Seorang pemuda lulusan SMA melamar pekerjaan sebagai cleaning services di perusahaan terkemuka di negaranya. Setelah melewati tes dan wawancara, ia dinyatakan lolos oleh manajer SDM perusahaan. Manajer SDM memberitahunya, "Terkait tanggal mulai bekerja dan tugas-tugas Anda akan diinformasikan melalui email."
Mendengar kata "email", pemuda tersebut dengan tenang menjawab, "Saya tidak memiliki komputer dan email, Pak." Manajer SDM kaget dan mengatakan, "Pada zaman ini Anda tidak memiliki email? Orang yang tidak memiliki email dianggap mati, dan orang mati tidak bisa bekerja. Dengan demikian, Anda dinyatakan gagal." Mendengar hal tersebut, pemuda yang semula penuh semangat tiba-tiba merasa kecewa dan lesu.
Ia pulang dengan hati yang pedih. Impian dan cita-citanya untuk bekerja di perusahaan besar pupus hanya karena tidak memiliki email. Di perjalanan pulang, pemuda tersebut memikirkan peluang kerja lain yang mungkin bisa dia coba. Uangnya tidak banyak, hanya 100 ribu rupiah. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk beralih profesi dari mencari pekerjaan menjadi pedagang.
Dengan tekad yang kuat, pemuda itu pergi ke pasar untuk memulai usaha barunya. Setelah berkeliling pasar, ia menemukan seorang pedagang yang bersedia memberinya kursus kilat tentang berdagang sayur-sayuran dan buah-buahan. Mereka berdiskusi dengan serius, dan pemuda itu semakin termotivasi untuk memulai usaha dagangnya.
Ketika waktu perdagangan malam tiba, pasar dipenuhi dengan pedagang dan barang dagangan segar. Pemuda itu memutuskan untuk membeli satu boks tomat segar sebagai barang dagangannya. Dengan modal 75 ribu rupiah, ia mulai berjualan tomat keliling menggunakan sepeda bututnya.
Dengan semangat dan tawakkal, pemuda itu berhasil menjual semua barang dagangannya dalam tempo singkat dan mendapat untung 100 persen. Keuntungan bisnisnya semakin besar setiap harinya. Dalam tiga tahun, ia sudah menjadi supplier handal dengan omset yang meningkat pesat.
Pemuda itu bersyukur atas keputusannya untuk berdagang, meskipun sebelumnya ditolak bekerja di perusahaan besar karena tidak memiliki email. Ia menyadari bahwa rezeki yang lapang ada pada perdagangan, bukan hanya bekerja sebagai karyawan. Dengan air mata syukur, ia berdoa agar selalu menjadi hamba yang bersyukur dan diberkahi.







0 comments:
Posting Komentar