Melalui sebuah strategi gerak cepat, pada 2 Agustus 1990, pasukan tentara Irak berhasil menaklukkan Kuwait. Lima hari setelah invasi tersebut, Arab Saudi meminta bantuan dari Amerika Serikat (AS). Invasi Irak ke negara petrodolar tersebut kemudian memicu Perang Teluk ketika pasukan AS melancarkan Operasi Badai Gurun pada 17 Januari 1991. Peristiwa Perang Teluk menarik perhatian dunia pada saat itu, termasuk seorang remaja berusia 17 tahun bernama Domenyk Eades. Domenyk, yang besar di Australia, sering kali mengikuti berita-berita tentang Perang Teluk melalui media massa. Dan saat mengikuti perkembangan isu Timur Tengah, ia mulai tertarik untuk memahami Islam.
Domenyk memutuskan untuk membeli Alquran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk memahami lebih dalam tentang agama Islam. Selama tiga hari, ia membaca Alquran dengan penuh perhatian dan mengaku bahwa itu merupakan pengalaman yang luar biasa baginya. Ia mulai membandingkan isi Alquran dengan Injil dan menyadari bahwa meskipun ada kesamaan antara keduanya, namun ada hal-hal dalam Injil yang sulit dipahami menurutnya.
Domenyk, yang dibesarkan sebagai seorang Kristiani, baru mengenal Islam saat remaja. Meskipun ia memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam dari beberapa Muslim yang ditemuinya, namun pemahamannya tentang agama tersebut masih sederhana. Meski ia tumbuh sebagai seorang Kristiani taat, Domenyk selalu menghormati orang-orang dengan keyakinan yang berbeda darinya.
Melalui proses pembelajaran tentang Islam, Domenyk mulai menyadari bahwa agama ini tidaklah bermaksud mempersulit hidup umatnya, tetapi sebaliknya. Ia mulai memahami betapa Islam memberikan petunjuk hidup yang baik dan pesan-pesan kesetaraan di antara umat manusia.
Meskipun awalnya ragu-ragu, Domenyk akhirnya menyadari bahwa keyakinannya pada Allah dan Nabi Muhammad mengarahkannya untuk memeluk Islam. Namun, proses ini tidaklah mudah baginya, ia merasa sulit untuk menjalankan aturan-aturan dalam ajaran Islam seperti shalat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan. Ia juga khawatir dengan reaksi dari teman-teman dan keluarganya jika ia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim. Oleh karena itu, ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk akhirnya mengambil langkah tersebut.
Namun, ia merasa belum siap untuk menghadapi hidup baru sebagai seorang Muslim. Suatu hari, Domenyk memutuskan untuk menemui beberapa orang Muslim. Ia pergi ke sebuah masjid di dekat tempat tinggalnya. Pengalaman yang ia alami di masjid tersebut telah membuka hatinya. Para Muslim di masjid itu mengetahui bahwa ia bukan seorang Muslim, namun mereka menyambutnya dengan hangat dan berbincang-bincang bersamanya hingga waktu shalat tiba.
"Saya seorang Anglo-Australia dan saya memberanikan diri datang ke sini," katanya. Hatinya tergerak saat melihat jamaah melakukan sujud ketika shalat. Pemandangan itu meninggalkan kesan yang mendalam baginya. Hati kecilnya mulai berbisik bahwa hidup sebagai seorang Muslim tidak lagi terasa mustahil. Saat kuliah, ia bertemu dengan Bukhari Daud, seorang bupati dari Aceh Besar yang sedang belajar di Australia. Mereka berdua menjadi teman baik dan sering mendiskusikan tentang Islam. Bukhari lalu mengundang Domenyk ke rumahnya. Pertemuan itu menjadi pengalaman yang berkesan. Mereka memperkenalkan saya pada budaya Muslim Indonesia.
"Saat itu saya pertama kali merasakan keramahan Muslim," ujarnya. Tekadnya untuk memeluk Islam semakin mantap. Di hadapan Bukhari dan sekelompok Muslim lainnya, Domenyk mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengukuhkan dirinya sebagai seorang Muslim di kediaman Bukhari ketika masih belajar di Australia. Islam telah membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik dan membimbing saya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik," jelasnya. Ia berhasil meyakinkan keluarganya. Keluarga saya melihat bagaimana Islam memberikan dampak positif pada diri saya.
Perubahan tersebut tidak berdampak negatif pada hubungan saya dengan keluarga. Ramadhan pertamanya di Indonesia menjadi kenangan yang sangat istimewa bagi Domenyk Eades. Ia merasa beruntung memiliki banyak sahabat Muslim di sekitarnya. Mereka menghabiskan Ramadhan bersama-sama dan melaksanakan shalat Tarawih setelah berbuka. Ramadhan pertamanya di Indonesia terjadi pada tahun 1997. "Hari itu adalah pengalaman yang sangat luar biasa," kenang Domenyk. Ia mengaku bahwa tidak terlalu sulit untuk membiasakan diri dengan ibadah tersebut. Domenyk sudah mempelajari cara melaksanakan shalat dan puasa sebelum memeluk Islam.
Ia juga sudah menghafal beberapa ayat pendek. Setelah mengucapkan syahadat, ia tidak memerlukan waktu lama untuk membiasakan diri dengan ibadah tersebut. Menjadi seorang Muslim telah membawa banyak perubahan dalam hidup Domenyk. Perubahan tersebut terjadi secara bertahap. Domenyk memeluk Islam saat masih kuliah. Ia beruntung tinggal di sekitar komunitas Muslim yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Selain itu, ia juga bersyukur bisa tinggal di beberapa negara Muslim. Selama beberapa waktu, ia tinggal di Indonesia, terutama di Aceh.
Beberapa tahun kemudian, ia menetap di negara-negara Arab untuk bekerja dan mempelajari bahasa Arab. Domenyk mempelajari linguistik bahasa Arab di Inggris dan menghabiskan bertahun-tahun belajar bahasa Arab. Ia juga telah menunaikan ibadah haji ke Makkah pada tahun 2007. Saat ini, ia bekerja sebagai dosen senior di program studi bahasa Arab di Universitas Salford, Inggris. Domenyk mengajar bahasa Arab kepada mahasiswa-mahasiswa di Inggris.
Sebagai seorang dosen, ia melakukan riset di bidang bahasa dan penerjemahan. Ia juga telah menyelesaikan penelitiannya tentang bahasa di Indonesia. Salah satu buku yang ia terbitkan membahas tentang bahasa Gayo di Aceh. Domenyk juga telah mempublikasikan berbagai artikel, jurnal, dan buku tentang tata bahasa dan dialek bahasa Arab. Ia juga telah menerjemahkan banyak buku dari bahasa Arab ke bahasa Inggris.






0 comments:
Posting Komentar