Dalam sejarah Islam, terdapat sebuah cerita menarik tentang Rasulullah yang melakukan dakwah di kalangan jin. Kisah ini menunjukkan bagaimana beliau tidak hanya menyebarkan ajaran Islam di kalangan manusia, tetapi juga di kalangan makhluk lain yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Rasulullah pernah diutus untuk menyampaikan risalah Allah kepada seluruh alam, termasuk jin. Beliau tidak hanya berdakwah kepada manusia, tetapi juga kepada makhluk gaib yang tinggal di dunia lain. Meskipun tidak semua jin menerima dakwah beliau, namun ada juga yang mengikuti ajaran Islam setelah mendengarkan ceramah beliau.
Kisah dakwah Rasulullah di kalangan jin menunjukkan betapa luasnya rahmat dan kasih sayang beliau terhadap seluruh ciptaan Allah. Dengan kesabaran dan kegigihan beliau, banyak jin yang akhirnya memeluk agama Islam dan mengikuti ajaran beliau.
Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya berdakwah kepada semua lapisan masyarakat, termasuk kepada makhluk gaib sekalipun. Sebagai umat Islam, kita diharapkan untuk menjalankan tugas berdakwah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam kisah dakwahnya di kalangan jin.
Suatu hari, para jin datang kepada Rasulullah dalam jumlah yang banyak setelah mendengar Al Qur’an dari nabi. Mereka ingin mendengar firman Ilahi dari sang utusan Allah. Rasulullah segera memenuhi permintaan mereka dengan mengajak Abdullan bin Mas’ud. Beliau membuat garis untuk sang sahabat dan memperingatkan agar tidak keluar dari garis tersebut.
Ketika Rasulullah mulai membaca Al Qur’an di tempat tinggi, sekumpulan makhluk halus seperti awan bergerombol mengelilingi beliau. Ibnu Mas’ud tidak dapat melihat Rasulullah dan khawatir akan keselamatan beliau. Sang sahabat ingin memastikan keselamatan nabi, namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan karena pesan Rasulullah agar tetap berada di garis.
Ibnu Mas'ud hampir saja berlari turun ke kota dan meminta bantuan para sahabat untuk menyelamatkan Nabi. Namun, ia mendengar suara tongkat Nabi dan membatalkan rencananya. Waktu berlalu lama, tetapi gerombolan awan itu tetap saja ada. Ibnu Mas'ud mulai khawatir. Tanpa suara dari Rasulullah dan masih tidak bisa melihat Sang Nabi. Ibnu Mas'ud ingin turun ke kota dan meminta bantuan, tetapi setiap kali ia mendengar suara tongkat Rasulullah. Ia memahami suara itu sebagai isyarat agar para jin duduk dan mendengarkan.
Setelah menunggu lama, Ibnu Mas'ud melihat sekelompok jin bergerombol seperti awan mulai pergi. Namun, masih ada beberapa kelompok kecil yang tinggal di dekat Nabi. Ketika malam berlalu dan fajar menyingsing, kelompok kecil itu pun pergi meninggalkan Rasulullah. Majelis Rasulullah yang dihadiri para jin berakhir. Nabi mendatangi Ibnu Mas'ud dan bertanya, "Apakah kamu tertidur?"
"Tidak, wahai Rasulullah," jawab Ibnu Mas'ud, lega karena bisa melihat Nabi tercinta. "Saya ingin meminta bantuan kepada orang-orang, tapi mendengar suara tongkatmu memberikan isyarat kepada para jin agar mereka duduk," tambah Ibnu Mas'ud. Keputusan dan kesabaran Ibnu Mas'ud untuk tetap diam terbukti tepat. Rasulullah memberitahu, "Jika engkau keluar dari garis itu, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu dari sambaran sebagian dari mereka."
Pada hari lain, pengalaman serupa terjadi lagi. Kali ini, seluruh sahabat menjadi gempar. Mereka mencari-cari Nabi, tetapi tidak menemukan keberadaannya. Mereka khawatir Nabi diculik. Suasana gaduh dan mencekam melanda para sahabat. Mereka merasa khawatir akan keselamatan Nabi. Namun, malam berlalu tanpa hasil. Saat fajar tiba, para sahabat melihat Rasulullah datang dari gua Ira.
Mereka segera bergegas mencari Rasulullah, khawatir dan gelisah karena tidak menemukannya di mana pun. Malam itu benar-benar terasa mencekam bagi mereka. Rasulullah akhirnya muncul dan menjawab kegelisahan mereka, menceritakan tentang pertemuan dengan seorang dai dari kalangan jin yang mengajaknya bersama dan membacakan Al Quran kepada mereka. Beliau menunjukkan bekas tempat duduk jin muslim tersebut, memastikan bahwa semuanya telah berjalan dengan baik.
Keberanian dan kesabaran Rasulullah dalam menyebarkan dakwah kepada kalangan jin sangatlah luar biasa. Beliau tidak takut menghadapi mereka, membimbing mereka menuju jalan yang benar, dan mengubah mereka menjadi muslim yang taat. Seperti manusia, jin juga terbagi menjadi beriman dan tidak beriman. Jin yang beriman memilih untuk taat pada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah, sementara yang tidak beriman lebih cenderung melakukan hal-hal yang merugikan.
Jin beriman tidak mengganggu manusia atau membantu dalam hal-hal gaib seperti yang dilakukan oleh jin yang tidak beriman. Mereka menjauhi perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran agama dan mengikuti jejak Rasulullah. Balasan surga menanti mereka, sesuai dengan janji Allah bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.



0 comments:
Posting Komentar