Benyamin Sueb, seniman Betawi serba bisa yang lahir pada tahun 1939 dan meninggal pada tahun 1995, dikenal sebagai figur legendaris di kalangan masyarakat Betawi karena keberhasilannya dalam memperkenalkan budaya Betawi secara luas, bahkan hingga ke mancanegara. Ungkapan khas seperti "muke lu jauh" atau "kingkong lu lawan" selalu mengingatkan kita pada Benyamin Sueb, yang telah menghasilkan sekitar 75 album musik, 53 film, dan meraih dua Piala Citra.
Sejak kecil, Benyamin sudah merasakan pahitnya kehidupan. Sebagai bungsu dari delapan bersaudara, ia kehilangan ayahnya saat berusia dua tahun. Untuk membantu biaya sekolah kakak-kakaknya, Benyamin sudah mulai mengamen sejak usia tiga tahun. Bakat seninya mulai terlihat sejak kecil, terutama karena pengaruh dari kakeknya yang menurunkan darah seni kepadanya.
Benyamin merupakan sosok yang jahil namun humoris, dan bakat seninya sudah terlihat sejak ia masih anak-anak. Dari usia yang sangat muda, ia sudah membuat alat-alat musik dari barang-barang bekas bersama saudara-saudaranya. Kelompok musik kaleng rombeng yang mereka bentuk saat Benyamin berusia 6 tahun menjadi awal dari karir seniannya yang gemilang.
Meskipun sempat mencoba profesi lain seperti menjadi sopir bis, Benyamin akhirnya kembali menekuni dunia musik setelah menikah. Bersama bandnya, ia menciptakan lagu-lagu terkenal seperti Si Jampang dan Nonton Bioskop. Selain itu, Benyamin juga menimba ilmu dan bekerja di bidang yang lebih "serius" sebelum akhirnya fokus pada dunia seni.
Dari sini, kehidupan Benyamin berbalik arah dan tidak lagi pahit seperti sebelumnya. Debutnya dengan lagu Si Jampang membuka jalan bagi kesuksesan dalam dunia seni, baik sebagai penyanyi maupun aktor. Karyanya tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi juga mendapat apresiasi di mancanegara. Benyamin Sueb, sosok yang suka "mengomel" ketika melawak, meninggalkan warisan seni yang tak terlupakan bagi masyarakat Betawi dan Indonesia pada umumnya.
Judulnya, di antaranya Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail, 1975). Dia juga berperan dalam film-film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo'on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973), Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974), Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976), Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Perannya dalam Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membawanya, bersama dengan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973.
Benyamin juga mendirikan perusahaan produksi sendiri yang diberi nama Jiung Film - di antara film-film produksinya adalah Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975) - bahkan ia menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976). Namun, sayangnya usahanya mengalami kemunduran, dan PT Jiung Film ditutup pada tahun 1979.
Benyamin tidak selalu menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti halnya semua orang, ada saat di mana Benyamin menjadi figuran atau bahkan hanya menjadi aktor pendukung. Dalam hal ini, ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya, yang membantu Benyamin mengasah kemampuan aktingnya.
Dalam proses "berguru" dengan Bing Slamet, Benyamin tidak hanya bekerja sama dalam musik - seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Namun mereka juga berkolaborasi dalam dunia film. Di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) yang disutradarai oleh Bing Slamet, Benyamin menjadi teman dari sang aktor utama, di mana Benyamin tampil dengan gaya khasnya yang penuh improvisasi dan mengundang tawa. Sedangkan dengan Sjuman Djaya, Benyamin berperan dalam film Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973), di mana ia memerankan ayah dari karakter Si Doel yang diperankan oleh Rano Karno kecil.
Talenta Benyamin dalam akting direkam dengan baik oleh Sjuman Djaya, dan dua tahun kemudian Benyamin membintangi sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Meskipun tidak sebagai bintang utama, kehadiran Benyamin dalam film-film tersebut sangat berarti dan berkesan.
Benyamin melawan Drakula. Film yang dimaksud adalah Drakula Mantu, karya Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974. Film komedi horor ini mempertemukan Benyamin dengan Tan Tjeng Bok, seorang aktor tiga zaman. Meskipun tidak selalu menjadi aktor utama, namun kehadiran Benyamin selalu mencuri perhatian penonton.
Pada tahun 1992, saat sibuk dengan sinetron dan film televisi Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan, Benyamin menyatakan keinginannya untuk merekam sebagai penyanyi sungguhan. Bersama Harry Sabar (alm), Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, mereka membentuk band Gambang Kromong Al-Haj dengan album Biang Kerok. Lagu-lagu seperti Biang Kerok dan Dingin-dingin menjadi hits dari album tersebut.
Album ini merupakan album terakhir Benyamin, dan meskipun ia bernyanyi dengan serius, tetap saja suasana canda tawa tercipta saat ia merekam lagu I'm a Teacher dan Kisah Kucing Tua. Namun, lagu-lagu seperti Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok memiliki nuansa yang lebih serius.
Benyamin wafat pada tanggal 5 September 1995 setelah bermain sepakbola, akibat serangan jantung. Ia tidak hanya dikenal sebagai tokoh masyarakat Betawi, tetapi juga sebagai legenda seniman terbesar. Banyak idiom dan celetukan yang lahir dari benyamin, seperti aje gile, ma'di kepe, atau ma'di rodok, yang masih melekat di telinga warga Jakarta hingga kini.
Biodata Benyamin Sueb:
Nama: Benyamin Sueb
Lahir: Jakarta, 5 Maret 1939
Meninggal: Jakarta, 5 September 1995
Isteri: Noni (Menikah tahun 1959)
Pendidikan:Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan & Ketatalaksanaan, Jakarta (1960) Akademi Bank Jakarta, Jakarta (tidak tamat) SMA Taman Madya (Taman Siswa), Jakarta (1958) SMPN Menteng, Jakarta (1955)
Riwayat Pekerjaan:Aktor, penyanyi, penghibur Kondektur PPD (1959) Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960) Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1968) Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969)
Penghargaan:Piala Citra 1973 dalam film Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) bersama Rima Melati Piala Citra 1975 dalam film Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975)
Film yang dibintangi:
01. Uang Madu dan Pekan Raya Jakarta (1970)
02. Dunia Belum Berakhir (1971)
03. Hostess Anita (1971)
04. Brandal-brandal Metropolitan (1971)
05. Banteng Betawi (1971)
06. Bing Slamet Setan Jalanan (1972)
07. Angkara Murka (1972)
08. Intan Berduri (1972)
09. Biang Kerok (1972)
10. Si Doel Anak Betawi (1973)
11. Akhir Sebuah Impian (1973)
12. Jimat Benyamin (1973)
13. Biang Kerok Beruntung (1973)
14. Percintaan (1973)
15. Cukong Bloon (1973)
16. Ambisi (1973)
17. Benyamin Brengsek (1973)
18. Si Rano (1973)
19. Bapak Kawin Lagi (1973)
20. Musuh Bebuyutan (1974)
21. Ratu Amplop (1974)
22. Benyamin Si Abu Nawas (1974)
23. Benyamin spion 025 (1974)
24. Tarzan Kota (1974)
25. Drakula Mantu (1974)
26. Buaya Gile (1975)
27. Benyamin Tukang Ngibul (1975)
28. Setan Kuburan (1975)
29. Benyamin Koboi Ngungsi (1975)
30. Benyamin Raja Lenong (1975)
31. Traktor Benyamin (1975)
32. Samson Betawi (1975)
33. Zorro Kemayoran (1976)
34. Hipies Lokal (1976)
35. Si Doel Anak Modern (1976)
36. Tiga Jango (1976)
37. Benyamin Jatuh Cinta (1976)
38. Tarzan Pensiunan (1976)
39. Pinangan (1976)
40. Sorga (1977)
41. Raja Copet (1977)
42. Tuan, Nyonya dan Pelayan (1977)
43. Selangit Mesra (1977)
44. Duyung Ajaib (1978)
45. Dukun Kota (1978)
46. Betty Bencong Slebor (1978)
47. Bersemi Di Lembah Tidar (1978)
48. Musang Berjanggut (1981)
49. Tante Girang (1983)
50. Sama Gilanya (1983)
51. Dunia Makin Tua/Asal Tahu Saja (1984)
52. Koboi Insyaf/Komedi lawak "88 (1988)
53. Kabayan Saba Kota (1992)
Benyamin, atau yang lebih dikenal dengan nama "Ade Duenye", meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia 1973 melalui film Intan Berduri dan pada 1974 dengan Si Doel Anak Modern. Prestasi ini tidak mengurangi popularitas Benyamin Suaeb sebagai penyanyi. Lagu-lagunya yang menggunakan bahasa Betawi tidak menghalangi pendengar untuk menikmati keseruannya di atas panggung.
Benyamin juga dikenal di Malaysia dan pernah manggung di Moskwa, Rusia. Sebelum Iwan Fals, Benyamin sudah mengkritik pemerintah melalui lagu Digusur 20 tahun sebelumnya dengan bahasa khas Betawi yang sarat humor. Lagu Pungli yang mengkritik pemerintah bahkan memenangkan penghargaan dari Kopkamtib pada tahun 1977.
Benyamin memulai karirnya sebagai penyanyi pop sebelum menjadi penyanyi khas lagu Betawi dan bintang film. Bersama grup Melodi Ria, ia merekam beberapa lagu pop sebelum bergabung dengan grup gambang kromong Naga Mustika. Bersama grup ini, Benyamin meraih kesuksesan dengan lagu-lagu khas Betawi yang diciptakan oleh Asep S dan orang lain.
Duet Benyamin dan Ida Royani dengan lagu-lagu gambang kromongnya menjadi populer pada awal tahun 1970-an. Mereka menyanyikan sekitar 150 lagu yang mencerminkan kreativitas Benyamin dalam menciptakan musik dengan ciri khas Betawi.
Namun entah mengapa, saat Dick Tamimi menawarkan untuk berduet dengan pemuda dekil itu pada tahun 1970, Ida setuju. Meskipun banyak penggemarnya yang memprotes dan merasa bahwa Ida yang terkenal dengan lagu-lagu popnya tidak cocok untuk berduet dengan Benyamin. Tetapi Ida tetap melangkah maju dan hingga tahun 1990, atau 20 tahun kemudian, ia masih terus berduet dengan Benyamin dalam rekaman dan penampilan panggung.
Lagu-lagu Benyamin dan Ida Royani merupakan cerminan kehidupan masyarakat Betawi yang nyata. Begitu melihat judulnya saja, sudah terasa nuansa Betawinya. Ada Ngidam Lagi, Ngupi, Nonton Cokek, Ondel-Ondel, Onta Punya Cerita, Pendaringan, Penganten Sunat, Kompor Meleduk, Roti Gambang, Layar Tancep, atau Pulang Kerje.
Meskipun beberapa lagunya memiliki sentuhan Sunda, Benyamin membuatnya menjadi milik Betawi. Contohnya, Ayun Ambing, lagu yang menenangkan anak-anak," ujar seniman Betawi, SM Ardan, sambil menambahkan bahwa lagu-lagu Benyamin juga memiliki lirik kocak dengan gaya Betawi.
Jika kita melihat lirik Nonton Bioskop: Jalan kaki di gang gelap/Pulang-pulang menginjak sesuatu. Dan ada juga lirik yang cukup nakal sehingga terkadang terkesan provokatif atau berkonotasi porno: Gimane lobangnya aje/Kecil atau besar (lagu Tukang Solder).
Atau dalam lagu Perkutut. Liriknya seperti ini: Burung gue pegangin (Benyamin)/Ogah ah/Mending dilepasin (Ida Royani)/Ntar dia menclok di tempat lain (Benyamin)/Ingin tahu dia menclok sembarangan/Gue jepret (Ida Royani).
Hingga tahun 1974, Benyamin telah menghasilkan sekitar 20 album yang berisikan lagu-lagu yang dinyanyikan sendiri maupun berduet dengan penyanyi lain. Kegigihannya dalam industri musik Indonesia ini, yang membuatnya menerima penghargaan dari Yayasan Husni Thamrin pada tahun 1974, sedikit banyak juga dipengaruhi oleh Vivi Sumanti dan Lilies Suryani, yang sebelumnya sudah menyanyi dengan iringan musik gambang kromong yang biasanya mengiringi pertunjukan lenong.
"Keunggulan Benyamin terletak pada gaya dan tingkah lakunya, selain lirik lagunya. Kami turut manggung di seluruh Indonesia. Di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Irian, sebagian besar penonton tidak mengerti bahasa Betawi. Namun, mereka tetap tertawa terbahak-bahak melihat Benyamin di atas panggung," kenang Ida Royani yang menikah dengan musisi Keenan Nasution pada tahun 1979.
Mewakili zaman itu, lagu-lagu Benyamin juga mencerminkan situasi pada saat lagu-lagu itu dinyanyikan. Hostess (istilah untuk wanita muda yang bekerja di kelab malam) mencerminkan pengalaman Benyamin saat berkeliling di kehidupan malam Jakarta. Begitu pula steambath yang merekam praktik prostitusi terselubung yang marak di kota-kota besar pada tahun 1970-an.
Bayi Tabung menggambarkan peristiwa yang sedang menjadi topik hangat saat lagu itu dirilis. Sedangkan kata 'taisen', yang kemudian di kalangan muda-mudi berarti pacar, berasal dari permainan judi hwahwe yang populer di Jakarta pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.
Perjudian ini menawarkan 36 angka keberuntungan dengan simbol binatang pada setiap angkanya. Angka 1 (ikan bandeng), misalnya, memiliki 'taisen' angka 5 (singa), angka 30 (monyet) 'taisen'-nya angka 23 (ikan mas koki), dan seterusnya. "Jika aku menjadi ikan mas koki, maka kamu akan menjadi 'taisen'-nya... monyet," ujar Benyamin dalam salah satu liriknya.
Meskipun judul lagu-lagu Benyamin sering terdengar "sembarangan", seperti Brang Breng Brong, Cong Cong Balicong, atau Petangtang Petingting, tetapi justru diterima dengan baik oleh masyarakat. Kebiasaan ini terus terlihat dalam lagu-lagu lainnya, seperti Bom Pim Pah, Ngaca, Ngaco, atau Mumpung. Benyamin seringkali menciptakan judul dan lirik lagu secara spontan, seperti yang terjadi saat pembuatan lagu Begini Begitu.
Benyamin juga tidak melupakan jenis musik lain selain pop dan gambang kromong, seperti blues, rock, hustle, dan disko. Namun, dia tetap setia pada keroncong dan seriosa dalam lagu-lagu seperti Blues Kejepit Pintu, Kroncong Kompeni, atau Stambul Nona Manis. Keunikan Benyamin terlihat dalam lagu-lagu seperti Disangka Nyolong atau Dingin Dingin Dimandiin, yang disajikan dengan gaya humor namun tetap menghibur pendengarnya.
Selain lagu-lagu canda, Benyamin juga menyanyikan lagu-lagu yang penuh makna dan serius seperti Abang Husni Thamrin atau Mengapa Harus Jumpa. Pada tahun 1992, dia membentuk grup Al Hadj dan menyanyikan lagu-lagu berirama rock, blues, dan metal. Meskipun begitu, album bersama Al Hadj barangkali merupakan rekaman terakhir dari Benyamin.
Selain sebagai penyanyi, Benyamin juga dikenal sebagai aktor dengan membintangi sekitar 53 film dari tahun 1970 hingga 1992. Dia juga menciptakan sekitar 300 lagu selama karirnya. Untuk mengenang kontribusinya, Titiek Puspa menciptakan lagu Ben yang dinyanyikan dalam acara penghormatan untuk Benyamin S. Benyamin memang meninggalkan warisan yang tak tergantikan.







0 comments:
Posting Komentar