Senin, 06 April 2026

Makhluk halus yang dipercaya sebagai penglaris

Posted By: Aa channel media - April 06, 2026

Tulisan ini didasarkan pada pengalaman salah seorang umat Buddhis ketika sedang makan malam di salah satu restoran Seafood terkenal di kota S. Sumber tidak bersedia untuk mengungkapkan identitasnya dan juga tidak ingin menyebutkan nama restoran yang menurutnya "ditempati" oleh mahluk halus.

Pada suatu malam, saya memiliki seorang klien di kota S. Klien tersebut pernah menceritakan bahwa suaminya adalah seorang penyembuh spiritual Kristen, yang sebelumnya mempelajari berbagai ilmu klenik seperti bertapa dalam air dan puasa putih sebelum akhirnya menjadi pengikut nasrani. Meskipun saya tidak begitu tertarik dengan hal-hal semacam itu, saya mendengarkan dengan cermat.

Klien saya mengundang saya untuk makan malam di restoran Seafood terkenal di kota tersebut, yang konon sangat ramai dan memiliki pemasukan harian mencapai ratusan juta rupiah. Meskipun awalnya saya ragu karena menu Seafood mereka disajikan masih hidup, saya akhirnya setuju karena dia meyakinkan bahwa makanan di sana sangat enak dan terkenal.

Ketika kami tiba di restoran tersebut, suasana di daerah M begitu ramai dan meriah. Saya merasakan perasaan campur aduk antara rasa penasaran dan kekhawatiran, namun akhirnya saya bersedia mencoba pengalaman baru ini. Semua yang terjadi selanjutnya sungguh tak terduga dan membuat saya terkejut.

Tampaknya terdapat sebuah gerobak kayu besar di pintu masuk, membuat saya merasa tidak nyaman dan bergerak menjauh ke kanan. Saya disarankan untuk memilih sendiri hidangan seafood yang akan disajikan, namun saya lebih memilih untuk tidak memilih yang masih hidup. Setelah pesanan dipilih, kami duduk di sebuah meja bulat besar yang cukup untuk 6 orang. Ruangan yang luas dipenuhi dengan banyak meja dan kursi, dan patung kuda putih tergantung di atas atap, berjumlah tiga ekor.

Di tengah ruangan, tampak tandu pengantin Cina antik terbuat dari kayu. Meskipun saya berusaha untuk menghindarinya, rasanya tempat ini terasa angker dan membuat saya tidak nyaman. Ketika makanan datang, saya merasa tidak enak dengan rasanya yang biasa saja, bahkan hambar dan tidak istimewa. Saya merasa heran melihat restoran seafood yang ramai itu.

Suami klien saya kemudian muncul dengan dua anak laki-lakinya, dan kami berbasa-basi sambil menunggu hidangan berikutnya. Suami klien saya memperhatikan saya dengan seksama, membuat saya merasa sedikit heran. Dia kemudian menanyakan tentang tandu di ruangan itu, yang membuat saya kaget. Ketika saya melihat ke arah tandu, saya melihat seorang wanita muda duduk di dalamnya. Bulu kuduk saya merinding, dan saya merasakan kesedihan yang mendalam.

Suami klien saya terus bertanya tentang wanita itu, dan saya menjawab dengan spontan bahwa wanita itu hampir menikah dan dibunuh dalam perjalanan menuju pelaminan. Saya yakin bahwa wanita itu ingin dibebaskan dari penderitaannya, namun saya merasa tidak mampu melakukan apa pun selain berdoa untuknya. Semoga ia bisa mendapatkan kebebasan yang ia cari.

Hanya saja pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya merasa tidak nyaman karena saya merasa "dipaksa" untuk melihat sesuatu yang tidak menyenangkan. Saya bertanya-tanya, mengapa seseorang bertanya hal-hal seperti itu kepada saya? Menurut suami klien, ia bertanya karena wanita dalam tandu terus-menerus melihat dan memperhatikan saya. Lalu ia berkata, "Coba lihat ke mata saya." Dalam hati saya, saya merasa tidak terima, dan saya tahu maksud dan tujuannya adalah mencoba menghipnotis saya. Saya pun berpikir, "Emangnya gua takut?" Lalu dengan penuh tantangan, saya menatap bola mata nya. Tiba-tiba, kedua bola mata bapak itu menjadi putih seluruhnya. Saya menguatkan hati dan keyakinan saya terhadap Sang Triratana, dan saya yakin tidak akan terpengaruh. Kemudian, bapak itu berhenti sambil tertawa dan berkata, "Ibu... ini... belajar ilmu dari mana?"

Dengan jujur, saya menjawab bahwa saya tidak pernah belajar ilmu apa pun dan tidak pernah berusaha untuk belajar apapun. Saya hanya pernah meditasi, meskipun tidak rutin, sebentar, tanpa guru, dan sudah lama tidak melakukannya lagi. Suami klien ini pun mengakui bahwa agama Buddha memang hebat, dan ia menyarankan agar saya rajin meditasi. Kemudian, ia menceritakan tentang restoran ini.

Menurutnya, restoran ini sengaja menempatkan makhluk (wanita dalam tandu) dan setan anak kecil (pada kereta dorong di depan) agar restoran ini ramai pengunjung. Saat mendengarkan ceritanya, saya merasa ada makhluk halus lain yang bergerak di antara para pengunjung. Saya merenung, mengapa pemilik restoran melakukan hal-hal seperti itu. Apakah hanya untuk menjadi kaya? Saya merasa sedih dengan pendapat seperti itu. Mereka tidak menyadari akibat buruk dari tindakan mereka. Atau mungkin mereka secara tidak sengaja membeli barang antik yang sebenarnya memiliki "penghuni." Namun, mengapa barang-barang itu diletakkan dengan cara seperti itu? Apapun alasannya, setelah meninggal, empunya restoran itu akan menjadi budak dari makhluk-makhluk yang sekarang dijadikan sebagai penglarisnya.

Bayangkan, makhluk-makhluk itu sendiri sudah menderita, dan yang lebih menyedihkan adalah keluarga empunya restoran yang juga akan menerima akibat buruknya karena menikmati hasil uang kotor dari jasa makhluk tersebut. Saya juga merasa kasihan pada makhluk-makhluk tersebut karena mereka tidak bisa bebas dari penderitaan.

Jika saya mengundang seorang bhikkhu yang pandai ke sana, pasti empunya restoran akan sangat marah. Jadi, saya tidak bisa melakukan banyak hal selain menyalurkan jasa kebaikan kepada makhluk-makhluk tersebut. Semoga bermanfaat bagi mereka. Saran saya, sebaiknya jangan makan di restoran yang menggunakan makhluk sebagai penglaris karena makanan tersebut sudah dipersembahkan kepada makhluk-makhluk terlebih dahulu.

Kadang-kala makanan sudah "dimuntahkan" terlebih dahulu oleh makhluk-makhluk yang berada di sekitar pengunjung. Jadi, apakah tidak menjijikkan melihatnya? Janganlah meniru empunya restoran tersebut yang menggunakan cara tidak wajar untuk mendapatkan pelanggan. Kita harus belajar menerima apa adanya. Harta duniawi bukanlah segalanya. Nibbana adalah tujuan kita dan merupakan berkah tertinggi.

Saya menghimbau kepada umat Buddha agar tidak lupa membagi jasa kepada semua makhluk di alam semesta ini dengan membacakan paritta suci. Tidak perlu membakar kertas atau menyajikan buah-buahan, lebih baik uangnya didonasikan untuk ARIYA sangha atau hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti untuk anak-anak hidrosefalus, orang sakit, yatim piatu, membangun jembatan rusak, membantu korban musibah, kecelakaan, dan lainnya.

Kisah di atas adalah pengalaman salah satu umat yang dilahirkan dengan "mata batin" (mata dewa/Dibbacakkhu). Menurutnya, banyak restoran di Jakarta yang "ditumpangi" oleh makhluk-makhluk tersebut. Ada yang memang sengaja, tetapi ada yang sudah lama dihuni oleh makhluk tersebut. Demikian juga dengan beberapa toko emas di Jakarta dan Tangerang. Restoran atau toko tersebut biasanya memiliki satu hari libur dalam seminggu yang digunakan untuk mempersembahkan sesajen kepada makhluk yang menumpang di sana. Bahkan, ada money changer di daerah Kota tua Jakarta Utara yang menggunakan jasa "Semar mesem" sebagai penglaris. Oleh karena itu, berhati-hatilah ketika makan di restoran. Jika merasa tidak nyaman, bulu kuduk berdiri, atau ada bau yang aneh, sebaiknya menjauh dari tempat tersebut.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meningkatkan kewaspadaan kita. Percayalah atau tidak, terserah anda. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda, setidaknya membuka wawasan bahwa setan ada di sekitar kita. Dan jangan seperti anggapan orang pada umumnya, bahwa setan hanya berada di neraka. Tidak, pendapat itu keliru, meskipun setan tidak memiliki alamnya sendiri, mereka berada di dunia ini dan tinggal di tempat-tempat tertentu. Oleh karena itu, jangan buang hajat atau buang air kecil sembarangan, karena setan juga bisa membalas dendam. Beberapa setan bahkan memiliki kesaktian sehingga bisa meniru rupa, menampakkan diri, menakut-nakuti orang, dan lainnya.


 

0 comments:

Posting Komentar