Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa mengunyah permen karet dapat meningkatkan kemampuan memori otak. Namun, hasil penelitian terbaru justru menunjukkan sebaliknya.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Quarterly Journal of Experimental Psychology menyatakan bahwa mengunyah permen karet sebenarnya dapat merusak kemampuan memori jangka pendek. Penelitian yang dilakukan di University of Cardiff di Inggris melibatkan 40 relawan untuk menguji efek mengunyah permen karet terhadap memori jangka pendek.
Para relawan diminta mengingat urutan huruf dan angka yang diacak sambil mengunyah permen karet. Hasilnya menunjukkan bahwa mengunyah permen karet bisa mengganggu kemampuan mengingat informasi dengan baik.
Untuk mengatasi masalah kehilangan memori jangka pendek, disarankan untuk meningkatkan asupan zat besi melalui makanan seperti tahu, bayam, kacang pinto, dan daging tanpa lemak. Buah apel dan blueberry juga dianjurkan karena kandungan antioksidannya yang tinggi. Selain itu, minum segelas anggur merah juga dapat membantu meningkatkan fungsi otak Anda.
Jika Anda sering kesulitan mengingat apa yang harus dilakukan atau sering lupa akan sesuatu, sudah waktunya untuk memperhatikan hal ini. Jika hal tersebut berulang terjadi, itu bisa menjadi pertanda dari kepikunan atau demensia.
Demensia atau pikun adalah gangguan yang terjadi akibat kerusakan pada sel-sel syaraf di otak. Gangguan ini biasanya tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dipicu oleh berbagai penyebab seperti usia lanjut, depresi, infeksi otak (termasuk yang disebabkan oleh HIV/AIDS), trauma kepala, dan faktor lain yang secara perlahan menurunkan kemampuan kognitif seseorang.
Demensia bukanlah penyakit, melainkan suatu sindrom. Ini bukan kondisi yang membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir secara bertahap atau kronis. Dampaknya termasuk kesulitan dalam berpikir, kecerdasan yang menurun, sering lupa, kesulitan dalam pengambilan keputusan, dan gangguan mood.
Meskipun demikian, demensia bukan hanya terjadi pada lansia. Gejala demensia bisa dialami oleh siapa saja, bahkan mereka yang masih berusia 20 tahun. Faktor seperti usia, genetika, riwayat keluarga, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta kondisi kesehatan seperti kolesterol tinggi, diabetes, homosistein, dan sindrom Down dapat menjadi pemicunya.
Sebagaimana disampaikan oleh dr. Raul Sibarani dari MRCCC Siloam Hospital Semanggi dalam seminar 'Kenali Dari Awal Gejala Demensia Penanggulangannya dan Bagaimana Mencegahnya', penting untuk lebih memahami gejala demensia dan upaya pencegahannya.
Penelitian yang baru diterbitkan di jurnal Neurology minggu ini melibatkan 716 orang berusia 70-80 tahun. Semua peserta menjalani tes kognitif untuk mengukur kemampuan berpikir dan memori mereka. Empat tahun kemudian, mereka diuji ulang dan diminta untuk melaporkan seberapa sering mereka melakukan kegiatan seperti berkebun, berjalan, berenang, serta aktivitas sosial dan merangsang otak. Peneliti juga mencatat variabel lain seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, kesehatan secara keseluruhan, depresi, dan faktor genetik.
Sebanyak 10 persen peserta didiagnosis dengan Alzheimer. Penelitian menunjukkan bahwa semakin aktif seseorang, semakin rendah risiko Alzheimer. Mereka yang kurang aktif memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk mengembangkan Alzheimer dibandingkan dengan yang paling aktif.
Dr. Aron S. Buchman, seorang profesor ilmu saraf di Rush University Medical Center di Chicago, menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa orang lanjut usia yang mungkin tidak lagi mampu melakukan latihan fisik formal masih bisa mendapatkan manfaat dari gaya hidup yang aktif. Aktivitas sehari-hari seperti berdiri, mencuci piring, dan membersihkan rumah terkait dengan penurunan risiko Alzheimer.






0 comments:
Posting Komentar