Selama bulan puasa, kita akan merasa lebih mudah untuk mengendalikan diri, menahan emosi, bersikap sabar, mengedepankan dialog daripada tindakan agresif, dan menjaga keteraturan dalam pola makan dan tidur. Kemudahan tersebut terjadi karena puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan, tetapi juga melibatkan pengendalian emosi dan perilaku sesuai dengan norma sosial. Latihan-latihan tersebut merangsang otak, memperkuat kelenturan otak, serta melibatkan proses pembelajaran dan pengalaman baru. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika selama bulan puasa, orang dengan mudah bangun pada saat pagi buta untuk sahur, dan menahan diri tanpa makan dan minum selama kurang lebih 14 jam.
Di Indonesia, lingkungan sosial turut mendukung masyarakat dalam menjalani ibadah puasa. Misalnya, jam kerja yang disesuaikan, banyak restoran yang tutup pada siang hari, serta orang-orang yang tidak berpuasa akan meminta maaf jika perlu makan di siang hari. Semua ini memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk menjalankan puasa dengan lancar, seakan-akan segala sesuatunya telah tersedia dan tinggal dijalani.
Persoalan yang timbul adalah bagaimana kebiasaan baik yang diperoleh selama bulan puasa dapat terus dipertahankan. Setelah terbiasa makan hanya dua kali sehari dan kini tiga kali sehari, seringkali individu mengalami guncangan fisik, psikologis, dan sosial. Guncangan fisik meliputi kebiasaan tidak bangun pagi buta untuk sahur, yang dapat mengacaukan pola makan. Guncangan psikologis mencakup kehilangan rasa sabar. Sedangkan guncangan sosial mencakup berkurangnya silaturahmi karena mengandalkan komunikasi melalui telepon.
Tentu masih banyak guncangan lain yang mungkin kita hadapi setelah bulan puasa berakhir. Agar kebiasaan baik yang diperoleh selama bulan puasa tetap terjaga, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, kita harus menyadari bahwa kita menjadi contoh bagi anak-anak. Kesadaran ini akan mendorong kita untuk menjadi lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan berperilaku, karena anak-anak akan mencontoh perilaku kita. Hal ini sejalan dengan konsep belajar sosial.
Salah satu cara kedua untuk menjaga kebiasaan positif adalah dengan berpuasa lagi di bulan Syawal ini, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Walaupun berpuasa hanya setengah hari, hal ini akan membantu kita untuk disiplin dalam pola hidup. Cara ketiga adalah dengan menggunakan lingkungan sosial dengan bijaksana. Lingkungan sosial tersebut dapat berupa teman dalam pergaulan dan media massa. Pilihlah teman yang dapat dipercaya untuk bergaul, serta konsumsilah media massa yang dapat meningkatkan semangat dan menyebarkan hal-hal positif. Jika merasa media massa yang digunakan saat ini hanya memberitakan hal negatif, segera beralih ke media massa lain yang lebih mempromosikan kebaikan.







0 comments:
Posting Komentar