"Bar... kenapa tiketnya kelas 1? Kemarin kan saya minta tiket VIP. Saya ingin mengajak teman saya yang bosnya bank Panin."
Tempat duduk di VIP tidak lebih nyaman dari kelas 1. Perbedaannya adalah di VIP Anda akan difoto terus, sedangkan di kelas 1 Anda harus berusaha keras agar kamera mengarah ke arah Anda. Lagipula, tiketnya gratis. VIP atau festival, keduanya sama-sama tidak berbayar.
"Teman saya ini cucu Mochtar Riady. Saya tidak enak kalau tidak mendapatkan tiket VIP. Kalau dia tidak mau masuk, saya juga tidak akan masuk."
Saya sudah berusaha keras untuk mendapatkan 4 tiket untuk Anda. Yang tidak enak nantinya adalah saya.
"Ya.. bagaimana ya. Saya merasa tidak enak kepada Anda, tapi juga tidak enak kepada teman saya ini. Sebenarnya dia bisa saja menghubungi orang yang memiliki stasiun TV untuk meminta tiket VIP, tapi kami pikir tidak perlu.."
Jadi, Anda tidak akan masuk?
"Tidak, sepertinya tidak."
Baik. Kembalikan tiketnya kepada saya.
Klik. Saya mengakhiri pembicaraan.
Mungkin saya terlalu baik hingga tidak percaya bahwa masih ada orang yang begitu memperhatikan label. Meskipun bersekolah di luar negeri, mungkin lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di luar Indonesia. Sehari-hari berbicara dalam bahasa Inggris. Namun, mentalitasnya masih terjebak pada masa lalu ketika VOC masih menguasai rempah-rempah.
"Kalau dia benar-benar orang penting, kenapa namanya tidak ada di daftar VIP?"
"Kalau dia benar-benar orang penting, mengapa dia masih meminta tiket kepada Anda?"
Saya masih berusaha untuk percaya bahwa di dunia ini masih ada orang yang membiarkan hidupnya terkungkung dalam kotak.







0 comments:
Posting Komentar