Kamis, 14 Mei 2026

Mengapa Saya Sangat Mencintai Ibu

Posted By: Aa channel media - Mei 14, 2026

Mengapa hati saya penuh dengan rasa cinta yang begitu dalam untuk ibu saya? Alasannya begitu banyak dan tak terhitung. Ibu adalah sosok yang selalu hadir di setiap langkah hidup saya, memberikan cinta tanpa syarat, dukungan tanpa batas, serta kasih sayang yang tiada henti. Kehangatan pelukannya mampu menyembuhkan luka dan ketakutan saya. Ibu adalah pilar kuat dalam kehidupan saya, memberikan arahan dan bimbingan yang tak ternilai harganya. Karena itulah, saya begitu bersyukur memiliki seorang ibu yang luar biasa seperti beliau. Jalinan kasih sayang kami tak terduga, tak terukur, dan takkan pernah pudar. Ibu adalah cinta sejati dalam hidup saya, dan saya akan selalu menyayangi beliau dengan segenap hati saya.

Ibu adalah lawan saya dari masa kecil hingga pubertas dan bahkan saat saya mulai kuliah. Pendapat-pendapatnya sangat kuno dan perilakunya tidak seperti seorang ibu. Saya merasa bahwa beliau masih ingin dimanjakan. Saya tidak senang ketika dia menangis karena Ayah terlalu lama pergi ke luar kota. Mengapa hal ini begitu diresahkan? Toh, nanti Ayah akan memberikan uang untuk membeli maskara, bedak, lipstik, dan pakaian baru yang bagus untuk kita semua.

Ibu adalah seseorang yang tidak pernah mau disalahkan. Sepertinya dia cocok menjadi senior dalam sebuah acara orientasi mahasiswa, yang mengikuti dua aturan: 

  • 1. Apa yang senior katakan selalu benar 
  • 2. Jika senior salah, kembali ke aturan nomor 1.

Ibu memiliki kebiasaan buruk dalam berdebat. Beliau akan menyampaikan pendapatnya atau sanggahannya dan pergi begitu saja tanpa mendengarkan pendapat orang lain. Khususnya saat beliau tahu bahwa pendapatnya mudah untuk disanggah. Dan tambahannya, beliau suka menyimpan benda-benda kecil secara sembarangan yang membuat seluruh anggota keluarga kesulitan mencarinya. Yang membuat saya kesal adalah saat beliau marah pada orang lain yang melakukan hal yang sama, meskipun beliau juga sering melakukannya.

Awalnya, saya tidak cocok dengan ibu. Ibu bukanlah orang favorit saya dalam keluarga, begitu juga sebaliknya. Contohnya, beliau lebih suka memilih baju dengan adik perempuan saya daripada saya, dan saya lebih suka menghabiskan waktu sendiri daripada memilih pakaian bersama ibu. Selera kami benar-benar berbeda.

Namun, semuanya berubah suatu saat. Saat saya menyadari bahwa orang tua saya tidaklah sempurna. Saat saya menyadari bahwa apa yang dilakukan Ayah terhadap keluarga bisa saja salah, perhitungan yang tidak tepat dalam hal keuangan, waktu, dan masa depan. Orang tua juga bisa melakukan kesalahan. Dan menjadi orang tua tidak selalu harus sempurna, tidak selalu harus pintar dalam mengatur masa depan anak-anak mereka, tidak selalu harus pandai menetapkan batasan, dan lain sebagainya. Setiap orang memiliki kemampuan prediksi sendiri, dan saya mulai memberikan penilaian B+ untuk Ayah dan C+ untuk ibu.

Kembali pada ibu. Setelah mata saya terbuka, saya menyadari bahwa ibu adalah sosok yang patut disayangi. Ibu yang selalu menengahi pertengkaran saya dengan Ayah. Ibu yang bisa merespon kata-kata kasar saya, saudara-saudara saya, dan Ayah dengan masakan yang lezat. Ibu yang selalu bangun pagi, menanyakan kesiapan saya pergi ke rumah sakit, dan memastikan perut saya terisi saat berjaga di poliklinik. Dan entah mengapa, hasil setrikaan ibu selalu lebih lembut dan wanginya tahan lama dibandingkan dengan saya.

Ibu yang membuat adik-adik saya mengalah terhadap keegoisan saya. Ibu yang bisa mengubah mood saya menjadi baik dalam hitungan menit hanya dengan satu biji kue mochi. Ibu membuat saya merasa nyaman walau berada di lingkungan yang kurang nyaman, hanya dengan duduk di samping saya dan menawari minum.

Terima kasih, Ma, tapi saya harus mengakhiri tulisan ini. Jika tidak, blog ini akan penuh dengan keajaiban dirimu. Jadi, hanya satu tulisan blog saja ya... :p

Aku Sayang Mama.


 

0 comments: