Budi atau akal budi adalah serangkaian kemampuan kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pertimbangan, dan ingatan pada manusia dan makhluk hidup lain. Berbagai tradisi dalam filsafat, agama, psikologi, dan ilmu daya pikir telah berupaya untuk memahami budi dan properti-propertinya. Permasalahan utama yang terkait dengan budi adalah hubungannya dengan otak dan sistem saraf, yang biasa disebut masalah budi-tubuh. Berbagai pendekatan telah diajukan, seperti dualisme yang menyatakan bahwa budi terpisah dari tubuh dan fisikalisme yang menekankan bahwa budi berasal dari dan dapat direduksi ke fenomena fisik seperti proses neurologis. Permasalahan lain terkait dengan keberadaan budi seperti yang ada pada hewan atau kecerdasan buatan.
Beberapa filsuf budi yang penting adalah Plato, Descartes, Leibniz, Kant, Martin Heidegger, John Searle, dan Daniel Dennett. Psikolog seperti Sigmund Freud dan William James juga telah mengembangkan teori budi manusia yang berpengaruh. Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, sains kognitif berkembang dan menyebabkan munculnya berbagai pendekatan baru.
Budi atau mentalitas biasanya dikontraskan dengan tubuh, materi, atau fisik. Masalah sifat kontras ini dan khususnya hubungan antara pikiran dan otak disebut masalah pikiran-tubuh. Sudut pandang tradisional termasuk dualisme dan idealisme, yang menganggap pikiran sebagai non-fisik. Pandangan modern sering berpusat pada fisikalisme dan fungsionalisme, yang berpendapat bahwa pikiran secara kasar seiras dengan otak atau dapat direduksi menjadi fenomena fisik seperti kegiatan saraf. Penyair Paul Valéry menyatakan tugas budi adalah menghasilkan masa depan, budi pada dasarnya adalah antisipator, pembangkit harapan. Budi mengambil petunjuk dari masa kini, yang kemudian diasah dengan bantuan bahan yang disimpannya dari masa lalu, mengubahnya menjadi antisipasi masa depan. Lalu budi bertindak, secara rasional, atas dasar antisipasi yang diperoleh dengan susah payah.
Psikolog seperti Freud dan James, dan ilmuwan komputer seperti Turing mengembangkan teori yang berpengaruh tentang sifat pikiran. Kemungkinan pikiran nonbiologis dieksplorasi di bidang kecerdasan buatan, yang bekerja erat dalam kaitannya dengan sibernetika dan teori informasi untuk memahami cara pemrosesan informasi oleh mesin nonbiologis sebanding atau berbeda dengan fenomena mental dalam pikiran manusia. Pikiran juga terkadang digambarkan sebagai aliran kesadaran di mana kesan indera dan fenomena mental terus berubah.
Mayoritas dari pikiran dan budi manusia bersifat 'sub-kritis'. Hal ini karena ide yang disajikan kepada pikiran seperti itu rata-rata akan memunculkan kurang dari satu ide sebagai jawaban, tetapi sebagian kecil sangat kritis. Pikiran yang sebenarnya harus dikupas mendalam untuk mendapatkan ide inti dari pikiran seseorang.
Kata "Budi" berasal dari bahasa Jawa yang merupakan serapan dari kata Sanskerta "buddhi". Sementara itu, kata "minda" berasal dari bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Inggris Kuno "gemynd" dengan arti kemampuan ingatan, namun bukan akal budi secara umum.
Budi atau akal pikiran sering dipahami sebagai kemampuan yang memanifestasikan dirinya dalam fenomena mental seperti sensasi, persepsi, pemikiran, penalaran, memori, keyakinan, keinginan, emosi, dan motivasi. Pikiran atau mentalitas biasanya dibandingkan dengan tubuh, materi, atau fisik. Inti dari perbedaan ini adalah keyakinan bahwa pikiran memiliki fitur yang berbeda dan mungkin tidak sesuai dengan alam semesta material seperti yang dijelaskan oleh ilmu alam. Menurut pandangan substansialis yang secara tradisional dominan terkait dengan René Descartes, pikiran diinterpretasikan sebagai substansi berpikir yang mandiri. Namun, dalam filsafat kontemporer, pikiran dipahami bukan sebagai zat, tetapi sebagai sifat atau kapasitas yang dimiliki oleh manusia dan hewan yang lebih tinggi.
Meskipun terdapat kesepakatan ini, masih terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai sifat sejati dari budi dan berbagai definisi yang bersaing telah diajukan. Pengertian filsafat tentang budi biasanya tidak hanya berasal dari berbagai jenis peristiwa budi, tetapi juga mencari "tanda mental": bagian yang dimiliki oleh semua kondisi mental dan hanya oleh kondisi mental. Pendekatan epistemik mengartikan keadaan mental dalam hal akses epistemik istimewa yang dimiliki subjek ke keadaan ini. Ini sering dikombinasikan dengan pendekatan berbasis kesadaran, yang menekankan keunggulan kesadaran dalam kaitannya dengan pikiran. Pendekatan berbasis intensionalitas, di sisi lain, melihat kekuatan pikiran untuk merujuk pada objek dan mewakili dunia sebagai cara tertentu sebagai tanda mental. Menurut behaviorisme, apakah suatu entitas memiliki pikiran hanya bergantung pada bagaimana ia berperilaku dalam menanggapi rangsangan luar, sementara fungsionalisme mengartikan keadaan mental dalam hal peran kausal yang mereka mainkan.
Pendekatan epistemik menekankan bahwa subjek memiliki akses istimewa ke semua atau setidaknya beberapa kondisi mental mereka. Kadang-kadang diklaim bahwa akses terhadap mental ini langsung, pribadi, dan sempurna. Akses langsung mengacu pada pengetahuan non-inferensial. Hak istimewa epistemik lain yang sering disebutkan adalah bahwa keadaan mental bersifat pribadi berbeda dengan fakta eksternal publik. Secara tradisional sering diklaim bahwa kita memiliki pengetahuan yang sempurna tentang keadaan mental kita sendiri, yaitu bahwa kita tidak dapat salah tentang mereka ketika kita memilikinya. Salah satu cara untuk menanggapi kekhawatiran ini adalah dengan menganggap status istimewa dari kondisi mental sadar. Pada pendekatan berbasis kesadaran, keadaan mental sadar adalah konstituen non-turunan dari pikiran, sementara keadaan bawah sadar bergantung pada alam sadar mereka untuk keberadaannya.
Filsuf Danil Dennett mengajukan batasan dalam memahami kesadaran agar tidak keliru dengan pertanyaan ontologis dan epistemik. Contohnya, bagaimana rasanya memperhatikan bahwa lengan kiri tertindih ketika tidur? Jawabannya tidak ada dan bukan bagian dari pengalaman. Dalam proses tersebut, seseorang yang tertindih saat tidur akan kembali ke posisi yang lebih nyaman tanpa menyadarinya. Maka, ketika mendiskusikan perilaku seperti itu, bukan bagian dari kehidupan mental seseorang. Jadi, satu kemungkinan lain adalah bahwa di antara makhluk tak berbahasa ada yang tidak memiliki budi sama sekali, tapi melakukan segala sesuatu "secara otomatis" atau "tanpa sadar".
Pendekatan berbasis intensionalitas melihat intensionalitas sebagai tanda mental. Pencetus pendekatan ini adalah Franz Brentano, yang mengartikan intensionalitas sebagai karakteristik keadaan mental untuk merujuk atau menjadi tentang objek. Intensionalitas dalam arti filosofis hanyalah ketentangan, sesuatu memperlihatkan intensionalitas jika kompetensinya dalam suatu hal adalah tentang sesuatu yang lain dengan kata lain bahwa sesuatu yang memperlihatkan intensionalitas mengandung representasi sesuatu yang lain. Salah satu keuntungan pendekatan ini dibandingkan dengan pendekatan epistemik adalah bahwa ia tidak memiliki masalah untuk menjelaskan keadaan mental bawah sadar: mereka bisa disengaja seperti berada pada keadaan mental sadar dan dengan demikian memenuhi syarat sebagai konstituen pikiran. Namun masalah untuk pendekatan ini adalah bahwa ada juga beberapa entitas non-mental yang memiliki intensionalitas, seperti peta atau ekspresi linguistik.
Menurut beberapa filsuf, mengikuti John Searle (1980), intensionalitas muncul dalam dua variasi, intrinsik (atau orisinal) dan turunan. Intensionalitas intrinsik adalah ketentangan pemikiran kita, hasrat kita, intensi kita. Intensionalitas ini adalah sumber jelas jenis ketentangan turunan, yang sangat terbatas, yang diperlihatkan beberapa artefak kita: kata-kata, kalimat, buku, peta, gambar, program komputer. Semua itu memiliki intensionalitas yang diberikan oleh semacam pinjaman baik hati dari budi kita. Sedangkan intensionalitas turunan adalah representasi artefak kita yang bersifat parasit atas intensionalitas asli/orisinal yang berada di balik ciptaannya.
Behaviorisme dan Fungsionalisme
Pengertian behaviorisme mencirikan keadaan mental sebagai disposisi untuk terlibat dalam perilaku publik tertentu yang dapat diamati sebagai reaksi terhadap rangsangan eksternal tertentu. Dalam pandangan ini, memberikan kepercayaan kepada seseorang berarti menggambarkan kecenderungan orang tersebut untuk berperilaku dengan cara tertentu. Anggapan seperti itu tidak melibatkan klaim apa pun tentang keadaan internal orang ini, itu hanya berbicara tentang kecenderungan perilaku. Motivasi kuat untuk keadaan seperti itu berasal dari pertimbangan empiris yang menekankan pentingnya pengamatan dan kekurangannya dalam kasus keadaan mental internal pribadi.
Pembentukan karakter
Kemampuan kognitif
Pikiran adalah proses mental yang memungkinkan manusia untuk memahami dunia di sekitarnya, dan untuk merepresentasikan serta menafsirkan informasi dengan cara yang relevan, sesuai dengan kebutuhan, tujuan, komitmen, rencana, dan keinginan. Berpikir melibatkan penggunaan simbol atau tanda untuk menghasilkan ide, terlibat dalam pemecahan masalah, penalaran, dan pengambilan keputusan. Istilah yang berkaitan dengan konsep dan proses ini meliputi refleksi, kognisi, imajinasi, dan penalaran.
Kategori fenomena mental
Fenomena batin yang dipicu oleh kemampuan pikiran telah dikelompokkan berdasarkan berbagai perbedaan. Perbedaan utama adalah dalam mengklasifikasikan fenomena mental berdasarkan apakah itu bersifat sensorik, kualitatif, proposisional, disengaja, sadar, atau rasional. Perbedaan dalam klasifikasi ini sering kali tumpang tindih. Beberapa fenomena mental, seperti persepsi atau kesadaran tubuh, bersifat sensoris, yaitu berdasarkan indera.
Isi mental
Isi mental merujuk pada sekumpulan elemen yang dianggap berada "di dalam" pikiran, dan dapat dibentuk serta dimanipulasi melalui proses dan kemampuan mental. Contohnya termasuk pikiran, konsep, ingatan, emosi, persepsi, dan niat. Teori filosofis tentang isi mental meliputi internalisme, eksternalisme, representasionalisme, dan intensionalitas.
Ilmu saraf atau neurosains adalah bidang ilmu yang mempelajari sistem saraf atau sistem neuron. Pada tingkat sistem, para ahli saraf menyelidiki bagaimana jaringan saraf biologis terbentuk dan berinteraksi secara fisiologis untuk menghasilkan fungsi dan konten mental seperti refleks, integrasi multisensor, koordinasi motorik, ritme sirkadian, respons emosional, pembelajaran, dan memori. Tujuan utama dari ilmu ini adalah memahami dasar biologis dari setiap perilaku manusia.
Neurosains bertujuan untuk menjelaskan perilaku manusia dari sudut pandang aktivitas di otak. Penelitian terbaru dalam bidang neurosains telah menemukan bukti yang menghubungkan otak dan perilaku manusia. Hubungan antara budi dan otak dalam ilmu saraf dapat dianalogikan dengan sistem komputer, di mana keduanya saling berkaitan secara kausal. Otak seperti perangkat keras, sementara budi seperti perangkat lunak. Meskipun impuls saraf dapat berpindah antar neuron, mereka tidak dapat berpindah antar tingkat seperti perangkat lunak ke perangkat keras dan sebaliknya.
Banyak orang tergoda untuk berpikir bahwa impuls saraf tidak bisa menjadi kesadaran, namun fakta menunjukkan sebaliknya. Impuls saraf dari mata misalnya, akan diinterpretasikan oleh otak sehingga kita bisa merasakan dan bereaksi terhadap lingkungan sekitar. Kesadaran akan membantu kita memahami dan merespons informasi yang diterima oleh otak. Tanpa kesadaran, sistem saraf akan seperti telepon tanpa dijawab, televisi tanpa penonton, atau kapal tanpa juru mudi. Pertanyaan dari mana budi atau kesadaran itu berasal telah menjadi subjek perdebatan selama berabad-abad oleh saintis, teologis, dan filsuf.
Ilmu kognitif adalah bidang studi yang menggali fungsi mental yang melibatkan pemrosesan informasi, yang disebut kognisi. Hal ini mencakup aspek seperti persepsi, perhatian, memori kerja, memori jangka panjang, produksi dan pemahaman bahasa, pembelajaran, penalaran, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Ilmu kognitif bertujuan untuk memahami cara berpikir seseorang, tidak hanya sebatas penyelesaian masalah dan proses pembelajaran. Lebih lanjut, ilmu kognitif membahas bagaimana pikiran dapat melakukan proses ini hingga mencapai tahap pengambilan keputusan berdasarkan pemikiran mereka.



0 comments:
Posting Komentar