Kamis, 30 Oktober 2025

Seandainya saya bekerja sebagai staf pemasaran

Posted By: Aa channel media - Oktober 30, 2025

Marketing atau pemasaran adalah salah satu divisi dari organisasi yang berada di ujung tombak. Tugas utama dari bagian marketing adalah untuk menarik sebanyak mungkin pelanggan. Banyak strategi pemasaran yang telah dikembangkan oleh para ahli pemasaran dan dijelaskan dalam berbagai buku pemasaran yang dijual di toko buku. Namun, inti dari strategi pemasaran adalah mengajak calon pelanggan untuk menggunakan produk atau layanan yang ditawarkan oleh perusahaan tempat seseorang bekerja. Pentingnya perilaku yang manis, menarik, dan positif dalam membujuk orang lain juga menjadi prinsip utama dalam pemasaran.

Menjadi bagian dari divisi pemasaran tidaklah mudah. Seperti yang diungkapkan oleh Jokowi, menjadi gubernur DKI Jakarta adalah hal yang sangat sulit. Tidak banyak orang yang mampu untuk selalu bersikap positif sepanjang waktu. Selain itu, tantangan dalam divisi pemasaran juga datang dari sistem target yang harus dipenuhi oleh setiap staf marketing. Jika target tidak tercapai, staf marketing dapat dipecat dari perusahaan. Oleh karena itu, orang-orang yang bekerja di divisi pemasaran umumnya memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi. Mereka suka dengan tantangan dan tidak betah dengan pekerjaan yang monoton dan berulang-ulang.

Persoalan yang timbul adalah ketika seseorang yang memiliki kebutuhan berprestasi rendah (low need Ach) dipaksa oleh organisasi untuk bekerja di bagian pemasaran. Hal ini tentu akan menimbulkan stres yang berat, karena perbedaan dalam tuntutan pekerjaan dan hasil yang harus dicapai. Sebelumnya, pekerjaannya adalah bagian administrasi yang tidak melibatkan tugas mencari pelanggan baru, dengan rutinitas yang monoton. Di bagian pemasaran, sebaliknya, seseorang harus bekerja dengan cepat dan selalu berpikiran positif. Pekerjaan di pemasaran memang melelahkan. Oleh karena itu, sangat sedikit orang yang bersedia bekerja di sana, meskipun ditawari gaji atau bonus tinggi.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan uang banyak, risiko dan tuntutan pekerjaan juga tinggi. Namun, hal ini seringkali berlawanan dengan keinginan orang-orang pada umumnya. Mereka ingin mendapatkan uang banyak tanpa harus menghadapi tuntutan pekerjaan yang tinggi. Mengapa hal ini terjadi? Ada beberapa penjelasan yang mungkin dapat diungkapkan.

Pertama, sejak kecil kita tidak diajarkan untuk bersaing. Anak-anak jarang diajak berpartisipasi dalam berbagai kompetisi, karena orangtua mereka sendiri tidak terbiasa dengan persaingan. Jika ada kompetisi dalam keluarga, biasanya bersifat negatif, dengan orangtua membandingkan anak-anak dengan saudara-saudara atau bahkan tetangga. Ini membuat kita merasa tidak diinginkan dan kurang percaya diri. Orangtua seringkali mendidik kita untuk menjadi pasif. Di sisi lain, lingkungan sosial juga mengajarkan agar kita tidak boleh melawan orangtua. Kita diharuskan menerima perlakuan yang membuat diri kita merasa kecil tanpa boleh mengeluh.

Alasan kedua adalah kecenderungan orang untuk tetap menggunakan cara lama dalam mengerjakan sesuatu, meskipun zaman dan teknologi telah maju. Mereka enggan beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan tetap terjebak dalam cara kerja yang kuno. Hal ini tentu akan menghasilkan kinerja yang kurang memuaskan.

Memang terdapat perdebatan mengenai kelezatan gudeg yang dimasak dengan metode tradisional, seperti menggunakan kayu bakar. Beberapa orang berpendapat bahwa gudeg yang dimasak dengan cara lama memiliki rasa yang lebih enak. Hal yang sama juga terjadi pada penulis tua seperti Umar Kayam, dimana ia lebih produktif saat menulis dengan mesin ketik tua dibandingkan dengan komputer canggih. Suara tuts mesin ketik mampu memacu kreativitas Umar Kayam dalam menghasilkan novel-novel terlarisnya, mengalahkan penulis-penulis muda yang menggunakan teknologi modern.

Fenomena yang serupa juga terjadi pada tekstil, dimana alat tenun bukan mesin (ATBM) lebih diminati oleh pecinta tekstil dari manca negara sehingga hasilnya diekspor. Kain batik dan kain sutra yang diwarnai secara alami juga memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan kain yang diwarnai secara kimiawi.

Dalam hal ini, seseorang dapat menggunakan metode lama asalkan hasilnya memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada produk menggunakan metode baru. Tekad untuk mencapai hasil yang luar biasa justru dapat memunculkan local genius yang menjadi kebanggaan bagi organisasi.

Namun, seringkali orang enggan untuk berusaha mencapai hasil yang luar biasa, baik dengan metode lama maupun baru. Hal ini tentu merugikan dari segi manajemen, namun memberhentikan karyawan yang memiliki pola pikir seperti itu juga dapat menimbulkan masalah ketenagakerjaan yang rumit. Manajemen yang bijaksana akan mendorong karyawan untuk mengikuti pelatihan agar dapat beradaptasi dengan perubahan, sementara manajemen yang kurang bijaksana cenderung memutasi karyawan tanpa pelatihan yang memadai, yang pada akhirnya dapat menimbulkan konflik.

Dalam situasi kerja yang tidak menyenangkan, karyawan ideal sebaiknya sudah mempersiapkan diri untuk perubahan yang mungkin terjadi. Mereka sebaiknya lebih suka dengan perubahan yang direncanakan sendiri daripada perubahan yang dipaksakan pihak lain. Menghujat manajemen hanya akan menyebabkan pemborosan energi belaka. Oleh karena itu, karyawan yang berada dalam situasi sulit sebaiknya mempersiapkan diri secara baik dan mencari solusi yang terbaik.

Saran pertama, seorang karyawan sebaiknya memahami bahwa terdapat langkah awal sebelum seorang pelanggan bersedia membeli produk atau layanan yang ditawarkan oleh perusahaan. Langkah awal tersebut mencakup pertimbangan-pertimbangan konsumen mengenai kualitas barang atau layanan yang ditawarkan, dan konsumen akan membandingkannya dengan produk lain. Langkah awal ini merupakan tahap penting dalam proses pengambilan keputusan. Pada titik ini, tim pemasaran harus terlibat untuk memengaruhi proses berpikir konsumen. Pengaruh tersebut bisa berupa ajakan kepada konsumen agar lebih fokus pada produk yang ditawarkan.

Intervensi yang sering dilakukan adalah berupa pidato (misalnya penjual obat kuat di pasar), melakukan penawaran langsung ke rumah pelanggan (misalnya karyawan promosi penjualan), dan menempatkan iklan di berbagai media (misalnya iklan di koran). Karyawan yang merasa kurang percaya diri cenderung bergantung pada kemampuan perusahaan dalam membuat iklan. Mereka merasa tidak mampu menawarkan produk secara langsung atau berbicara di depan umum. Rasa tidak percaya diri ini akan menjadi penghalang utama dalam mengubah diri.

Saran kedua, karyawan yang terpengaruh oleh rasa tidak percaya diri sebaiknya berusaha keras agar kemampuan yang dimilikinya menjadi luar biasa, seperti contoh yang diberikan oleh penulis Umar Kayam di atas. Meskipun kemampuan tersebut tidak langsung terkait dengan strategi pemasaran (seperti berpidato atau meyakinkan konsumen), namun jika dilakukan dengan sangat baik, hasilnya juga bisa menjadi alat pemasaran. Konsumen akan tertarik untuk membeli produk atau layanan agar bisa berinteraksi langsung dengan karyawan yang luar biasa tadi.

Masalah yang sering muncul ketika memberikan saran kepada karyawan untuk berusaha keras adalah ketidaktahuan karyawan tentang potensi dirinya. Rasa tidak percaya diri cenderung menyebar ke kemampuan-kemampuan lainnya. Rasa tidak percaya diri ini akan semakin diperparah oleh sifat malas kita dalam melakukan sesuatu. Untuk mengatasi rasa tidak percaya diri dan kemalasan ini, penting untuk mengikuti pelatihan mengenai cara-cara meningkatkan motivasi internal. Selain itu, bergaullah dengan orang-orang yang memiliki sifat terbuka, gigih, dan selalu berpikiran positif. Mereka akan senang membantu dan tidak pelit dalam berbagi motivasi dengan orang lain.

Kehidupan ini penuh dengan berbagai pilihan, dan setiap pilihan pasti akan membawa konsekuensi. Jika kita terpaksa menjadi staf marketing karena situasi di organisasi, kita hanya memiliki dua opsi: melihatnya sebagai peluang atau menganggapnya sebagai akhir dari segalanya. Peluang bisa berarti kesempatan untuk berkembang atau jalan mundur menuju kehidupan yang lebih sulit. Sementara itu, menganggapnya sebagai akhir dari segalanya berarti kita memilih untuk menyerah dan menunggu kehancuran (meskipun pada akhirnya semua orang akan menghadapi kematian). Tidak mampu memilih - baik sebagai peluang atau keputusan untuk menyerah - juga merupakan bentuk pilihan.

0 comments: