Benda padat berubah menjadi gas, atau dalam dunia perkuliahan sering disebut sebagai fenomena mahasiswa yang sering menguap di ruang kuliah. Hal ini sering terjadi pada mahasiswa yang merasa bosan dengan sistem perkuliahan yang harus dihadiri, demi menyelesaikan ujian akademik. Ada beberapa alasan mengapa mahasiswa merasa jenuh dengan perkuliahan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, alasan-alasan tersebut antara lain suara dosen yang monoton, metode pengajaran yang membosankan, topik yang kurang menarik minat mahasiswa, atau mungkin karena mahasiswa tersebut sedang lapar sehingga sulit fokus. Ketika kewajiban hadir ke perkuliahan terasa begitu berat, mahasiswa sering merasa terpaksa dan hal ini dapat memengaruhi jalannya perkuliahan secara keseluruhan.
Untuk mengatasi rasa jenuh tersebut, mahasiswa dapat mencoba berbagai cara. Mereka bisa mencari cara untuk tetap fokus dan memperhatikan materi perkuliahan, mencoba berinteraksi dengan dosen atau teman sekelas, atau bahkan mencari sumber inspirasi baru untuk menumbuhkan minat pada topik yang diajarkan. Dengan semangat dan tekad yang kuat, mahasiswa dapat mengubah situasi yang tidak menguntungkan menjadi peluang untuk berkembang dan belajar.
Apa saja tips praktis bagi mahasiswa yang merasa jenuh tetapi merasa terjebak di dalam kelas? Tips ini lebih fokus pada menggali hal-hal yang kreatif, bukan untuk mendorong mahasiswa untuk bolos kuliah. Memang, bolos kuliah berarti melarikan diri dari masalah dan juga menghilangkan kesempatan untuk berpikir kreatif.
Pertama-tama, mahasiswa perlu mengenal karakteristik dosennya, terutama kebiasaan dalam memberikan tugas kuliah. Jika dosen tersebut sering memberikan tugas, maka mahasiswa harus menyelesaikan tugas tersebut tepat waktu. Jika tugas tidak sempat dikerjakan, mahasiswa bisa mencoba mengerjakannya di kelas saat dosen yang membosankan memberikan kuliah. Namun, masalah timbul ketika tugas harus dikumpulkan dalam format tertentu dan kelas tidak dilengkapi dengan printer. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa bisa mencoba mengerjakan tugas di laptop selama kuliah berlangsung. Setelah kuliah selesai, mahasiswa bisa meminta izin kepada dosen untuk sedikit waktu tambahan guna mencetak tugas di warnet atau rental komputer terdekat. Tentu saja, hal ini membutuhkan mahasiswa untuk memiliki laptop sendiri. Jika tidak ada laptop, masih ada kiat-kiat lain yang bisa dicoba.
Kiat kedua, penting bagi mahasiswa untuk mengamati kebiasaan dosen saat mengajar. Apakah dosen tersebut sering bergerak-gerak ke sana kemari saat mengajar? Jika iya, maka mahasiswa mungkin tidak bisa memanfaatkan waktu perkuliahan dengan baik, misalnya untuk mengerjakan tugas, membaca buku, atau browsing internet. Beberapa dosen mungkin melakukan hal tersebut dengan tujuan agar lebih disukai oleh mahasiswa, membuat suasana kelas lebih hidup, atau mencegah mahasiswa tidur di kelas. Ada juga dosen yang mungkin agak aneh, seperti memeriksa tulisan mahasiswa secara detail. Jika menemui dosen seperti ini, mahasiswa harus tetap fokus dan mencatat semua yang disampaikan dosen.
Kiat ketiga, mahasiswa sebaiknya mencari informasi yang akurat mengenai buku referensi yang digunakan dosen. Beberapa dosen mungkin memilih buku yang sama setiap tahun, sehingga materi kuliah terasa monoton. Jika menghadapi dosen seperti ini, mahasiswa perlu mencari catatan dari senior atau mencari materi sendiri untuk membantu mengikuti perkuliahan. Jika dosen menggunakan literatur berbahasa asing namun materi yang disampaikan berbeda, mahasiswa perlu ekstra hati-hati dan tetap fokus. Jadi, yang terbaik adalah tetap tenang, gunakan permen kopiko jika perlu, dan jangan lupa untuk mencatat semua yang dosen sampaikan.
Sehubungan dengan kiat ketiga di atas, mungkin terjadi situasi di mana mahasiswa harus berurusan dengan dosen yang kurang kompeten. Dalam usahanya untuk terlihat cerdas, dosen tersebut seringkali menunjukkan buku referensi berbahasa asing yang tebal, agar mahasiswa merasa takut dan hormat padanya. Namun, berdasarkan pengalaman dari mahasiswa senior, materi yang disajikan oleh dosen tersebut selalu baru dan tidak disalin, serta ia tidak menyembunyikan buku referensi berbahasa Indonesia. Untuk mengatasi dosen yang kurang kompeten ini, mahasiswa dapat mencari buku referensi yang digunakan oleh dosen tersebut. Buku tersebut seringkali tidak tersedia di perpustakaan, sehingga mahasiswa dapat mencoba meminjam langsung dari dosen untuk kemudian dicopy. Usahakan untuk memahami isi buku tersebut dengan membaca bagian awal dan langsung pada kesimpulannya. Cara ini dapat membantu mempercepat pemahaman terhadap buku referensi berbahasa asing. Jangan merasa takut terlebih dahulu, karena dosen yang kurang kompeten ini seringkali lebih cepat dalam memahami materi hanya dalam satu malam dibandingkan dengan mahasiswa. Kiat ini dapat diterapkan terutama jika mahasiswa memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup. Namun, jika kemampuan bahasa asing terbatas, mahasiswa dapat mencoba untuk tetap fokus dengan mengedipkan mata atau mengulum permen kopiko sepanjang perkuliahan berlangsung.
Kiat keempat berkaitan dengan dosen yang cenderung membuat mahasiswa menjadi terlena, tidak memperhatikan kehadiran mahasiswa, kurang komunikatif, menyajikan materi kuliah yang sulit, dan menilai sangat ketat. Menghadapi dosen yang unik ini, satu-satunya cara adalah mengisi daftar hadir perkuliahan dan segera keluar dari ruang kuliah. Tidak ada gunanya hadir dalam perkuliahan yang membosankan tersebut. Kiat ini harus diimbangi dengan usaha keras mahasiswa untuk mendapatkan catatan kuliah yang lengkap atau mencari bantuan dari tentor (guru les) yang dapat menjelaskan materi kuliah dengan lebih mudah. Mencari bantuan dari tentor merupakan langkah penting bagi mahasiswa yang berurusan dengan dosen yang unik ini.
Bagaimanapun caranya, mahasiswa harus siap untuk beradaptasi dengan situasi yang mungkin membosankan di kelas. Kesiapan untuk berubah akan membuka pintu bagi ide-ide kreatif yang menarik. Selamat mencoba untuk menggali karakteristik dosen di tempat Anda belajar!







0 comments:
Posting Komentar