadi fokus utama penelitian perkembangan kognitif selama 30 tahun terakhir. John Flavell diakui sebagai 'bapak bidang' dalam memulai kegiatan penelitian tentang metakognisi, yang kemudian diikuti oleh banyak penelitian empiris dan teoretis yang berkaitan dengan konsep tersebut.
Istilah 'metakognisi' digunakan untuk merujuk pada berbagai proses epistemologis. Pada dasarnya, metakognisi adalah pemikiran tentang pemikiran; artinya, ini mengacu pada kognisi tingkat kedua: refleksi tentang tindakan, pengetahuan tentang pengetahuan, atau pikiran tentang pikiran. Jika kognisi melibatkan persepsi, pemahaman, dan ingatan, maka metakognisi melibatkan pemikiran tentang persepsi, pemahaman, dan ingatan itu sendiri.



0 comments:
Posting Komentar