Senin, 15 Juni 2026

Merokok selama kehamilan dapat menyebabkan anak memiliki risiko menjadi pelaku kriminal

Posted By: Aa channel media - Juni 15, 2026


Merokok jelas-jelas tidak baik untuk kesehatan. Bahkan jika seorang wanita merokok saat hamil, risiko anak yang dikandungnya menjadi seorang pelaku kriminal pun meningkat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa merokok saat hamil dapat merusak perkembangan otak janin, yang kemudian membawa risiko tinggi bagi anak untuk menjadi pelaku kriminal di masa dewasa.


Sebuah studi yang melibatkan hampir 4.000 orang dewasa berusia 33 hingga 40 tahun menemukan bahwa anak-anak yang ibunya perokok berat selama kehamilan memiliki kemungkinan paling tinggi untuk memiliki catatan kriminal di masa dewasa. Para peneliti menyoroti bahwa faktor-faktor seperti gangguan mental dan kerusakan otak dapat memengaruhi kemungkinan seorang anak menjadi pelaku kriminal di kemudian hari. Bahkan, sekitar sepertiga dari orang dewasa yang pernah ditangkap karena kejahatan adalah anak dari ibu yang merokok berat.

Meskipun secara definitif rokok tidak dapat menjadikan seseorang sebagai pelaku kriminal, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan sederhana antara merokok saat hamil dan kemungkinan anak menjadi pelaku kriminal. Dr. Angela Paradis dari Harvard School of Public Health, Boston, yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa nikotin memiliki efek biologis pada jalur neurobehavioural otak yang sedang berkembang. Paparan asap rokok selama kehamilan dapat merusak daerah otak yang mempengaruhi perilaku dan transmisi sinyal kimia penting untuk pemusatan perhatian dan kontrol impuls.

Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa paparan asap rokok selama kehamilan dapat meningkatkan risiko anak mengalami gangguan perhatian impulsif dan hiperaktif atau ADHD. Profesor Kate Pickett dari Department of Health Sciences, University of York, menjelaskan bahwa studi ini menunjukkan korelasi antara merokok saat hamil dengan perilaku anak dan perilaku antisosial di masa dewasa.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health.

0 comments: