Seharusnya remaja mencapai tahap kematangan segera setelah mencapai usia dewasa. Secara etimologi, dewasa dari segi bahasa berarti "sampai". Dewasa dari segi akal berarti sudah mencapai tingkat pikiran yang matang. Artinya, sudah mampu berfikir dengan baik dan sempurna.
Pada tahap ini, remaja seharusnya sudah mencapai tahap kematangan dari segi spiritual, mental, dan fisik untuk mematuhi seluruh perintah Allah. Oleh karena itu, pada usia ini (menurut syariat Islam), dosa dan pahala seseorang sudah mulai dicatat. Amal baiknya diberi pahala, amal buruknya dicatat sebagai dosa. Pada usia ini juga, jika seseorang itu meninggal, maka dia akan dihisab dan diputuskan apakah masuk surga atau neraka. Singkatnya, pada tahap akal dewasa setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Allah.
Sebelum Dewasa
Memahami Kematangan
- Pengertian kematangan
Sudah mampu menilai, berfikir, memilih, membuat keputusan, dan bertindak dengan benar, tepat, dan baik.
- Bagaimana kematangan tercapai?
Kematangan merupakan hasil gabungan antara pengetahuan, sikap, dan keyakinan.
- Lingkup kematangan
Mencakup aspek spiritual, emosional, dan intelektual.
Remaja yang sudah mencapai usia baligh seharusnya sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang fardu ain. Mereka seharusnya sudah memahami secara umum tentang semua rukun iman dan rukun Islam, serta hal-hal dasar yang terkait dengannya. Sebagai contoh, seorang remaja harus mengenal Allah beserta sifat-sifat-Nya, mengetahui tentang kitab suci, malaikat, para rasul, dan rukun iman lainnya. Mereka juga seharusnya mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan rukun Islam, seperti tata cara sholat termasuk bacaan al-Fatihah, tahiyat, wudhu, serta cara membersihkan najis dan mandi junub, dan lain sebagainya.
Pada usia baligh, seharusnya tidak ada lagi masalah dalam hal persiapan, melainkan sudah siap untuk menjalankan ajaran agama Islam. Usia ini bukan lagi saat untuk persiapan, melainkan saat untuk bertindak. Usia 15 tahun bagi remaja laki-laki, dan 9-12 tahun bagi remaja perempuan adalah saat yang sangat penting. Ini bukan saat untuk malas-malasan dan bermain-main. Begitu mencapai usia baligh, itulah saat seseorang resmi menjadi "pekerja" Allah. Segala perbuatannya telah dinilai. Baik buruknya perilaku telah mendapatkan ganjaran dan hukuman.
Aku berjanji untuk memulai
Tanda-tanda seorang remaja yang matang
Aku remaja yang matang ketika:
• Memiliki visi dan misi hidup yang jelas dan tepat.
• Mengembangkan potensi diri hingga mencapai tingkat maksimal.
• Memberikan kebaikan kepada orang lain secara konsisten.
• Mampu membuat keputusan yang benar dengan cepat dan tepat.
• Memiliki keyakinan dan harga diri yang tinggi.
• Bijak dalam mengelola waktu.
• Berkomitmen dalam menyelesaikan tugas dan peran yang diberikan.
Seharusnya orang tua mengingatkan anak-anak mereka yang telah baligh untuk menjalankan tugas mereka sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia ini. Penting bagi mereka untuk mengetahui tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Doronglah mereka untuk menjaga batas-batas dan norma-norma dalam perilaku dan perkataan mereka.
Remaja yang telah mencapai usia akil baligh seakan-akan telah menandatangani kontrak sebagai pekerja baru yang diberikan daftar tugas, diminta untuk memahami, mengakui, dan berjanji (aku janji) untuk taat kepada Allah. Inilah betapa pentingnya usia baligh bagi remaja dan orang tua mereka.
Sayangnya, usia akil baligh sering dianggap remeh dalam kehidupan remaja. Ada momen atau tanggal lain (yang kadang-kadang sama sekali tidak berkaitan dengan nilai Islam) yang lebih dihargai seperti "Valentine Day", "Halloween", dan lainnya. Mengapa semua ini terjadi?
Semua ini terjadi karena Allah diabaikan dalam kehidupan remaja. Kita kurang mengenal kebesaran dan keagungan-Nya. Tanpa pengetahuan, tidak akan ada rasa cinta. Tidak ada rasa takut dan harap kepada Allah.
Akibatnya, banyak orang tidak melihat manfaat dari taat kepada-Nya dan bahaya jika melanggar perintah-Nya. Tanpa pemahaman tentang ganjaran dan hukuman-Nya, tidak akan ada dorongan untuk berbuat kebajikan. Jika hal ini terjadi, tentu saja tidak akan ada keinginan untuk bersiap-siap untuk beramal karena Allah. Akibatnya, usia akil baligh dianggap tidak penting lagi.
Apa arti sebenarnya dari usia akil baligh bagi remaja seperti itu? Oleh karena itu, dengan sindiran, ada yang mengatakan bahwa usia akil baligh bukan pada usia 15 tahun, tapi pada usia 55 tahun! Karena pada usia setelah pensiun itulah banyak yang baru mulai melakukan kebaikan atau bersiap-siap untuk melakukannya. Bahkan ada yang mencapai usia 55 tahun namun masih belum matang secara spiritual.
Jika dapat disimpulkan, usia akil baligh dapat dikatakan sebagai "waktu yang tepat". Ketika sudah baligh, berarti sudah "waktu yang tepat". Jadi, jangan mencari alasan lagi, jika ditanyakan mengapa tidak shalat, jangan jawab, "belum waktunya..."
Akibat ketidaktahuan akan hal ini, banyak remaja tidak mempersiapkan diri untuk memulai hidup baru saat mencapai usia baligh. Usia inilah sebenarnya saat kematangan mereka harus dicapai.
Saat itulah kematangan seseorang harus tercapai, yaitu saat faktor ilmu, iman, syariat, akhlak, kemampuan berfikir, kepekaan emosi, dan kecekatan berfikir mulai dimiliki dan digunakan.
Penanda Utama Kematangan
Perhatikanlah bagaimana seorang remaja bersikap terhadap ibadahnya. Seberapa patuhkah dia kepada orang tua? Sejauh mana komitmenya sebagai pelajar dalam meraih kesuksesan belajarnya? Bagaimana empati dan simpatinya terhadap nasib umat?
Jika diamati, ini adalah indikator kematangan seorang remaja. Remaja yang matang tidak hanya dapat membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk, tetapi mereka juga mampu menjalani hidup mereka berdasarkan petunjuk agama.
Sebagai introspeksi, mari kita pertanyakan hal-hal ini kepada diri kita sendiri. Apakah seorang remaja dapat dianggap matang jika dia tidak mengenal dan mentaati Allah, Sang Pencipta yang selalu menjaganya?
Dimanakah kedewasaannya jika dia mengabaikan solat, tiang agama yang akan menyelamatkannya di dunia dan di akhirat?
Bagaimana mungkin seseorang dianggap matang jika dia masih membuang waktu dengan aktivitas yang tidak produktif (dengan dampak positif) bahkan destruktif untuk hidupnya sendiri?
Hanya Mereka yang Matang
Ya, semua orang dapat mencapai kematangan dari segi biologis dan fisik. Asalkan tubuh sehat dan kuat, maka kita semua dapat mencapai kematangan secara fisik. Tetapi bagaimana dengan kematangan pikiran, jiwa, dan emosi? Seseorang mungkin telah mencapai kematangan biologis dan fisik, tetapi belum tentu matang dari segi spiritual, akal, dan perasaan.
Seseorang yang tidak matang tidak akan bertanggung jawab. Mereka tidak mampu membedakan antara baik dan buruk. Mereka hanya berpikir untuk kesenangan sesaat tanpa memperhitungkan akibatnya. Mereka tidak memikirkan akibat di dunia ini, apalagi di akhirat.
Remaja yang belum matang mungkin saja menghabiskan waktu berjam-jam di internet tanpa tujuan yang jelas, padahal seharusnya mereka menghabiskan waktu untuk belajar. Banyak yang hanya menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan tanpa tujuan yang jelas. Begitu juga dengan perilaku merokok, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, dan hubungan antara pria dan wanita yang melampaui batas.
Mereka melakukan hal-hal tersebut karena belum matang untuk mempertimbangkan akibat dari tindakan mereka. Mereka hanya memikirkan kesenangan sesaat, tanpa memikirkan akibat buruk yang akan berlangsung lama. Sementara bagi remaja yang sudah baligh dan matang, mereka menyadari tanggung jawab mereka kepada Allah, orang tua, dan diri sendiri.
Hanya remaja yang matanglah yang dapat menjadi manusia yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Mereka adalah khalifah sejati di bumi ini, yang dapat memberikan kebaikan kepada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitarnya. Orang yang matang adalah orang yang mendapat petunjuk Allah dan mendapatkan keberuntungan dalam hidupnya.






0 comments:
Posting Komentar