Setelah berbincang-bincang dengan Wahyu, saya makan siang di Warung. Tentu saja setelah menjalankan kewajiban sebagai umat. Jumatan maksudnya. Ketika saya baru saja duduk setelah memesan tipat kuah, menu favorit saya di warung, tiba-tiba Anton, seorang wartawan Radio datang. Ternyata di warung itu juga ada Redika, humas PLN. Tak lama kemudian, Mas Ema, wartawan Bisnis Indonesia dan senior di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga datang. Saya lupa kapan terakhir kali bertemu dengan teman-teman ini. Sepertinya sudah lama. Tapi, meskipun sudah lama tidak bertemu, ternyata ada topik obrolan yang langsung menarik perhatian kami: yaitu soal blog.
Ketika Anton dan Redika duduk di depan saya, Redika membawa sebuah tulisan yang dia dapat dari internet. "Siapa penulisnya?" tanya saya. "ASN," jawabnya. "Wah, mungkin Asnawa?" tanyaku lagi. "Siapa itu?" tanya Redika. "Asnawa. Teman. Dia juga seorang blogger. Dapatnya dari situs mana? Mungkin?" ucapku. "Ya, benar. Dari website itu," jawab Redika.
Ternyata penulisnya juga seorang blogger. Dan, Asnawa merupakan seorang ASN yang saya kenal melalui blog meskipun saya belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. "Penulisnya sepertinya masih baru. Belum begitu banyak pengetahuan. Tapi cukup baik sebagai referensi," ujar Redika.
Obrolan ini membuat saya berpikir. Apa yang salah jika seseorang dianggap kurang berpengetahuan? Setiap orang berhak menulis apa pun yang mereka ketahui, meskipun bagi orang lain itu tidak lengkap. Tidak ada lagi monopoli informasi oleh orang-orang yang sok pintar. Orang-orang yang dianggap tidak pintar harus menerima informasi dari orang-orang yang sok pintar tadi.
Jadi, mari berblog orang-orang yang sok pintar. Karena sekarang semua orang lebih banyak mencari informasi dari Google daripada dari perpustakaan. Sayangnya, sebagian besar intelektual kita masih malas untuk berblog. Belum ada peneliti atau dosen di luar bidang TI yang berblog. Sehingga pengetahuan yang mereka miliki hanya terbatas pada lingkungan kampus. Intelektual kita mungkin terlalu sibuk meneliti dan lupa untuk membagikan pengetahuan mereka. Ironis sekali.
Cara kita berkomunikasi dan berbagi informasi telah berubah. Pada zaman dahulu, orang berkomunikasi melalui telepati atau burung merpati. Sekarang, teknologi informasi telah menggantikan peran telepati dan burung merpati. Ironisnya, kaum intelektual yang terkait dengan kampus masih belum siap dengan perubahan ini. Hanya sedikit dosen yang aktif menulis buku, artikel di media massa, atau turun langsung untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat. Diskusi di lingkungan kampus juga semakin jarang terjadi.
Orang-orang pintar di kampus semakin langka. Mahasiswa lebih sibuk mengadakan konser, sementara dosen fokus pada proyek penelitian. Mari berikan kepercayaan kepada para blogger. Dalam dollar blogger, kita percaya.
Jumat, 15 Mei 2026
Filled Under
Motivasi
Orang-orang yang pintar, cobalah untuk menulis blog
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 comments:
Posting Komentar