Meskipun dalam segala keadaan, satu-satunya pilihan bagi kita adalah untuk berusaha sekuat tenaga mencintai Rasulullah s.a.w. sepenuh hati. Keselamatan kita di dunia dan akhirat tergantung pada seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah s.a.w. Oleh karena itu, untuk mencapai cinta kepada Allah, kita harus melewati jalan-jalan yang membawa kita kepada cinta kepada Rasulullah terlebih dahulu.
Seorang Badwi Arab bertemu dengan Rasulullah s.a.w. dan bertanya, "Kapan kiamat akan terjadi?" Rasulullah s.a.w. bertanya balik kepadanya, "Apa yang telah kau siapkan untuk menghadapinya?" Orang Badwi tersebut menjawab, "Aku telah menyiapkan hati yang sangat mencintaimu, wahai Rasulullah." Rasulullah menjawab, "Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya di akhirat."
Ketika para sahabat mendengar hal ini, mereka sangat gembira. Bahkan, ada di antara mereka yang merasakan hari itu seolah-olah hari raya. Mereka merasa bahwa dengan "modal" cinta, mereka akan diberikan syurga!
Cara untuk mencintai Rasulullah adalah dengan mengenalinya dengan baik melalui sirah dan sunnahnya. Tidak cukup hanya mengenalnya secara intelektual, tetapi juga perlu mengenalnya dengan hati, dan kemudian mencoba menerapkan semua sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Tanyakan pada diri sendiri, "Bagaimana perasaan, kata-kata, dan tindakan kita ketika Rasulullah bersama-sama dengan kita dalam situasi ini?" Itulah perasaan yang seharusnya kita miliki jika kita benar-benar ingin mengenal Rasulullah s.a.w.
Mungkin kita sudah banyak membaca kisah Rasulullah, tetapi seberapa dalam pengaruhnya terhadap hati kita? Dengan mencoba mencontohi Baginda setiap saat, barulah kita akan mendapatkan hidayah dari Allah untuk benar-benar mengenal dan kemudian mencintai Rasulullah.
Untuk mencintai, kita harus mengenal terlebih dahulu. "Tak kenal, maka tak cinta." Ketika kita sudah mengenal Rasulullah s.a.w. barulah kita bisa mencintainya. Oleh karena itu, setelah mengenal Allah, yang terpenting adalah mengenal Rasulullah.
Ironisnya, bagaimana mungkin orang tua bisa memperkenalkan dan menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah kepada anak-anak jika mereka sendiri belum mengenal dan mencintai Baginda?
Mengenal Rasulullah s.a.w. melibatkan dua dimensi, seperti yang berikut:
| Rohaniah | Aspek keyakinan, prinsip dan strategi perjuangan Rasulullah. |
| Dimensi | Contoh |
| Lahiriah | Personaliti Rasulullah yang merangkumi nama, rupa fizikal, ahli keluarga dan lain-lain. |
Tidaklah mencukupi jika kita hanya mencintai Rasulullah s.a.w. berdasarkan penampilan lahiriah beliau tanpa memahami serta menyelami perjuangannya. Abu Talib, bapa saudara Nabi sendiri sangat gigih dalam melindungi keamanan Rasulullah. Namun, sayangnya, beliau tidak diberi hidayah untuk menerima iman dan ajaran Islam yang menjadi tujuan perjuangan Rasulullah.
Oleh karena itu, mengenal Rasulullah s.a.w. tidak hanya sekedar mengenal penampilan fisik beliau. Kita harus juga memahami jiwa dan prinsip perjuangan beliau. Pengetahuan yang hanya sebatas penampilan luar, tidak akan mampu menghasilkan cinta yang tulus. Hanya menghafal nama, mengetahui keluarga, dan memiliki informasi tentang hal-hal eksternal beliau bukanlah pengenalan yang sejati. Hal tersebut mungkin bisa menarik minat, tetapi tidak akan mampu menumbuhkan cinta yang sesungguhnya.
Pengenalan yang benar-benar mampu menumbuhkan cinta adalah pengenalan yang meresap ke dalam hati, bukan hanya sekedar pengetahuan di kepala atau sekedar hafalan. Sebab cinta adalah masalah hati dan perasaan. Banyak umat Islam yang mengaku mencintai Rasulullah namun sebenarnya belum benar-benar merasakan cinta yang hakiki. Jika hati masih dikuasai oleh cinta pada dunia, manusia, atau hal-hal lain, maka cinta kepada Rasulullah tidak akan tumbuh dengan sempurna. Betapa jarangnya kita mengingat Rasulullah, apalagi merindukan untuk bertemu dengannya.
Mematuhi ajaran Rasulullah adalah tanda cinta yang sejati. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan, "Seseorang akan menjadi hamba kepada apa yang dicintainya." Seseorang yang mencintai Rasulullah akan patuh kepada ajaran-Nya dan dengan demikian, menjadi hamba kepada Allah. Kepatuhan terhadap ajaran Rasulullah adalah bukti nyata dari cinta yang tulus. Tanpa mematuhi ajaran-Nya, maka dakwaan cinta itu hanyalah bohong belaka.
Al-Hasan al-Basri dan para salaf pernah menyatakan, "Sebuah kaum mengaku mencintai Allah, namun ketika diuji dengan firman Allah dalam surah Ali 'Imran ayat 31 yang berbunyi, 'Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.'"
Ketika berpartisipasi dalam perayaan hari keputeraan Rasulullah, sudah sepatutnya kita mengingat nasihat dari al-Hasan al-Basri ini.
Memuliakan dan menghormati Rasulullah berarti menerima segala ajaran-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan-Nya. Jika seseorang tidak bisa memenuhi hal-hal tersebut, maka sebenarnya dia tidak benar-benar menghormati Rasulullah, meskipun dia mengaku-aku.
Cinta bukanlah sekadar kata-kata, melainkan tindakan. Seseorang yang tidak menjalankan sunnah Rasulullah dalam kehidupannya karena alasan apapun, pada dasarnya sedang menghina Rasulullah. Hal ini juga dapat dianggap sebagai keraguan terhadap kejujuran, keadilan, dan kebenaran yang diajarkan oleh Baginda.
Pada akhir zaman, bukti cinta kepada Rasulullah adalah dengan menegakkan ajaran-Nya, meskipun hal itu sulit dilakukan. Namun bagi mereka yang cinta, mereka akan rela menghadapi segala kesulitan demi mendapatkan keridhaan orang yang mereka cintai. Ya, cinta memang buta. Jadi, jika kita mencintai Rasulullah, kita harus siap untuk menghadapi segala tantangan dan mengamalkan ajaran-Nya, sebagaimana kita menggenggam bara api dengan gigi geraham.
Seperti sabda Rasulullah, "Islam dimulai sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada awalnya. Berbahagialah orang yang termasuk dalam golongan yang asing."
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda bahwa di belakang kita akan ada hari-hari yang akan menguji kesabaran kita, seperti memegang bara api. Orang-orang yang bersabar dan mengamalkan sunnah pada hari-hari tersebut akan mendapatkan pahala 50 kali lipat dari mereka yang mengamalkannya.
Para sahabat bertanya apakah pahala tersebut 50 kali lipat dari mereka atau dari kita. Rasulullah menjawab bahwa pahala tersebut bahkan 50 kali lipat dari kita.
Namun, kita harus berhati-hati terhadap tipu daya syaitan yang ingin menyesatkan manusia. Bagi yang tidak memuliakan Rasulullah s.a.w., syaitan akan meniupkan rasa enggan dan angkuh untuk mengikuti sunnah. Sementara bagi yang sudah memiliki dorongan untuk memuliakan Baginda, syaitan akan mendorongnya secara berlebihan.
Rasulullah sendiri pernah memperingatkan agar tidak berlebihan dalam menyembahnya seperti yang dilakukan oleh orang Nasrani terhadap Nabi Isa. Beliau adalah hamba Allah dan pesuruh-Nya, oleh karena itu panggilan yang sepatutnya adalah Abdullah dan Rasulullah.
Mencintai keluarga, kaum kerabat, dan sahabat Rasulullah adalah hal yang wajar. Rasulullah mengajarkan kita untuk berdoa agar dicintai oleh Allah, dicintai oleh orang yang mencintai Allah, dan mencintai segala sesuatu yang membawa kepada kecintaan kepada Allah.
Buktikan cinta kita kepada Rasulullah dengan mencintai keluarganya dan para sahabatnya. Menghormati para sahabat, mengakui keutamaan ahli bait, dan menjaga kehormatan mereka adalah wujud dari cinta kita kepada Rasulullah.
Allah telah meredai para sahabat yang terdahulu, Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka akan mendapat syurga yang mengalir sungai di dalamnya, dan mereka akan kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang besar.
Ketika seorang sahabat menyatakan kekhawatiran tentang penunjukan Usamah bin Zaid sebagai jenderal tentara Islam, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, "Jika kalian mencela kepemimpinannya, maka kalian juga mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, ayahnya sangat layak untuk menjadi panglima dan dia adalah salah satu yang paling aku cintai. Usamah adalah orang yang paling aku cintai setelah ayahnya." Begitu juga, Rasulullah menyatakan cintanya kepada cucunya, al-Hasan dan al-Husain, dengan mendoakan mereka, "Ya Allah, cintailah kedua cucuku ini karena aku mencintai mereka."
Mencintai Rasulullah namun membenci sahabat-sahabat utama Baginda adalah sebuah kebohongan. Para sahabat dan generasi awal Islam telah dijelaskan keutamaannya oleh Rasulullah sendiri, "Sebaik-baik manusia adalah orang-orang dari generasiku, kemudian yang mengikuti mereka, dan yang mengikuti mereka."
Mencintai ulama yang gigih dalam berdakwah adalah penting. Mereka adalah pewaris nabi dan telah menjaga warisan ilmu dengan penuh dedikasi. Ulama adalah penasihat, murabbi, dan pembimbing dalam menegakkan Islam. Kita harus menghormati ulama silam yang telah berjasa dalam menyebarkan ilmu dan melestarikan warisan ilmu tersebut.
Meskipun ulama juga manusia biasa yang rentan melakukan kesalahan, hal tersebut bukanlah alasan untuk menghina atau mencela mereka. Perbedaan pendapat di antara ulama harus diterima dengan lapang dada dan sikap yang baik.
Menghormati ulama silam adalah penting, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman Allah, "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, berikanlah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami. Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'"
Mencintai Karena Allah
Setelah mencintai Allah dan Rasul-Nya, kepada siapa lagi kita perlu mencintai? Ya, kita bisa mencintai siapa pun dan apa pun dengan syarat bahwa kita mencintai mereka karena Allah. Mencintai Allah adalah sumber cinta dari segala sesuatu. Oleh karena itu, cintailah Allah.
Rasulullah mampu mencintai istri, anak, cucu, menantu, sahabat, bahkan seluruh umatnya. Jika Rasulullah mencintai Mu'az karena Allah. Mencintai seseorang karena Allah dan Rasul-Nya juga dianggap sebagai mencintai Allah.
Namun, dalam situasi apapun, cinta kepada makhluk tidak boleh melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah yang berarti: "Jika ayah, anak, saudara, istri, keluarga, harta yang kamu usahakan, bisnis yang kamu khawatirkan kerugian, dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Surah al-Tawbah 9:24)
Umar al-Khattab berkata kepada Rasulullah SAW: "Wahai Rasulullah, sungguh aku lebih mencintaimu daripada segalanya kecuali diriku sendiri."
Nabi SAW bersabda, yang artinya: "Tidak, demi Allah yang memiliki jiwaku di tangan-Nya, sehingga aku lebih dicintai daripada dirimu sendiri."
Umar RA berkata: "Sungguh, demi Allah sekarang aku lebih mencintaimu daripada diriku sendiri." (Riwayat al-Bukhari)
Apakah perasaan kita telah mencapai tingkat seperti yang pernah dirasakan oleh Sayidina Umar? Apakah Rasulullah SAW lebih kita cintai daripada diri kita sendiri?
Masya Allah, semuanya masih jauh. Pertanyaan "di mana Rasulullah di hati kita?" adalah pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur oleh setiap Muslim karena kedudukan Rasulullah di hati kita adalah tolak ukur kedudukan Allah di hati kita. Di mana Allah di hati kita juga menentukan sejauh mana kebahagiaan, keberhasilan, ketenangan, keselamatan, dan keharmonisan hidup kita di dunia dan akhirat.






0 comments:
Posting Komentar