Rabu, 12 November 2025

Bangsa

Posted By: Aa channel media - November 12, 2025

Bangsa adalah sebuah kelompok manusia yang memiliki identitas bersama, kesamaan bahasa, ideologi, budaya, sejarah, dan tujuan. Mereka dianggap memiliki asal-usul keturunan yang sama dan merupakan komunitas politik-budaya yang sadar akan otonomi, persatuan, dan kesamaan kepentingan. Sebuah bangsa juga bisa dianggap sebagai komunitas terbayang atau abstrak, di mana anggotanya mungkin tidak saling kenal satu sama lain namun tetap merasa sebagai bagian dari kesatuan yang lebih besar. Meskipun ada yang tidak percaya bahwa bangsa itu nyata, namun bangsa tetap eksis dalam pikiran bersama masyarakat. Hanya jika banyak orang yang sepakat bahwa bangsa tidak ada, baru bangsa itu benar-benar lenyap.

Definisi bangsa menurut para ahli.

  • Menurut Ernest Renan (Prancis)
  • Bangsa adalah kelompok manusia yang terikat oleh ikatan batin karena memiliki sejarah yang sama dan cita-cita yang serupa.
  • Menurut Otto Bauer (Jerman)
  • Bangsa adalah kelompok manusia yang memiliki karakter yang sama karena berbagi nasib dan pengalaman sejarah budaya yang tumbuh bersama.
  • Menurut Ben Anderson
  • Bangsa adalah komunitas politik yang dibayangkan berada dalam wilayah dengan batas yang jelas dan berdaulat.
  • Menurut Hans Kohn
  • Bangsa terbentuk karena adanya persamaan ras, bahasa, adat istiadat, dan agama yang menjadi pembeda di antara bangsa-bangsa lainnya.Etimologi dan Terminologi
  • Asal-usul kata "bangsa" pertama kali berasal dari bahasa Perancis Kuno, yaitu nacion, yang berarti tempat kelahiran, dan kemudian diambil dari bahasa Latin, natio, yang secara harfiah berarti kelahiran.

Menurut Kamus Hukum Black, bangsa dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Bangsa adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan asal, bahasa, dan tradisi, yang membentuk entitas politik. Ketika sebuah bangsa berdampingan dengan negara, mereka disebut sebagai negara bangsa atau bangsa dan negara.
  • Sebuah himpunan manusia yang tinggal di wilayah tertentu dan diatur di bawah pemerintahan independen, disebut sebagai negara yang memiliki kedaulatan politik.


Kata "bangsa" kadang-kadang digunakan sebagai sinonim untuk:

Negara (pemerintahan) atau Negara Berdaulat: suatu pemerintahan yang mengendalikan wilayah tertentu, yang mungkin terkait dengan kelompok etnis tertentu atau tidak.
Negara: wilayah geografis yang mungkin memiliki kaitan dengan pemerintah atau kelompok etnis.

Oleh karena itu, frasa "bangsa-bangsa di dunia" dapat merujuk pada pemerintahan tertinggi (seperti PBB), berbagai wilayah geografis yang luas, atau kelompok etnis yang besar. Bergantung pada konteks penggunaan kata "bangsa", istilah "Negara Kebangsaan" dapat digunakan untuk membedakan wilayah negara yang lebih besar dari kota di dalamnya, atau negara yang terdiri dari berbagai kelompok etnis.

Bangsa Abad Pertengahan
Dalam buku yang berjudul Kerajaan dan Komunitas di Eropa Barat 900-1300, Susan Reynolds mencatat bahwa banyak kerajaan di Eropa abad pertengahan dapat dianggap sebagai bangsa-bangsa yang sudah modern. Adrian Hastings, dalam karya yang berjudul Pembangunan Nasionalisme: Etnisitas, Agama, dan Nasionalisme, menyebutkan bahwa Raja Anglo-Saxon Inggris memobilisasi rakyatnya dalam menghadapi invasi Norse. Dia berpendapat bahwa Alfred yang Agung, terutama dalam konteks nasionalisme biblikal, menggunakan bahasa Alkitab dalam hukum dan menerjemahkan kitab suci ke Bahasa Inggris Kuno untuk membangkitkan semangat kebangsaan Inggris melawan penjajah Norse. Hastings juga menyatakan bahwa pembaruan nasionalisme Inggris dimulai dengan peristiwa Alkitab Wycliffe, yang mengokohkan nasionalisme Inggris dan identitas bangsa Inggris sejak saat itu.

Salah satu contoh lain dari bangsa abad pertengahan adalah Deklarasi Arbroath, sebuah dokumen yang ditulis oleh bangsawan dan klerus Skotlandia selama Perang Kemerdekaan Skotlandia. Dokumen ini bertujuan untuk menunjukkan kepada Paus bahwa Skotlandia adalah sebuah bangsa yang mandiri, dengan budaya, sejarah, dan bahasa yang unik, serta lebih tua dari Inggris. Deklarasi tersebut membenarkan tindakan Robert Bruce dan pasukannya dalam menentang penjajahan dan menegaskan kemerdekaan Skotlandia dari kekuasaan Inggris. Dokumen ini dianggap sebagai awal dari nasionalisme Skotlandia dan konsep kedaulatan rakyat.

Menurut Anthony Kaldellis dalam Hellenism in Byzantium (2008), Kekaisaran Romawi Timur juga merupakan negara kebangsaan yang berkembang dalam abad pertengahan.

Azar Gat, bersama dengan banyak sarjana lainnya, berpendapat bahwa Cina, Korea, dan Jepang juga dapat dianggap sebagai bangsa-bangsa pada Abad Pertengahan Eropa.

Penggunaan istilah nationes oleh universitas abad pertengahan dan institusi abad pertengahan lainnya dimulai sebagai cara untuk mendefinisikan kelompok-kelompok pelajar berdasarkan asal mereka, bahasa yang mereka gunakan, dan hukum yang mereka ikuti. Di Universitas Paris, natio digunakan untuk merujuk kepada rekan-rekan kolega yang terlahir dalam upah yang sama dan diprediksi akan memerintah di masa depan. Pada abad ke-14, Jean Gerson terpilih sebagai jaksa bagi natio dari Perancis selama studi teologinya di Paris. Sementara itu, Universitas Charles di Praha mengadopsi pembagian pelajar menjadi nationes yang terdiri dari unsur-unsur Bohemian, Bavarian, Saxon, dan Silesian.

Di luar lingkungan universitas, Kesatria Hospitaller juga menggunakan konsep nationes untuk menyediakan tempat tinggal bagi orang asing di Rodos. Setiap nation diatur secara terpisah dan diurus oleh seorang Kesatria, yang memastikan kebutuhan penghuninya sesuai dengan agama mereka.

Perkembangan lebih lanjut terjadi pada masa modern, dimana konsep bangsa modern pertama kali terbentuk. Philip S. Gorski berpendapat bahwa Republik Belanda merupakan bangsa modern pertama yang dibangun berdasarkan politik nasionalisme modern yang bersumber dari nasionalisme biblikal. Diana Muir Appelbaum dan Anthony D. Smith juga menyebutkan bahwa bangsa baru, terutama yang Protestan, mulai muncul pada abad keenam belas.

Liah Greenfeld menambahkan bahwa nasionalisme pertama kali ditemukan di Inggris pada tahun 1600, menjadikannya sebagai bangsa pertama yang ada di dunia. Ini menunjukkan bagaimana konsep nationes dan bangsa telah berkembang dari masa ke masa, memengaruhi identitas dan pemikiran kolektif masyarakat.

Pada akhir abad ke-20, banyak pakar ilmu sosial berdebat mengenai dua tipe bangsa, yaitu nasionalisme sipil seperti Perancis dan nasionalisme etnis seperti Jerman. Tradisi warga Jerman didefinisikan oleh filsuf abad ke-19 seperti Johann Gottlieb Fichte, yang menekankan kesamaan bahasa, agama, budaya, sejarah, dan etnis sebagai pembeda dari bangsa lain. Ini adalah pandangan yang juga dipegang oleh Ernest Renan.

Analisis modern cenderung memperhatikan pembangunan sentimen identitas nasional dari sudut pandang sosio-sejarah, mencoba mengidentifikasi individu dan mekanisme kolektif yang sadar atau tidak sadar, disengaja atau tidak. Menurut beberapa studi, Negara seringkali memainkan peran penting dalam hal ini, dan komunikasi, terutama dalam konteks ekonomi, juga memiliki signifikansi yang tinggi.

Saat ini, sedang terjadi debat mengenai masa depan bangsa, apakah kerangka kerja yang ada akan tetap relevan atau apakah ada alternatif lain yang dapat dikembangkan. Teori benturan peradaban bertentangan dengan pandangan kosmopolitan yang melihat dunia semakin terhubung dan tidak lagi membutuhkan negara. Menurut Samuel Huntington, identitas budaya dan agama akan menjadi sumber konflik utama di era pasca-Perang Dingin.

Huntington mulai merumuskan teorinya setelah melakukan survei mengenai politik global pasca-Perang Dingin. Beberapa ahli teori berpendapat bahwa hak asasi manusia, demokrasi liberal, dan ekonomi pasar bebas adalah satu-satunya ideologi tersisa bagi negara-negara dunia pasca-Perang Dingin. Namun, Huntington percaya bahwa konflik di masa depan akan lebih berkaitan dengan budaya dan agama.

Pascanasionalisme adalah tren di mana negara kebangsaan dan identitas nasional kehilangan daya tariknya terhadap entitas global. Faktor-faktor seperti globalisasi ekonomi, kepentingan perusahaan multinasional, dan teknologi informasi baru seperti Internet mendukung tren ini. Meskipun begitu, keterkaitan dengan kewarganegaraan dan identitas nasional tetap penting.

Menurut Jan Zielonka dari University of Oxford, masa depan politik akan menyerupai model abad pertengahan dengan otoritas yang tumpang tindih, kedaulatan terbagi, berbagai identitas, dan batas yang kabur. Ini menandakan pergeseran dari model Westphalian ke neo-medievalisme.

Faktor-faktor yang membentuk suatu bangsa sangat terkait dengan identitas yang menyatukan masyarakat. Beberapa faktor tersebut meliputi:

1. Aspek Primordial, yang mencakup ikatan kekerabatan, kesamaan suku bangsa, daerah, bahasa, dan adat istiadat.

2. Faktor Sakral, yang melibatkan kesamaan agama yang dianut oleh masyarakat dan bagaimana agama dapat membentuk ideologi doktrin yang kuat yang mempersatukan masyarakat.

3. Peran Tokoh, yang menjadi panutan bagi masyarakat dalam mewujudkan misi-misi bangsa.

4. Sejarah, yang juga memainkan peran penting dalam pembentukan bangsa karena pengalaman masa lalu dan penderitaan akan melahirkan solidaritas yang memungkinkan terbentuknya tekad dan tujuan bersama.

5. Perkembangan Ekonomi, yang juga merupakan faktor penting dalam pembentukan bangsa karena semakin meningkatnya perkembangan ekonomi, semakin beragam kebutuhan masyarakat sehingga mendorong mereka untuk saling bergantung dan akhirnya ingin membentuk satu kesatuan bangsa untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain. 


 

0 comments:

Posting Komentar