Kamis, 12 Maret 2026

Pengantar Praktek Sunnah dan Bid'ah

Posted By: Aa channel media - Maret 12, 2026

Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat-Nya kepada kita, segala bentuk pertolongan dari-Nya, dan pada-Nya kita memohon ampunan. Semoga Allah SWT melindungi kita dari kejahatan nafsu dan perbuatan buruk. Barangsiapa yang mendapat hidayah dari Allah SWT, pasti tidak akan sesat. Namun, bagi yang tersesat, Allah SWT tidak akan memberikan cahaya petunjuk kepada mereka. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan rasul-Nya. Semoga Allah memberkati Baginda, keluarga Baginda, para sahabat Baginda, dan semua yang menjunjung risalah Baginda serta menjaga sunnah-Nya. Selanjutnya, salam sejahtera untuk semua, dengan salam dan penghormatan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sunnah dan Bid'ah adalah dua konsep yang sering menjadi perdebatan dalam praktik keagamaan. Sunnah merujuk pada tindakan atau ucapan yang dilakukan atau disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, sementara Bid'ah merujuk pada inovasi atau perubahan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran agama.

Penting untuk memahami perbedaan antara Sunnah dan Bid'ah agar kita dapat mengikuti ajaran agama dengan benar. Sunnah adalah contoh yang diikuti oleh Nabi Muhammad SAW dan merupakan cara terbaik untuk menjalani kehidupan yang Islami. Sementara itu, Bid'ah tidak dianjurkan dalam ajaran agama karena dapat menyebabkan penyimpangan dari ajaran yang sebenarnya.

Dengan memahami perbedaan antara Sunnah dan Bid'ah, kita dapat menjalani kehidupan beragama yang benar dan menghindari praktik-praktik yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Pada kesempatan malam ini, semoga kita dilimpahi berkah-Nya dan ditemani para malaikat. Pembahasan kita malam ini adalah mengenai sunnah dan bid'ah. Hal ini didasari oleh permintaan Syeikh Mu'jab hafizahullah, terkait dengan artikel dalam majalah yang menyatakan menolak bid'ah adalah sikap jahiliyah. Menurut beliau, seharusnya kita tidak menolak bid'ah, namun harus menghentikan orang-orang yang melakukan bid'ah sesuai hawa nafsu mereka atau pengaruh syaitan.

Maka dari itu, kita perlu kembali kepada pemahaman yang benar, seperti memasuki sebuah rumah melalui pintunya. Kita harus jelas dalam memahami isu ini dan tidak membiarkannya terbuka untuk ditafsirkan dengan bebas. Kita harus mengerti arti sunnah, bid'ah, dan sikap Islam terhadap bid'ah. Mengapa Islam melarang bid'ah? Apakah penolakan terhadap bid'ah sama dengan penolakan hal-hal baru?

Nanti akan dijelaskan mengenai arti sikap, bukti-bukti yang kuat, menghapus keraguan, merusak mereka yang menghilangkan bukti kebenaran, dan memuliakan mereka yang memperkuat bukti kebenaran.

"Jauhilah dirimu dari hal-hal yang diada-adakan dalam agama karena setiap yang diada-adakan adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat." (Direkodkan oleh Abu Daud dan At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Al-Darimi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa setiap hal baru adalah bid'ah dan oleh karena itu mengkafirkan semua yang tidak ada dalam sunnah. Sebagian lain berpendapat bahwa bid'ah hanya terkait dengan urusan duniawi sehingga amalan yang tidak ada dalam sunnah bisa diterima. Perbedaan ini kadang-kadang menyebabkan pertengkaran di antara mereka bahkan dalam hal-hal yang tidak penting.

Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi memberikan jawaban atas perselisihan ini dengan topik berikut:
- Definisi sunnah dan bid'ah menurut perspektif Al-Quran dan sunnah.
- Lingkup permasalahan bid'ah.
- Apakah hal baru hanya terbatas pada urusan dunia saja?
- Mengapa Islam tegas dalam masalah bid'ah?
Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menanggapi penyelewengan ini dalam artikelnya, "Menolak Bid'ah, Membenci Hal Baru: Apakah Ini Posisi Islam atau Jahiliyah?" 



0 comments:

Posting Komentar