Minggu lalu, saya bertemu dengan seorang blogger di Kafe untuk pertama kalinya. Meskipun baru bertemu langsung, tapi rasanya sudah saling mengenal lama. Saya sudah terbiasa membaca tulisan-tulisan blognya dan beberapa kali berkomunikasi melalui Facebook.
Obrolan kami dimulai dari topik pekerjaan, keluarga, sampai pada idealisme dan materialisme dalam dunia blog. Ini terkait dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Menipu Pengunjung dengan Auto Content".
Tidak bisa dipungkiri bahwa ada batasan yang jelas antara idealisme dan materialisme. Di satu sisi, untuk memonetisasi blog, kita dituntut untuk mendatangkan traffic sebanyak mungkin, meningkatkan pagerank, atau menurunkan pagerank. Hal itu tidaklah mudah dan kadang-kadang tergoda dengan tawaran solusi instan atau shortcut. Meskipun harus mengorbankan sisi idealisme sebagai seorang blogger.
"Idealisme kadang-kadang mengesampingkan materialisme." Benar, dan materialisme juga bisa mengesampingkan idealisme.
Auto Content mungkin merupakan cara instan untuk meningkatkan traffic di blog Anda, tetapi bukan pengunjung. Saya mempertimbangkan bahwa ketika mencoba sesuatu yang menguntungkan diri sendiri namun merugikan orang lain, saya tidak akan melanjutkannya.
Dilema antara idealisme dan materialisme juga hadir dalam profesi dokter. Di satu sisi, dokter berusaha menyembuhkan orang sakit, namun di sisi lain ada biaya yang harus dibayar atas jasa tersebut. Bagaimana rasanya menerima bayaran dari orang yang sakit? Saya percaya bahwa dokter harus memberikan pelayanan terbaik tanpa memandang pasien sebagai obyek yang menghasilkan materi.
Dari situ, saya menyimpulkan bahwa idealisme dan materialisme bisa hidup berdampingan, termasuk dalam dunia blog. Berikan yang terbaik kepada pengunjung, tulisan yang sesuai dengan kenyataan, dan hasil yang Anda dapat dari monetisasi blog akan menjadi hak yang sepatutnya Anda terima.
Dapatkah Anda membayangkan dilema yang saya hadapi?






0 comments:
Posting Komentar