Senin, 09 Maret 2026

Perisai Malu adalah identitas kita yang paling kuat

Posted By: Aa channel media - Maret 09, 2026

Assalamualaikum wr. wb. kepada pembaca sekalian, puji syukur kepada Allah yang mengatur alam ini karena Dialah yang layak menerima pujian. Rasa malu adalah separuh dari iman. Malu yang dimaksud adalah malu kepada Allah, malu melakukan dosa dan malu saat meninggalkan ketaatan. 

Malu adalah dasar akhlak mulia dan selalu berlandaskan kebaikan. Seseorang yang memiliki tingkat malu yang tinggi, akan mendapatkan lebih banyak kebaikan. Sebaliknya, orang yang kurang rasa malu, akan mendapatkan sedikit kebaikan.

Dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amru al-Ansari al-Badri r.a., beliau mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa ungkapan yang sudah dikenal orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah : 'Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang kamu sukai.' (Riwayat al-Bukhari)

Hadis ini sebagai bukti bahwa malu adalah perisai bagi seseorang dari perbuatan yang dapat merugikan agamanya dan merusak akhlak serta martabatnya. Malu dapat mencegah seseorang dari melakukan dosa.

Orang yang tidak memiliki rasa malu, tidak akan peduli dengan keburukan perbuatannya. Ketika rasa malu sudah tidak ada, maka berbagai kemungkaran akan terjadi seperti tidak menghormati orang tua, pelajar tidak menghormati guru, tempat maksiat menjadi tempat wisata, laki-laki dan perempuan berperilaku tidak sopan di depan umum, tidak beradab di jalan raya, jabatan menjadi rebutan, pemimpin memanfaatkan jabatannya, dan berbagai hal lainnya.

Jangan Malu Membela Kebenaran
Cara singkat yang kita ambil untuk tidak bertindak terhadap kejahatan yang terlihat adalah dengan tidak menegur, menghalangi apalagi mencegahnya. Kita mengambil sikap pura-pura tidak tahu yang katanya malu untuk ikut campur urusan orang lain.

Dari Abi Sa'id al-Khudri r.a., Nabi s.a.w. bersabda yang berarti: "Siapa pun di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangan. Jika tidak mampu, hendaklah dia mengubahnya dengan lidah. Jika tidak mampu, hendaklah dia mengubahnya dengan hati dan itulah selemah-lemah iman." (Riwayat Muslim)

Biasanya, alasan yang diberikan ketika malu untuk menegur adalah kedudukan, pangkat, kuasa, harta, dan berbagai alasan lain. Kadang-kadang kita malu untuk membenahi kemungkaran yang dilakukan oleh orang dekat dengan kita. Ungkapan "menjaga tepi lain orang" lebih relevan ketika kemungkaran itu dilakukan oleh anak, istri, tetangga, anggota dalam jemaah, dan sejenisnya. Kita wajib membenarkannya karena mereka adalah tanggungan dan amanah. Seharusnya kita tidak perlu malu untuk menegakkan perintah Allah.

Jangan Malu Menuntut Ilmu
Pepatah mengatakan: "Malu bertanya sesat jalan, malu berkayuh perahu hanyut." Dalam usaha menuntut ilmu baik ilmu duniawi maupun ukhrawi, perasaan malu perlu dihilangkan sepenuhnya. Ini karena ilmu yang dipahami nantinya bisa dimanfaatkan dan disebarluaskan. Sifat wanita Ansar seharusnya ada dalam diri seseorang yang menuntut ilmu. Sayidatina Aisyah r.ha. memuji: "Sebaik-baik wanita adalah wanita Ansar. Mereka tidak malu untuk membatasi diri untuk mendalami pemahaman dalam agama." (Riwayat Muslim, Abu Daud, dan Ibn Majah)

Kita harus bersikap proaktif dalam menuntut ilmu. Lihat saja dalam sebuah majelis ilmu atau di ruang kuliah, tidak ada pertanyaan diajukan, katanya malu bertanya pertanyaan "bodoh". Banyak juga yang malu dalam menuntut ilmu dengan alasan sudah tua serta otak sudah berkarat atau lembab. Maka, mereka akan terus menjadi orang yang bodoh tanpa ilmu. Tanpa ilmu, ibadah yang dilakukan hanya sekadar ikut-ikutan orang.

Malu Melakukan Maksiat
Orang beriman wajib memiliki sifat malu karena itu mendorong kuat untuk berperilaku baik dan menjauhi tingkah laku yang buruk dan jahat. Perbuatan dan tindakan yang dilakukan akan menjadi lebih baik seperti bersikap berbudi bahasa, lemah lembut dalam berbicara, tidak merendahkan orang lain, tidak menggunjing, dan sebagainya. Tindakannya juga tidak tergesa-gesa menuruti hawa nafsu, adil, amanah, suka membantu orang lain, dan sebagainya.

Kesimpulannya, sifat malu perlu ada pada setiap orang yang beriman karena orang yang malu kepada Allah akan menjaga anggota mata, telinga, mulut, dan anggota lainnya dari melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Perasaan malu kepada Allah juga memungkinkan seseorang menjaga diri dan kemaluannya dari melakukan zina. Inilah kebahagiaan ketika seseorang memiliki rasa malu kepada Allah dan ini adalah Perisai Malu.

Terima kasih, Wassalamualaikum wr. wb.


 

0 comments: