Lapangan Banteng, yang dulunya disebut Waterlooplein saat masa penjajahan Belanda, tidak sebesar Lapangan Merdeka yang dulu disebut Koningsplein, dan sekarang dikenal sebagai Lapangan Monumen Nasional atau Monas di Jakarta Pusat.
Pada zaman kolonial Belanda, Lapangan ini dikenal sebagai Lapangan Singa karena terdapat tugu peringatan kemenangan perang di Waterloo dengan patung singa di atasnya. Setelah kemerdekaan Indonesia, namanya diubah menjadi Lapangan Banteng untuk lebih sesuai, bukan hanya karena singa mengingatkan pada penjajah, tetapi juga karena banteng merupakan lambang nasionalisme Indonesia. Selain itu, diperkirakan dahulu tempat tersebut dihuni oleh berbagai satwa liar seperti macan, kijang, dan banteng.
Pada masa J.P. Coen membangun kota Batavia dekat muara Ci Liwung, Lapangan dan sekitarnya masih berupa hutan belantara. Pada tahun 1632, kawasan itu menjadi milik Anthony Paviljoen Sr, yang dikenal sebagai Paviljoensveld atau Lapangan Paviljoen Jr. Beberapa pemilik berikutnya adalah Cornelis Chastelein dan Justinus Vinck, sebelum akhirnya tanah tersebut menjadi milik Gubernur Jenderal Van der Parra.
Di pertengahan abad ke-19, Lapangan Banteng menjadi tempat berkumpulnya golongan elit Kota Batavia. Setiap Sabtu sore hingga malam, musik militer diputar di sana.
Jumat, 22 Mei 2026
Filled Under
Provinsi
Asal-usul Lapangan Banteng
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 comments:
Posting Komentar