Sakratul maut adalah momen yang sangat berat yang akan dihadapi oleh setiap manusia. Biasanya, bagaimana seseorang menghadapi sakratul maut ditentukan oleh amal perbuatannya selama hidup. Bagi yang hidup dalam dosa, sakratul maut akan terasa berat dan menyakitkan. Namun, bagi yang taat beribadah, sakratul maut akan terasa lebih ringan.
Kisah ini berasal dari pengalaman seorang pembimbing rohani bernama Abdul Ghofur, yang bekerja di rumah sakit di Jawa Timur. Salah satu tugasnya adalah membimbing orang-orang yang sedang mengalami sakratul maut. Suatu pagi, seorang pasien bernama Romi dengan penyakit Leukimia masuk rumah sakit dalam kondisi parah. Meskipun awalnya Romi merasa kesal dan tidak ramah terhadap Ghofur, Ghofur tetap memberikan bimbingan agama kepadanya.
Namun, kondisi Romi semakin memburuk dan akhirnya ia harus berjuang menghadapi sakratul maut. Ghofur dan orang-orang di sekeliling Romi berusaha membantu Romi mengucapkan kalimat-kalimat talkin, namun Romi tetap kesulitan. Akhirnya, setelah perjuangan yang berat, Romi akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Semua orang merasa lega karena penderitaan Romi telah berakhir.
Ghofur dan para perawat pun mengucapkan rasa syukur atas berakhirnya penderitaan Romi. Mereka segera menutup matanya dan melepas semua alat medis yang terpasang pada tubuhnya. Semua yang hadir di ruangan itu yakin bahwa Romi sudah meninggal dengan tenang.
Setelah semua peralatan yang tadinya terpasang di tubuh Romi dilepas, para perawat segera meninggalkan ruangan. Sementara itu, Ghofur menutup jasad Romi dengan kain putih, menunggu ambulans yang akan membawanya setelah keluarga Romi mengurus semua biaya perawatan di rumah sakit. Sekitar sepuluh menit setelah Romi menghembuskan nafas terakhirnya, tubuhnya tiba-tiba bergerak kembali di bawah kain putih. Ghofur dan keluarga Romi yang masih berada di ruangan terkejut. Ghofur membuka kain putih dan melihat Romi yang sebelumnya diyakini sudah meninggal, kini kembali bergerak.
Ghofur memanggil para perawat yang segera memasang kembali infus dan oksigen. Ghofur mulai membimbing Romi dengan kalimat-kalimat Talkin, namun Romi tetap tidak mampu mengucapkannya. Keluarga Romi ikut membantu dalam membimbing Romi. Setelah lebih dari dua jam, Romi akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Para perawat memeriksa kondisi Romi dan memastikan bahwa ia benar-benar telah meninggal.
Namun, kemudian tubuh Romi kembali bergerak setelah beberapa saat dibiarkan. Orang-orang di ruangan itu kembali membimbing Romi yang kesakitan. Setelah dua jam, Romi menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jasad Romi dibiarkan di tempat tidurnya, khawatir jika ia kembali bergerak. Setelah beberapa jam tidak ada gerakan, para perawat mencabut pipa infus dan oksigen dari tubuh Romi.
Ghofur mendatangi keluarga Romi dan menanyakan tentang kehidupan Romi selama ini. Mereka mengungkapkan bahwa Romi selalu melakukan perbuatan maksiat, memaksa orang untuk memberikan uang, berjudi, dan mabuk-mabukan. Dari cerita keluarga Romi, Ghofur mengetahui mengapa Romi harus merasakan penderitaan yang begitu berat saat menghadapi sakratul maut. Semoga kisah ini dapat memberikan pelajaran bagi kita semua.






0 comments:
Posting Komentar