Masyarakat merupakan kelompok individu yang terlibat dalam interaksi sosial yang berkelanjutan, atau kelompok sosial besar yang berbagi wilayah sosial maupun spasial yang sama, dan umumnya berada di bawah otoritas politik yang sama serta tunduk pada norma budaya dominan yang serupa. Masyarakat ditandai oleh pola hubungan antarindividu yang berbagi kebudayaan dan lembaga khas; suatu masyarakat dapat dianggap sebagai keseluruhan dari jalinan hubungan antaranggota yang membentuknya.
Struktur sosial manusia sangat kompleks dan kooperatif, dengan adanya pembagian kerja melalui peran sosial. Masyarakat membentuk peran dan pola perilaku tertentu dengan menetapkan tindakan atau gagasan yang dianggap dapat diterima atau tidak; harapan perilaku dalam suatu masyarakat dikenal sebagai norma sosial. Karena sifatnya yang kolaboratif, masyarakat memungkinkan anggotanya untuk memperoleh manfaat yang sulit dicapai jika bertindak secara individual.
Masyarakat memiliki tingkatan teknologi dan jenis kegiatan ekonomi yang bervariasi. Masyarakat yang lebih besar dan memiliki surplus pangan yang melimpah sering menunjukkan pola stratifikasi atau hierarki kekuasaan. Bentuk pemerintahan, sistem kekerabatan, dan peran gender juga bisa berbeda luas di antara masyarakat-masyarakat tersebut. Perilaku manusia sangat beragam di berbagai masyarakat; manusia membentuk masyarakat, namun sebaliknya masyarakat juga membentuk manusia.
Masyarakat sering kali merujuk pada sekelompok besar manusia dalam suatu komunitas yang teratur, baik dalam satu negara maupun beberapa negara yang serupa, atau pada "keadaan hidup bersama dengan orang lain", seperti dalam ungkapan "mereka hidup dalam masyarakat abad pertengahan". Istilah society dalam bahasa Inggris telah digunakan setidaknya sejak tahun 1513 dan berakar dari bahasa Prancis abad ke-12 societe (bahasa Prancis modern: société) yang berarti 'perkumpulan'. Kata société sendiri berasal dari istilah Latin societas yang berarti 'persekutuan, aliansi, asosiasi', yang pada gilirannya berasal dari kata benda socius yang berarti 'kamerad, sahabat, sekutu'.
Kata "sosial" berasal dari istilah Latin socii yang berarti 'sekutu'. Istilah ini secara khusus diturunkan dari nama negara-negara Socii di Italia, yaitu sekutu-sekutu historis Republik Romawi, yang kemudian memberontak melawan Roma dalam Perang Sosial pada 91–87 SM.
Konsep Sosial dalam Biologi
Manusia, bersama dengan kerabat terdekatnya seperti bonobo dan simpanse, merupakan hewan yang sangat bersosial. Sifat sosial ini merupakan bagian yang sangat dalam dari hakikat manusia, menunjukkan bahwa manusia memiliki tingkat kerja sama yang tinggi dalam membentuk masyarakat. Masyarakat manusia memiliki perbedaan yang signifikan dengan kelompok simpanse atau bonobo dalam hal peran keahlian pada anak, penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi, pembagian kerja yang semakin terspesialisasi, dan kecenderungan untuk membangun "sarang" dalam bentuk perkemahan, permukiman, atau kota. Beberapa ahli biologi, termasuk E. O. Wilson, mengklasifikasikan manusia sebagai makhluk eusosial, menempatkan manusia pada tingkat tertinggi dalam spektrum etologi hewan, meskipun pandangan ini masih diperdebatkan. Hidup berkelompok secara sosial mungkin telah berevolusi pada manusia melalui seleksi kelompok di lingkungan fisik yang keras dan menantang untuk kelangsungan hidup.
Dalam Sosiologi
Dalam tradisi sosiologi Barat, terdapat tiga paradigma utama dalam memahami masyarakat, yaitu fungsionalisme (atau fungsionalisme struktural), teori konflik, dan interaksionisme simbolik. Karl Marx berpendapat bahwa manusia secara intrinsik adalah makhluk sosial, yang tidak dapat bertahan hidup atau memenuhi kebutuhannya tanpa kerja sama dan interaksi sosial. Sosiolog Max Weber, di sisi lain, mendefinisikan tindakan manusia sebagai "sosial" apabila tindakan tersebut memperhitungkan perilaku orang lain.
Fungsionalisme
Menurut pandangan fungsionalis, individu dalam masyarakat bekerja bersama layaknya organ-organ dalam tubuh yang saling mendukung untuk menciptakan perilaku kolektif yang emergen, disebut juga sebagai kesadaran kolektif. Fungsionalis seperti Auguste Comte dan Émile Durkheim meyakini bahwa masyarakat membentuk tingkat realitas tersendiri yang terpisah dari materi biologis maupun anorganik. Penjelasan atas fenomena sosial harus dibangun di atas tingkat realitas ini, dengan individu-individu dilihat sebagai pengisi sementara dari peran sosial yang relatif stabil.
Teori Konflik
Para penganut teori konflik melihat masyarakat dari sudut yang berlawanan, dengan menekankan bahwa individu serta kelompok sosial atau kelas sosial di dalam masyarakat berinteraksi atas dasar konflik, bukan kesepakatan. Salah satu tokoh teori konflik terkemuka adalah Karl Marx, yang memandang bahwa masyarakat bekerja di atas suatu "basis ekonomi" dengan "suprastruktur" berupa pemerintahan, keluarga, agama, dan kebudayaan.
Interaksionisme Simbolik
Interaksionisme simbolik adalah teori mikrososiologis yang memfokuskan pada individu dan hubungan antara individu dan masyarakatnya. Kaum interaksionis simbolik mempelajari bagaimana manusia menggunakan bahasa bersama untuk menciptakan simbol dan makna yang sama, serta bagaimana dunia simbolik ini membentuk perilaku individu. Sosiolog Peter L. Berger menggambarkan masyarakat sebagai sesuatu yang "dialektis", diciptakan oleh manusia namun juga membentuk manusia itu sendiri.
Pandangan Non-Barat
Pendekatan fungsionalisme, teori konflik, dan interaksionisme simbolik dalam sosiologi Barat telah dikritik sebagai bentuk Erosentrisme. Sosiolog Syed Farid al-Attas dari Malaysia menyatakan bahwa analisis kebudayaan non-Barat oleh para pemikir Barat terbatas dalam ruang lingkupnya. Contoh pemikir non-Barat seperti Ibn Khaldun dan José Rizal mengambil pendekatan sistematis dalam memahami masyarakat. Ibn Khaldun memandang masyarakat sebagai sesuatu yang memiliki "tatanan bermakna", sementara José Rizal mengembangkan teori tentang masyarakat kolonial. Rizal menolak pandangan kolonial yang menuduh rakyat Filipina sebagai bangsa pemalas, dengan menegaskan bahwa "kemalasan" itu merupakan akibat dari penjajahan.
Para ahli sosiologi umumnya mengkategorikan masyarakat berdasarkan tingkat teknologi yang dimilikinya, membaginya menjadi tiga kelompok besar: praindustri, industri, dan pascaindustri.
Pembagian ini dapat bervariasi tergantung pada tingkat perkembangan teknologi, komunikasi, dan struktur ekonomi. Salah satu contoh klasifikasi ini diberikan oleh sosiolog Gerhard Lenski, yang membedakan masyarakat menjadi: (1) pemburu-pengumpul; (2) hortikultural; (3) agraris; dan (4) industri. Dia juga menambahkan jenis masyarakat yang lebih spesifik, seperti masyarakat nelayan atau penggembala.
Beberapa budaya telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu menuju bentuk organisasi dan pengendalian yang lebih kompleks. Proses evolusi budaya ini sangat mempengaruhi pola kehidupan komunitas. Misalnya, suku pemburu-pengumpul pada suatu waktu menetap di sekitar sumber pangan musiman dan berubah menjadi desa-desa agraris. Desa-desa ini kemudian berkembang menjadi kota kecil, dan akhirnya menjadi kota besar. Kota-kota tersebut berkembang menjadi negara kota, dan kemudian negara bangsa. Namun, evolusi ini tidak selalu berjalan secara linear dan searah.
Praindustri Masyarakat praindustri
Dalam masyarakat praindustri, produksi pangan menjadi kegiatan ekonomi utama yang bergantung pada tenaga manusia dan hewan. Masyarakat ini dapat dibedakan berdasarkan tingkat teknologi dan cara mereka memproduksi makanan. Klasifikasi ini mencakup masyarakat pemburu-pengumpul, pastoral, hortikultural, dan agraris.
Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Dalam masyarakat pemburu-pengumpul, produksi pangan terutama melibatkan pengumpulan tumbuhan liar harian dan perburuan hewan liar. Mereka sering berpindah tempat untuk mencari makanan dan umumnya membentuk kelompok kecil seperti gerombolan atau suku. Keputusan dalam kelompok ini diambil melalui konsensus dengan kepemimpinan yang didasarkan pada kualitas pribadi. Masyarakat ini memiliki waktu luang yang relatif banyak, meskipun ada debat mengenai tingginya tingkat kematian dan peperangan antarkelompok.
Pastoral
Masyarakat pastoral bergantung pada hewan ternak untuk kebutuhan pangan mereka dan hidup sebagai nomaden, memindahkan kawanan ternak mereka sesuai musim. Mereka bisa terdiri dari banyak komunitas kecil yang membentuk satu kesatuan yang lebih besar. Masyarakat pastoral cenderung memiliki surplus pangan, yang menyebabkan pembagian kerja yang semakin terspesialisasi dan tingkat ketimpangan sosial yang tinggi.
Hortikultural
Masyarakat hortikultural mengandalkan buah-buahan dan sayur-sayuran yang ditanam di kebun mereka. Mereka mulai muncul setelah Revolusi Pertanian, yang memungkinkan mereka menanam tanaman secara sistematis. Dengan sistem rotasi kebun, mereka dapat bertahan di satu wilayah dalam jangka waktu yang lama. Masyarakat hortikultural memiliki pembagian kerja yang kompleks dan menghasilkan beragam artefak budaya.
Agraris
Masyarakat agraris menggunakan teknologi pertanian untuk menanam tanaman di lahan yang luas. Mereka memiliki komunitas yang jauh lebih besar daripada masyarakat hortikultural, dengan keberadaan kota-kota yang berkembang menjadi pusat perdagangan. Masyarakat agraris dikenal karena ketimpangan kelas sosial yang tajam serta mobilitas sosial yang kaku. Sistem stratifikasi sosial didasarkan pada kepemilikan tanah, dengan strata pemilik tanah yang menggabungkan lembaga pemerintahan, keagamaan, dan militer untuk melegitimasi kekuasaan mereka.
Budaya industri, yang muncul selama abad ke-18 bersamaan dengan Revolusi Industri, sangat bergantung pada mesin yang didukung oleh sumber energi eksternal untuk memproduksi barang konsumsi secara massal. Jika di zaman pra-industri sebagian besar tenaga kerja terfokus pada sektor primer yang berfokus pada ekstraksi bahan mentah, maka di zaman industri, tenaga kerja lebih banyak diarahkan pada pengolahan bahan mentah menjadi produk jadi. Masyarakat modern saat ini menunjukkan tingkat industrialisasi yang beragam, dari yang sepenuhnya bergantung pada sumber energi baru seperti batu bara dan minyak bumi, hingga yang masih mengandalkan tenaga manusia dan hewan.
Proses industrialisasi berkaitan erat dengan pertumbuhan populasi dan perkembangan kota. Produktivitas yang meningkat, serta sistem transportasi yang lebih baik, menyebabkan penurunan angka kematian dan pertumbuhan penduduk. Produksi yang terpusat di pabrik juga memicu urbanisasi, dengan mengurangi tenaga kerja di bidang pertanian. Masyarakat industri cenderung kapitalistik, dengan tingkat ketimpangan sosial yang tinggi namun juga memberikan peluang mobilitas sosial yang besar. Kondisi kerja di pabrik biasanya keras, sehingga serikat buruh sering kali dibentuk untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan pekerja.
Secara keseluruhan, masyarakat industri ditandai oleh peningkatan kekuasaan manusia atas alam dan lingkungannya. Kemajuan teknologi memperluas kemampuan manusia, termasuk dalam bidang peperangan yang semakin mematikan. Pemerintah juga memanfaatkan teknologi informasi untuk mengendalikan masyarakat, namun dampak negatif terhadap lingkungan juga semakin meningkat.
Masyarakat pascaindustri, di sisi lain, ditandai oleh dominasi sektor informasi dan jasa daripada produksi barang. Industri jasa seperti pendidikan, kesehatan, dan keuangan menjadi fokus utama dalam masyarakat industri maju.
Masyarakat informasi adalah bentuk masyarakat di mana informasi menjadi sangat penting dan mendominasi segala aspek kehidupan. Teknologi informasi telah memengaruhi semua bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya, termasuk kehidupan sehari-hari, dunia kerja, pendidikan, pemerintahan, dan komunitas sosial di dunia maya. Konsep masyarakat informasi telah diperdebatkan sejak tahun 1930-an, namun saat ini lebih terkait dengan dampak teknologi informasi terhadap kehidupan dan budaya manusia.
Pengetahuan
Pada awal abad ke-21, dengan semakin mudahnya akses ke sumber daya informasi elektronik, perhatian masyarakat mulai beralih dari konsep masyarakat informasi ke gagasan masyarakat pengetahuan. Masyarakat pengetahuan adalah jenis masyarakat yang mampu menciptakan, berbagi, dan menyediakan pengetahuan bagi seluruh anggotanya, sehingga pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Masyarakat pengetahuan berbeda dari masyarakat informasi karena bukan hanya menciptakan dan menyebarkan data mentah, tetapi juga mengubah informasi menjadi sumber daya yang memungkinkan masyarakat untuk bertindak secara efektif.
Karakteristik Norma dan Peran
Norma sosial adalah standar perilaku yang dianggap dapat diterima bersama oleh suatu kelompok masyarakat. Norma sosial dapat berupa kesepakatan tak tertulis yang mengatur perilaku anggota masyarakat, atau dapat juga dijadikan aturan dan hukum formal. Norma-norma ini sangat memengaruhi perilaku manusia dan menjadi dasar keteraturan sosial.
Peran sosial adalah himpunan norma, kewajiban, dan pola perilaku yang terkait dengan status sosial seseorang. Dalam pandangan fungsionalis, individu membentuk struktur masyarakat dengan mengemban berbagai peran sosial. Sementara menurut teori interaksionisme simbolik, individu menggunakan simbol untuk menavigasi dan mengomunikasikan peran-peran tersebut. Goffman, dengan metafora teater, mengembangkan kerangka dramaturgis yang menyatakan bahwa peran sosial memberikan "naskah" bagi interaksi sosial.
Gender dan Kekerabatan
Pembagian manusia ke dalam peran gender laki-laki dan perempuan secara kultural ditandai oleh pemisahan norma, praktik, pakaian, perilaku, hak, kewajiban, keistimewaan, status, dan kekuasaan yang bersesuaian. Sebagian berpendapat bahwa peran gender muncul dari perbedaan biologis antara jenis kelamin, yang kemudian memengaruhi pembagian kerja. Namun, peran gender telah mengalami banyak perubahan sepanjang sejarah.
Kekerabatan mengatur berbagai jenis hubungan sosial berdasarkan relasi antara orang tua, anak, dan keturunan (darah), serta hubungan melalui pernikahan. Hubungan-hubungan ini, yang ditentukan secara kultural, disebut kekerabatan. Kekerabatan merupakan prinsip pengorganisasian sosial yang penting dan berperan dalam pewarisan status serta warisan. Setiap masyarakat memiliki aturan mengenai larangan inses, yang melarang pernikahan antara kerabat tertentu, atau aturan yang menganjurkan pernikahan dengan kerabat tertentu yang sesuai.
Etnisitas
Kelompok etnis manusia adalah kategori sosial yang mengidentifikasi diri mereka sebagai satu kesatuan berdasarkan atribut bersama yang membedakan mereka dari kelompok lain. Atribut ini bisa berupa tradisi, leluhur, bahasa, sejarah, masyarakat, kebudayaan, kebangsaan, agama, atau perlakuan sosial di wilayah tempat tinggal mereka. Tidak ada definisi universal yang disepakati mengenai kelompok etnis, dan manusia memiliki kemampuan untuk mengubah afiliasi sosial mereka dengan mudah, termasuk meninggalkan kelompok yang sebelumnya terikat erat jika dianggap menguntungkan secara pribadi.
Etnisitas berbeda dari konsep ras, yang berdasarkan pada ciri-ciri fisik, meskipun keduanya merupakan konstruksi sosial. Penetapan etnisitas bagi suatu populasi sering kali kompleks, karena dalam satu kelompok etnis dapat terdapat berbagai subkelompok yang beragam, dan susunan internal kelompok tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu, baik pada tingkat kolektif maupun individu.
Klasifikasi etnis memainkan peran penting dalam pembentukan identitas sosial dan solidaritas kelompok etnopolitik. Identitas etnis juga berkaitan erat dengan munculnya negara-bangsa sebagai bentuk organisasi politik dominan pada abad ke-19 dan ke-20.
Pemerintahan dan Politik
Pemerintahan membentuk hukum dan kebijakan yang memengaruhi masyarakat di bawah kekuasaannya. Sepanjang sejarah manusia, telah ada berbagai bentuk pemerintahan dengan sistem distribusi kekuasaan yang beragam, serta tingkat dan cara pengendalian penduduk yang berbeda. Dalam sejarah awal, penyebaran kekuasaan politik sering ditentukan oleh ketersediaan air tawar, kesuburan tanah, dan iklim di suatu wilayah. Dengan berkembangnya populasi pertanian yang membentuk komunitas lebih besar dan padat, interaksi antarkelompok meningkat, mendorong munculnya bentuk-bentuk pemerintahan yang lebih kompleks baik di dalam maupun di antara komunitas tersebut.
Hingga 2022, menurut The Economist, 43% pemerintahan nasional di dunia merupakan demokrasi, 35% adalah autokrasi, dan 22% memiliki campuran keduanya. Banyak negara membentuk organisasi politik internasional dan aliansi, dengan yang terbesar adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki 193 negara anggota.
Perdagangan dan Ekonomi
Perdagangan, yaitu pertukaran barang dan jasa secara sukarela, telah lama menjadi bagian dari masyarakat manusia, dan dianggap sebagai salah satu ciri khas yang membedakan manusia dari hewan lainnya. Perdagangan bahkan disebut-sebut sebagai praktik yang memberi Homo sapiens keunggulan besar atas spesies manusia lainnya; bukti arkeologis menunjukkan bahwa H. sapiens awal telah memanfaatkan jaringan perdagangan jarak jauh untuk menukar barang dan gagasan, yang pada gilirannya memicu ledakan budaya serta menyediakan sumber pangan tambahan ketika perburuan menurun. Jaringan perdagangan semacam itu tidak ditemukan pada Neanderthal yang kini telah punah. Perdagangan pada masa awal melibatkan pertukaran bahan-bahan untuk membuat alat, seperti obsidian, yang ditukar dalam jarak pendek.
Sebaliknya, sepanjang zaman kuno dan abad pertengahan, beberapa jalur perdagangan jarak jauh paling berpengaruh membawa bahan pangan dan barang mewah, seperti dalam perdagangan rempah. Perekonomian manusia pada masa awal kemungkinan lebih didasarkan pada ekonomi hadiah dibandingkan dengan sistem barter. Bentuk uang paling awal berupa uang komoditas; yang tertua berupa ternak, sedangkan yang paling luas digunakan adalah kerang Monetaria moneta. Seiring waktu, uang berkembang menjadi koin yang dikeluarkan pemerintah, uang kertas, dan kemudian uang elektronik. Kajian manusia tentang ekonomi merupakan ilmu sosial yang mempelajari bagaimana masyarakat mengalokasikan sumber daya yang terbatas di antara berbagai individu. Terdapat ketimpangan yang sangat besar dalam distribusi kekayaan di antara umat manusia; pada tahun 2018, di Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat, sepersepuluh penduduk terkaya menguasai lebih dari tujuh persepuluh total kekayaan di wilayah masing-masing.
Kecenderungan manusia untuk terlibat dalam konflik bersenjata dan perang telah lama menjadi topik perdebatan yang menarik. Ada pandangan yang mengatakan bahwa perang merupakan bagian dari evolusi manusia sebagai cara untuk menyingkirkan pesaing, serta bahwa kekerasan sebenarnya merupakan sifat bawaan manusia. Manusia diketahui melakukan kekerasan terhadap sesama dengan tingkat yang sebanding dengan primata lain, meskipun dalam hal membunuh sesama dewasa dan tingkat pembunuhan bayi, manusia memiliki tingkat yang lebih rendah.
Namun, ada pandangan lain yang menyatakan bahwa perang sebenarnya adalah fenomena relatif baru dalam sejarah manusia, muncul sebagai akibat dari perubahan sosial yang terjadi. Meskipun belum ada konsensus yang pasti, bukti yang ada menunjukkan bahwa perilaku mirip perang baru mulai menjadi umum sekitar 10.000 tahun yang lalu, dan di beberapa wilayah bahkan lebih baru dari itu.
Dari segi analisis filogenetik, diperkirakan sekitar 2% dari seluruh kematian manusia disebabkan oleh pembunuhan, angka yang hampir sama dengan tingkat pembunuhan pada masyarakat pemburu-pengumpul. Namun, tingkat kekerasan dapat bervariasi luas tergantung pada norma sosial dan pada masyarakat yang memiliki sistem hukum serta budaya yang menentang kekerasan, tingkat pembunuhan justru menjadi sangat rendah, sekitar 0,01%.



0 comments:
Posting Komentar